Senin, April 19, 2021

Covid 19 dan Revolusi Sesudahnya

Belajar dari @Katolik Garis Lucu

Saya sangat gembira. Kegembiraan itu tak bisa saya tutup-tutupi. Betapa tidak, saya melihat betapa kita sebenarnya potensial untuk beragama secara spritual, bukan  semata ritual. Itu...

Penyitaan Buku-buku Kiri di Kediri dan Wajah Literasi Kita

Di penghujung tahun 2018, lebih tepatnya pada tanggal 27 Desember kemarin. Datang berita yang mengejutkan sekaligus mengiris kewarasan kita semua. Di mana dalam isinya,...

Pesta Demokrasi (Bukan) Pesta Istana Pasir

"Inikah hasilnya “demokrasi” yang di keramatkan orang itu? Tiap-tiap kaum proletar bisa ikut memilih wakil ke dalam parlemen itu,…tiap-tiap kaum proletar, kalau dia mau, bisa...

Kader Milenial Gerakan Petani Global

Mungkin sebagian besar kaum tua dan juga anak muda berpikir bahwa saat ini akan sulit sekali menemukan anak-anak muda, khususnya para mahasiswa yang masih...
Banu Prasetyo
Seorang penulis lepas, tertarik dengan isu terkait budaya

Mungkin sudah jamak bahasan tentang virus corona atau Covid-19, sebuah virus yang menjadi musuh dunia saat ini. Virus ini jelas tidak bisa diremehkan. Korban pun sudah berjatuhan belasan ribu, angka pasti tidak saya tampilkan, karena pembaca dapat mengaksesnya dengan mudah di website.

Dampaknya sebenarnya tidak hanya persoalan kesehatan. Namun juga pada bidang ekonomi, politik, serta tak ketinggalan persoalan agama. Covid 19 telah menjadi trending, dari pemberitaan media, teori konspirasi senjata biologis, issue perang dagang Amerika dan China, hingga sekadar obrolan grup whatsapp. Dari semua hal itu, yang menarik bagi saya adalah sikap kita yang seolah menjadi absurd. 

Ya, absurd atau yang sering dibilang tidak jelas. Persis begitulah sebagaimana yang digambarkan Albert Camus tahun 1947 yang lalu dalam The Plague, yang entah koinsiden atau tidak, kondisinya sama seperti sekarang ketika dunia menghadapi covid 19.

Dalam Novel tersebut diceritakan bagaimana sikap manusia dalam menghadapi absurditas: ketidakpastian, krisis, ketakutan, dan kematian. Absurditas inilah yang mengacaukan cara berpikir kita. Virus itu dapat menyerang semua kalangan: pejabat, agamawan, orang baik, orang jahat, dan atheis sekalipun. Ini artinya pemikiran, nilai dan norma manusia menjadi sangat relatif.

Absurditas sungguh telah terjadi. Sebelumnya, tanpa bermaksud menjustifikasi. Pemerintah melalui Menkes menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu takut akan virus covid 19. Bersamaan dengan hal itu, kemudian muncul banyak perbandingan. Misal, covid 19 tidak lebih berbahaya dari flu, atau DBD yang telah banyak membunuh banyak orang. Walhasil, sekarang agaknya pemerintah berbalik arah, setelah melihat fakta yang terjadi.

Covid 19 ditetapkan sebagai bencana nasional non alam. Masyarakat dihimbau tidak melakukan kegiatan yang menyebabkan perkumpulan, termasuk juga dalam hal ibadah. Dengan demikian tidak ada yang berani mengatakan tidak perlu khawatir tentang Covid 19.

Namun benarkah tidak ada yang berani mengatakan hal demikian? Bukan manusia kalau tidak berbeda. Meski himbauan dan arahan pemerintah telah jelas, namun masih ada yang tidak mengindahkan, atau bahkan berlawanan.

Bukan hanya dari sisi agamawan yang biasanya berpendapat bahwa yang ditakutkan adalah Tuhan bukan covid 19, sehingga mereka berpendapat dengan berdoa bersama maka virus akan berlalu.

Dalam hal ini, Noah Harhari dalam “In the Battle Against Coronavirus, Humanity Lacks Leadership” telah mengingatkan bahwa pernah terjadi wabah black death di abad 14. Ketika itu manusia percaya bahwa dengan berdoa secara masal akan membuat wabah itu berhenti. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, justru wabah tersebut menyebar secara massal.

Penolakan juga terjadi dari masyarakat kota, yang justru relatif berpendidikan. Contohnya yang terjadi di beberapa kota lalu ketika polisi dan Satpol PP memergoki anak-anak muda yang berkumpul di warung kopi, atau orang tua yang mengajak anaknya bermain di mall.

Ilustrasi di atas merupakan potret unik dari pemikiran manusia. Membandingkan coronavirus dengan DBD karena hanya dilihat dari jumlah kematian, tanpa memperhitungkan faktor lain misalnya kesiapan, penyebaran, kondisi sosial adalah cara berpikir yang kurang tepat. Jika yang diperbandingkan hanya jumlah kematian, maka coronavirus tidak ada apa-apanya dengan kanker. Meski logis, namun hal itu tidak tepat.

Di samping itu, terkait masyarakat yang belum aware tentang covid 19 tidak lepas karena kesadaran dan pola berpikir yang kadang tidak sesuai konteks. “Ah, kalau kena corona ya sudah, sudah takdir, pasrah saja kepada yang Kuasa.” Demikian biasanya tanggapan masyarakat.

Pemikiran seperti ini mungkin kurang tepat pada kondisi sekarang. Menghubungkan dengan sederhana antara takdir dengan tidak menjaga diri di tengah pandemi covid 19 bukanlah sesuatu bijak. Seringkali, persoalan agama yang bersifat spiritual didekati dengan rasionalitas, namun sebaliknya sesuatu yang sangat rasional justru didekati dengan cara berpikir spiritual. Hal ini membuat kacau balau dalam kehidupan sosial masyarakat.

Untuk menghadapi pandemi covid 19 ini, perlu kiranya masyarakat menggunakan pola berpikir yang tepat. Dalam perspektif optimis, coronavirus mengajak kita semua bersiap menghadapi revolusi.

Beberapa tahun lalu bekerja dari rumah atau istilah kerennya work from home sebagai bagian dari revolusi 4.0 hanya merupakan impian ketika diterapkan di Indonesia, namun adanya pandemi ini hal itu menjadi kenyataan. Dan yang mengejutkan, ramalan Klaus Schwab bahwa revolusi industri 4.0 akan dimotori oleh Iot, kemajuan teknologi ternyata salah, factor pendorongnya ternyata pandemi bukan kemajuan industry.

Pada bagian yang lain, peran media juga menjadi sentral dengan keharusan menebar berita positif demi meningkatkan optimisme di masyarakat. Dari semua kondisi itu, ada hal yang menarik: kesadaran perilaku hidup sehat masyarakat menjadi meningkat. Namun persoalannya, seberapa jauh kebiasaan ini dapat dipertahankan?

Inilah yang kemudian perlu tantangan. Masyarakat mesti dibiasakan, bahwa tidak harus menunggu sakit untuk memiliki budaya hidup sehat. Dalam pepatah lama, sedia payung sebelum hujan. Ya, sayangnya kita tidak terbiasa dengan hal ini. Kita lebih senang untuk menyediakan payung ketika sudah banjir.

Akhirnya, hidup sehat bukan hanya ketika ada pandemi, namun harus menjadi budaya. Mekipun hal ini tidak menjamin kita untuk tidak terkena coronavirus. Sebagimana pesan dari novel The Plague: meski virus tidak akan pernah benar-benar hilang dan manusia tidak akan pernah terhindar dari sakit, namun hidup yang berkualitas meski diperjuangkan.

Banu Prasetyo
Seorang penulis lepas, tertarik dengan isu terkait budaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.