Jumat, April 23, 2021

Degradasi Moral Pelajar Masa Kini, Refleksi Masa Depan Bangsa?

Mr Kasman Singodimedjo “Singa Pelobi” Muhammadiyah

Sepadan dengan namanya, Mr Kasman Singodimedjo dikenal sebagai ‘Singa Pelobi’ ulung, “penyelamat” Republik ini yang nyaris tidak jadi lahir karena perpecahan di BPUPKI terhadap...

Mendadak Ahli dalam Segala Bidang

Jujur saja, ada kebanggaan dalam hati melihat perkembangan kecerdasan manusia Indonesia. Belakangan, kebanyakan manusia Indonesia terlampau cerdas, yang imbasnya adalah tanggap dalam menanggapi segala...

Pulanglah ke Nusantara

Pulang dari bahasa sehari-hari yang di gunakan berarti memiliki makna 'Kembali'.Kembali ke Nusantara menurut saya adalah kembali kepada ajaran Nusantara yang ramah tamah, santun,...

Telaah “Asal-Usul” Tindakan Bos First Travel

Sahabat saya yang seorang essais muda, yakni Khudori Husnan, di dalam calistoeng.blogspot.com, mengulas soal kehidupan pencitraan akut sejoli yang tengah menjadi hot issue belakangan...
Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.

Di era globalisasi saat ini yang segala sesuatunya manusia selalu mengandalkan teknologi merubah pola hidup masyarakat secara global. Tentunya ini sangat merubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat, mulai dari sistem ekonomi, politik, kesehatan, hingga pendidikan.

Sehingga pelajar masa kini yang tumbuh dan berkembang di era globalisasi ini terpengaruh dengan adanya perubahan di lingkungannya yang membuat generasi masa kini berbeda dengan generasi sebelum-sebelumnya, mulai dari segi perilaku, moralitas, dan lingkungan yang memiliki pengaruh besar kepada generasi yang tumbuh pada masa kini.

Disamping banyak hal yang positif akibat era globalisasi ini, juga banyak hal negatif yang harus dihindari dan diseleksi karena tidak sesuai dengan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Oleh karena itu, pendidikan sebagai media edukasi dan pemahaman kepada para generasi millenial perlu ditanamkan lebih dalam menyikapi perubahan-perubahan yang ada di lingkungan, karena apabila era globalisasi ini tidak disikapi dengan benar, maka akan mulai muncul masalah-masalah baru yang dapat merubah karakter generasi saat ini salah satunya seperti menurunnya moralitas generasi muda khususnya pelajar.

Berbicara mengenai moral, pasti lekat kaitannya dengan budaya dan adab yang sudah berkembang turun temurun di negara ini. Para leluhur kita menjaga budaya dan adab ini untuk menjadi indentitas bangsa ini, bahkan dunia pun sudah mengenal kita sebagai negara yang ramah dan santun.

Tetapi di era globalisasi ini, seakan-akan budaya dan adab itu semakin lama semakin luntur. Berkaca dari para generasi mudanya yang sudah tidak menjunjung tinggi budaya dan adab yang sering kali ditunjukkan dengan perbuatan-perbuatan negatif di kehidupan masyarakat.

Mengapa masyarakat kita sangat sensitif terkait permasalahan adab, budaya, dan moral? Karena moralitas di masyarakat sudah sebagai bentuk kesepakatan masyarakat mengenai apa yang layak dan apa yang tidak layak dilakukan, serta mempunyai sistem hukum sendiri.

Hampir semua lapisan masyarakat mempunyai suatu tatanan masing-masing, bahkan komunitas terkecil masyarakat kadang mempunyai moral/etika tersendiri dengan sistemnya sendiri. Tidak jarang hukuman bagi mereka yang melanggar moralitas, lebih kejam daripada hukuman yang dijatuhkan oleh institusi formal. Hukuman terberat dari seorang yang melanggar moralitas adalah beban psikologis yang terus menghantui, pengucilan dan pembatasan dari kehidupan yang ‘normal’.

Baru-baru ini sikap demoralisasi ditunjukkan oleh generasi-generasi muda bangsa kita, seorang pelajar SMP berinisial AA menantang berkelahi gurunya Nur Khalim (30). Kronologi sebelum kejadian tersebut ketika Nur Khalim menegur siswa berinisial AA yang merokok di dalam kelas, karena tidak terima ditegur oleh gurunya, AA menghampiri gurunya kemudian bersikap seperti siap berkelahi dengan gurunya.

Tentunya kejadian-kejadian seperti ini bukanlah hal yang patut dan baru di dunia pendidikan Indonesia, bahkan kejadian demoralisasi pelajar kepada gurunya hingga merenggut nyawa gurunya yang terjadi di Sampang, Madura.

Ketika itu, Ahmad Budi Cahyono, salah seorang guru kesenian SMA di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura sedang melaksanakan proses belajar mengajar. Selama proses belajar mengajar dilakukan, salah satu siswa berinisial HI tidak fokus mendengarkan pelajaran dan terus mengganggu teman-temannya yang sedang mengerjakan tugas kesenian.

Melihat hal itu, gurunya  langsung menegur siswa berinisial HI. Bukannya malah menghentikan perbuatannya, justru siswa HI ini semakin menjadi-jadi untuk mengganggu teman-temannya, karena murka maka gurunya memberikan coretan di wajahnya sebagai bentuk hukuman. Tidak terima karena wajahnya dicoret terjadi perkelahian yang menyebabkan gurunya terpukul.

Melihat hal itu, guru dan siswa lain mencoba untuk melerai, kemudian guru kesenian tersebut di bawa ke ruangan kepala sekolah dan diizinkan untuk pulang lebih dahulu. Setiba di rumah, korban mengeluh kesakitan di bagian leher. Beberapa saat kemudian korban tidak sadarkan diri, kemudian di rujuk ke RSUD dr. Soetomo. Menurut analisis dokter, pukulan tadi menyebabkan kematian pada batang otak yang menyebabkan nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

Tentunya dari contoh demoralisasi ini tidak boleh dibiarkan lagi terjadi di Indonesia, jangan sampai ada korban kekerasan hingga korban nyawa lagi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pemerintah harus merespon cepat kejadian ini. Perlunya ada penguatan khusus terkait hukum perlindungan bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Selain itu, harus ada perubahan metode pendidikan yang lebih memerhatikan masalah adab, budaya, dan moralitas siswa sehingga kejadian ini tidak terulang kembali.

Tentunya ini bukanlah tugas sekolah atau guru semata, tetapi ini tugas kita semua untuk memberikan lingkungan positif di lingkungan pergaulannya, kemudian memberi pendidikan dalam hal adab dan moral kepada siswa-siswa. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan para pemudanya, apabila pemudanya memiliki sikap yang tidak bermoral, mau jadi seperti apa bangsa ini di masa depan?

Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.