Rabu, April 21, 2021

Dedi-Deddy, Duet Penyabar Bakal Bikin Jabar Berkibar

Pajangan Itu Bernama Pancasila?

Indonesia adalah negara besar dan luas yang memliki banyak pulau-pulau dan suku-suku dari Sabang sampai Merauke. Dengan luasnya dan keberagamannya itu, Indonesia memiliki dasar...

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Sejarah Wabah?

Umat manusia saat ini sedang menghadapi tantangan besar dari makhluk yang super kecil, virus. Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) sedang merebak luas hampir di...

Dilema Hak Angket dalam Memberantas Korupsi

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan berbagai persoalan yang sangat sistemik. Persoalan ini, sangat menyita perhatian publik. Mulai dari ancamanan teruarai dari kebhinekaan dengan...

Malu-Malu dan Malu-Maluin dalam Bermedsos

Dalam al-Jami’ al-Ushul min Ahadits al-Rasul karya Ibn al-Atsir, Anas ibn Malik RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Cinta dunia adalah pangkal setiap dosa;...
Avatar
Hamzah Zaelani Mar'ie
Penulis, Mantan Ketua Umum HMI Purwakarta

Peta koalisi pilgub Jawa Barat 2018 terlihat semakin dinamis setiap harinya. Partai politik yang semula sudah sempat terlihat menyatu dalam koalisi dengan jagoan masing-masing dengan mudahnya bubar barisan dalam waktu sekejap.

Koalisi Zaman Now misalnya, yang terdiri dari Demokrat, PKS dan PAN dengan pasangan Demiz-Syaikhu hanya dalam sekejap kandas ketika Gerindra memunculkan Mayjen (Purn) Sudradjat dan menggoda PKS serta PAN untuk turut serta bergabung dalam koalisi.

Selain itu, Golkar pasca Munaslub yang sebelumnya mendukung RK kemudian berbalik arah memberikan dukungan kepada Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi untuk maju dalam kontestasi pilgub Jawa Barat 2018 nanti.

Bahkan, RK yang sudah memiliki tiket pencalonan dalam Pilgub dapat dikatakan belum aman karena ketiga partai pengusung belum selesai dalam menentukan pasangan pada kontestasi nanti. Sinyal ancaman juga dikeluarkan oleh Partai walaupun beberapa waktu terakhir mereka menyatakan koalisi tetap solid dan komunikasi sudah membaik.

Dinamisnya peta politik ini tentu saja membuat para bakal calon khawatir akan berbagai macam kemungkinan sebelum mereka secara legal mendaftarkan diri dalam kontestasi pada januari nanti. Dibutuhkan kerja keras dan kesabaran dalam berkomunikasi oleh para bakal calon menghadapi berbagai dinamika yang terjadi, sehingga mereka dapat melewati rintangan dalam perjalanan menuju kontestasi nanti.

Berbicara soal kesabaran, kiranya terdapat dua sosok bakal calon yang sejak awal menemukan beragam rintangan dan dituntut bersabar dalam perjuangannya, keduanya ialah Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar. Tak hanya memiliki nama yang hampir sama, namun ternyata proses perjuangan yang harus mereka lalui pun hampir serupa.

Bahkan, tak menutup kemungkinan kesamaan itu kemudian yang akan menyatukan keduanya menjadi pasangan yang berjuang dalam pertarungan menjadi pimpinan di Provinsi Jawa Barat 2018 nanti.

Bersatunya kedua tokoh ini memang sudah ramai sejak tadi malam. Sembari berfoto bersama, keduanya mendeklarasikan diri untuk bersatu dalam kontestasi dan jika tak ada halangan akan mendaftarkan diri tanggal 9 Januari nanti. Hal yang membuat menarik dari bersatunya kedua tokoh ini ialah mereka tak ingin dipusingkan terkait siapa yang menjadi Gubernur dan Wakilnya.

Berlandaskan pada tekad untuk mengabdikan diri pada masyarakat Jawa Barat, urusan posisi dikesampingkan terlebih dahulu demi terciptanya koalisi yang solid tanpa tawar menawar kursi. Mereka berdua sepertinya sadar, bahwa dalam berkoalisi, bukan kursi yang menjadi kunci, melainkan bersabar dalam berkomunikasi.

Jawa Barat sebagai provinsi yang luas dan memiliki penduduk dengan jumlah besar memang selayaknya dipimpin oleh tokoh yang penyabar. Karena bagaimanapun, bukan hal mudah menciptakan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa keuletan dan kesabaran dari pemimpinnya.

Lantas, jika sejak awal sudah terlihat karakter penyabar yang dimiliki oleh Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar ini, apakah dengan bersatunya kedua tokoh ini mampu membawa Jawa Barat semakin berkibar? Tentu saja hanya waktu yang kemudian akan membuktikan itu semua.

Seperti biasanya tulisan ini saya buat sembari menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok di tangan. Namun, karena sudah siang dan perut mulai keroncongan, sambil bersiap hendak mencari makan muncul sebuah tanya dalam pikiran,

Jika duet keduanya terjadi, dengan karakter penyabar dan saling melengkapi yang menciptakan pasangan Nyunda-Nyakola-Nyantri, lantas faktor apa lagi yang hendak menghalangi masyarakat Jawa Barat untuk tidak memilih keduanya sebagai Pemimpin Jawa Barat di 2018 nanti?

Avatar
Hamzah Zaelani Mar'ie
Penulis, Mantan Ketua Umum HMI Purwakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

“Alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan”, Zeno dari Elea yang juga diamini Parmenides (Dowden,...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

ARTIKEL TERPOPULER

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Menyambut Bulan Ramadhan dengan Penerapan Nilai-Nilai Pancasila

Bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari. Pemerintah akan segera menetapkan awal puasa 1 Ramadhan 1440 H. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia...

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.