Jumat, Juni 18, 2021

Corona dan Parodi Masyarakat

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Buruh “Yang Salah” dalam Wacana Kesetaraan Demokrasi

Seakan tidak pernah lepas perselisihan antara buruh dan demokrasi di Indonesia. Problematika Omnibus Law yang terus menarik pita suara para aktivis dan buruh untuk...

Ramai-Ramai Tolak RUU Permusikan?

Cuitan Jerinks personil band SID di twitter pada 1 Februari 2019 terkait kritik terhadap RUU Permusikan kepada Anang Hermansyah anggota Komisi X DPR yang...

Pancasila sebagai Common Platform Bangsa Indonesia

Satu hari pasca Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara merdeka, terjadi peristiwa mencengangkan ketika narasi sila pertama Pancasila dalam Piagam Jakarta yang berbunyi “Ketuhanan dengan...
Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)

“Gara gara corona arek sekolah prei, dodolanku sepi, gak onok sing tuku, aku wes gak nduwe duwek. Yow opo iki lur”. (Karena corona anak sekolah libur, jualan saya sepi, tidak ada yang beli, aku gak punya uang. bagaimana ini saudara).

“Corona- corona, goro-goro awakmu masker dadi longko, regane dadi larang, ngalah ngalahne regone mutiara”. 0po maneh semprotan tangan iku wes podo larang. (Gara-gara corona masker jadi langka, harganya mahal bisa mengalahkan harganya mutiara. Apalagi hand sanitizer juga ikut mahal).Begitulah petikan sebagian dari candaan sekaligus curhatan, menyikapi situasi pandemi Covid 19 dimata masyarakat.

Parodi masyarakat yang dilakukan dibeberapa media sosial menggambarkan kondisi saat ini. Sekilas menghibur, namun disadari atau tidak menjadi kenyataan yang dirasakan olehnya.

Sejak Covid-19 dinyatakan masuk pada minggu pertama bulan Maret 2020,  melanda Indonesia. Jumlah pasien positif hingga kini menjadi 579 (bisa bertambah atau berkurang). Korban meninggal pun meningkat sementara ini sudah 49 orang, sedangkan yang sembuh 30 pasien.

Angka ini boleh diperdebatkan dan bisa dibandingkan dengan Negara-negara terjangkit Pandemi yang serupa, dimana kurang lebih 121 Negara, Dunia dibuat kacau.

Sontak pemerintah serta masyarakat berbondong bondong untuk sosial distance, itu penting sihh untuk mencegah pandemi semakin meluas. Namun mungkin ada yang luput tidak masuk dalam hitungan dan tanggungan Negara sejak wabah Corona ini melanda.

Dimana selain pencegahan dan membayar hutang semakin menumpuk sejalan dengan nilai tukar Rp16.500;00/U$D terhadap dolar.  Yang mungkin negara luput ialah, tapiii saya tulis diakhir ajah ya hihi..

Setiap negara yang terkena dampak, sudah pasti berupaya mengusir pandemi jahat ini dari kemurkaan nya dimuka bumi. Karena jika tak kunjung terusir, maka akan semakin membuat lumpuh perekonomian dunia.

Tanpa harus perang konvensional ala perang dunia kedua tempoe doeloe. Katanya menurut banyak literatur, perekonomian menjadi lumpuh serta krisis kemanusiaan menjadi akut. Semoga aja Indonesia tidak ikut lumpuh, dan tetap sehat.

Namun tanda itu mulai menuai gejala dirasakan oleh banyak orang, seperti parodi masyarakat diatas (parodi di medsos). Oke memang bener pemerintah dan sebagian stack holder mengkampanyekan untuk sosial distance (jaga jarak) dan diam di rumah, serta tempat-tempat keramaian dipaksa diberhentikan.

Bahkan tenaga medis pun dengan semangat keberaniannya membuat jargon “Biar saya yang disini, kalian dirumah saja”. Memang semestinya harus begitu. Ahlinya bekerja untuk menolong terjangkit positif Covid 19, yang bukan ahlinya (tenaga pendukung) cukup diam dirumah. Begitulah edialnya.

Namun menyambung tanggungan negara yang luput tadi, masih ada pertanyaan kecil yang nyumpel (ganjil) mewakil parodi diatas. Bagaimana mau diam dirumah jika untuk makan dirumah saja susah, Tolong dong negara bantu jawab.

Jika yang bekerja aja gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bagaimana dengan orang yang pengangguran? Cukupkah bertahan dengan mengisolasi diri selama 14 hari dirumah? Siapa yang mau ngasih makan masyarakat jika semua harus diam dirumah. Dilematis. Kecuali pemerintah mau mensubsidi kebutuhan masyarakat, selama pandemi Covid 19 ini melanda, sehingga yang mengisolasi diri dirumah juga tercukupi untuk bertahan hidup.

Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.