Pada awal abad ke-20, dunia Islam diguncang oleh sebuah peristiwa besar: tumbangnya Kekhalifahan Turki Utsmani dan lahirnya Republik Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha, yang kelak dikenal dengan nama Atatürk — “Bapak Bangsa Turki.” Dari reruntuhan kekaisaran lama, ia menyalakan obor nasionalisme modern yang kemudian cahayanya menembus hingga ke Nusantara. Di tengah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme, kisah keberanian Mustafa Kemal menjadi inspirasi yang membangkitkan keyakinan bahwa bangsa Timur pun dapat bangkit sejajar dengan Barat.
Kebangkitan dari Reruntuhan Kekhalifahan
Mustafa Kemal muncul di tengah kekalahan Turki dalam Perang Dunia I. Saat para pemimpin Ottoman tunduk pada tekanan Barat melalui Perjanjian Sèvres (1920), Kemal tampil menolak. Ia menggerakkan rakyat Anatolia, memimpin perang kemerdekaan (1919–1923), dan mengusir pasukan sekutu dari tanah airnya. “Sovereignty belongs unconditionally to the nation,” serunya dalam Kongres Nasional di Ankara tahun 1920. Seruan itu — “Kedaulatan sepenuhnya milik bangsa” — menjadi semboyan Republik Turki yang lahir tiga tahun kemudian.
Kemenangan Mustafa Kemal meneguhkan sebuah prinsip baru: bangsa tidak harus tunduk pada tradisi lama atau penjajahan asing untuk berdiri tegak. Ia menolak sistem khalifah yang dianggapnya sudah kehilangan makna politis, dan menggantinya dengan konsep negara bangsa (nation-state) yang modern dan sekuler. Pada 1924, ia secara resmi menghapus lembaga Khilafah, sebuah langkah yang menggemparkan dunia Islam. Namun bagi Kemal, ini bukan pengkhianatan terhadap agama, melainkan langkah untuk menyelamatkan bangsa dari belenggu politik feodal. “My people are not the servants of sultans, but the citizens of a free nation,” katanya dalam salah satu pidatonya di Ankara tahun 1925.
Gema di Nusantara: Kebangkitan Nasionalisme Baru
Sementara itu, di Hindia Belanda, para pelajar dan pemimpin pergerakan nasional sedang mencari bentuk perjuangan yang sesuai dengan zamannya. Berita tentang Mustafa Kemal dan lahirnya Republik Turki tersebar luas melalui surat kabar, majalah, dan pelajar yang kembali dari Timur Tengah. Majalah Pandji Islam dan Tjahaja Timur memuat kabar tentang “Ankara yang bangkit,” dan tokoh-tokoh muda seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan Natsir mengikuti dengan penuh perhatian.
Bagi kaum nasionalis seperti Soekarno, Mustafa Kemal adalah bukti nyata bahwa bangsa Timur bisa merdeka dengan kekuatannya sendiri. Dalam tulisannya “Mentjapai Indonesia Merdeka” (1933), Soekarno menulis,
“Bangsa Turki yang lama diperhamba, kini telah berdiri tegak di bawah pimpinan seorang Mustafa Kemal. Mereka menolak belenggu dan berkata kepada Barat: kami bukan budakmu lagi.”
Soekarno melihat dalam sosok Kemal semangat “zelfvertrouwen” — percaya pada diri sendiri — yang juga ia tanamkan kepada rakyat Indonesia. Nasionalisme yang berakar pada harga diri dan kemandirian menjadi inti perjuangan melawan kolonialisme. Bahkan dalam pidato di Bandung tahun 1930-an, Soekarno pernah berkata,
“Apa yang telah dilakukan Mustafa Kemal di Turki, itulah yang harus kita lakukan di Indonesia: membangunkan bangsa yang tidur dan menghapus kepercayaan bahwa kita dilahirkan untuk dijajah.”
Resonansi di Kalangan Islamis dan Reformis
Namun pengaruh Mustafa Kemal tidak hanya dirasakan di kalangan nasionalis sekuler. Kaum Islam modernis seperti Haji Agus Salim, Ahmad Dahlan, dan kemudian Mohammad Natsir, juga menyimak perjalanan Turki dengan cermat. Mereka mengagumi semangat pembaruan dan kemajuan ilmu yang ditanamkan Kemal, meski tetap mengkritik langkah sekularisasinya.
Haji Agus Salim, dalam salah satu tulisannya di Het Licht (1928), menulis:
“Kita boleh tidak sependapat dengan cara Mustafa Kemal memisahkan agama dari negara, tetapi kita tidak dapat menutup mata terhadap keberaniannya menegakkan harga diri bangsa Turki di hadapan Barat.”
Baginya, keberanian Mustafa Kemal menolak dominasi Barat adalah pelajaran penting bagi umat Islam Indonesia yang masih dijajah. Sementara Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang lebih dulu memulai gerakan pembaruan (sejak 1912), menjadikan peristiwa Turki sebagai dorongan untuk memperkuat pendidikan modern dan rasionalitas dalam Islam. Ia sering mengingatkan murid-muridnya, “Agama harus membawa kemajuan, bukan kejumudan.”
Tokoh lain, Mohammad Natsir, mengambil posisi lebih hati-hati. Ia mengakui kehebatan Mustafa Kemal sebagai pejuang bangsa, namun menyesalkan pemisahan total antara agama dan negara. Dalam tulisannya tahun 1939, Natsir berkata,
“Kita boleh kagum kepada keberanian Mustafa Kemal, tetapi jangan kita ikut menyingkirkan Allah dari kehidupan bangsa.”
Dari sinilah tampak bahwa pengaruh Mustafa Kemal bersifat ganda: di satu sisi membangkitkan semangat kebangsaan, di sisi lain memunculkan perdebatan serius tentang posisi agama dalam negara — perdebatan yang juga mewarnai Indonesia hingga hari ini.
Inspirasi untuk Bangsa yang Sedang Mencari Diri
Gema perjuangan Mustafa Kemal juga menginspirasi gerakan pemuda Indonesia. Ketika Sumpah Pemuda dikumandangkan tahun 1928, semangat “satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air” mencerminkan cita-cita yang serupa dengan nasionalisme Turki. Seperti Kemal yang menegaskan “bangsa Turki di atas segala identitas lain,” para pemuda Indonesia juga menegaskan kesatuan nasional di atas sekat suku, agama, dan daerah.
Mohammad Hatta, yang pernah belajar di Belanda dan banyak membaca tentang Turki modern, menulis dalam majalah Indonesia Merdeka (1929):
“Kita belajar dari Turki bahwa kemerdekaan tidak diberi, tetapi direbut oleh bangsa yang sadar akan dirinya. Bangsa yang mengenal dirinya, itulah bangsa yang merdeka.”
Perkataan Hatta seolah menggema dari semboyan Mustafa Kemal sendiri:
“Freedom and independence are my character. Whatever the cost, the nation must live free.”
Jejak dan Warisan
Ketika Republik Indonesia diproklamasikan tahun 1945, gema perjuangan bangsa-bangsa lain — termasuk Turki — terasa kuat dalam semangat para pendiri bangsa. Seperti Mustafa Kemal yang memodernisasi Turki tanpa menunggu restu Barat, para pemimpin Indonesia juga menegaskan kemerdekaannya tanpa menunggu izin penjajah.
Tentu saja, jalan yang ditempuh kedua bangsa berbeda. Turki memilih sekularisme tegas, sementara Indonesia memilih dasar Pancasila yang menyeimbangkan nilai keagamaan dan kebangsaan. Namun keduanya berangkat dari semangat yang sama: bahwa kemajuan hanya mungkin dicapai bila bangsa berani berpikir dan berdiri atas kakinya sendiri.
Mustafa Kemal Pasha bukan sekadar tokoh Turki; ia adalah simbol kebangkitan bangsa Timur dari ketertinggalan. Dari reruntuhan kekhalifahan, ia menunjukkan bahwa nasionalisme, modernitas, dan keberanian intelektual dapat melahirkan peradaban baru. Di Indonesia, kisahnya menyalakan semangat generasi muda untuk merebut kemerdekaan dengan cara mereka sendiri — tidak dengan meniru Barat, tetapi dengan percaya pada kemampuan bangsa sendiri. Salam Kebangsaan, Merdeka !
