OUR NETWORK
Jumat, Januari 21, 2022

Childfree: Hak Perempuan yang Dianggap Tabu

Jihan Nadya Yahya
Seorang mahasiswi semester 5 jurusan hubungan internasional, sedang sibuk-sibuknya nugas.

Istilah Childfree memiliki arti sebuah pilihan yang dilakukan oleh individu dalam memilih untuk tidak mempunyai anak padahal individu tersebut memiliki kesanggupan secara biologis untuk memiliki anak.

Childfree merupakan bahasan yang populer dalam beberapa tahun terakhir dikarenakan mengundang banyak pro dan kontra. Wanita kerap kali mengalami dilemma ketika ingin mengandung, alasannya beragam baik itu secara mental tidak siap ataupun memiliki alasan tertentu yang di latar belakangi oleh keinginan si empunya badan.

Di Indonesia, pasangan yang telah menikah pasti sering sekali mendapatkan desakan dari orangtuanya untuk memiliki momongan. Kata-kata yang diucapkan misalnya begini “kalau punya anak itu jangan ditunda-tunda, rezeki tidak boleh ditolak” atau  ada juga yang begini “mau sampai kapan kami menunggu untuk menggendong cucu? Umur orang tua tidak ada yang tau” dan sebagainya. Dalam hal ini, tekanan paling besar diterima oleh pihak perempuan.

Jika seorang perempuan sudah lama menikah namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak maka perempuan tersebut dibilang mandul oleh orang-orang (bahkan orang-orang tersebut adalah keluarga atau malah pasangannya).

Ditambah lagi ada sebuah pola pikir yang mengakar di kebanyakan perempuan, kalimat ini diucapkan turun temurun oleh perempuan dari generasi ke generasi.

Ya kalimat tersebut adalah perempuan kalau tidak pernah melahirkan berarti belum menjadi perempuan seutuhnya. Kalimat ini seolah menggambarkan kedudukan perempuan hanya sebagai tempat produksi anak dan jika tidak melakukan hal tersebut maka ia tidak pantas disebut sebagai perempuan.

Dikarenakan sudah di doktrin dari generasi ke generasi maka perempuan mempercayai kalimat itu. Hal ini yang menjadi alasan mendasar mengapa perempuan bahkan menolak untuk memegang kendali penuh atas tubuhnya sendiri. Padahal sejatinya perempuan berhak untuk menentukan hal yang bersangkutan dengan tubuhnya dan memegang kendali penuh terhadap hal tersebut.

Di lain sisi, pernikahan dianggap hampa tanpa kehadiran seorang anak. Namun, jika mengulik lagi tujuan utama dari sebuah pernikahan apakah hanya untuk melanjutkan gen atau hanya menambah populasi manusia yang didasari oleh sebuah ikatan resmi atas nama cinta?

Tetapi penulis tidak ingin menutup mata bahwa memang mayoritas akan mengatakan salah satu tujuan dari pernikahan adalah melanjutkan keturunan.

Menurut penulis, tujuan dari pernikahan itu sendiri tergantung kepada setiap pasangan yang menjalaninya dikarenakan setiap orang mempunyai visi masing-masing terkait hal ini. Selain itu, tidak semua orang siap untuk melakukan parenting. Faktor yang mengakibatkan hal ini adalah kurangnya pengetahuan terhadap parenting.

Ketidaksiapan tersebut akan menimbulkan dampak yang besar dalam kehidupan si anak. Seorang ibu dianggap sebagai guru pertama bagi anaknya namun sebenarnya tidak semua ibu memiliki kesanggupan untuk menjadi guru pertama bagi anaknya.

Lebih lanjut, peran “guru bagi anak” bukan hanya berlaku pada ibu tetapi peran ini juga memerlukan sosok ayah dikarenakan sudah kewajiban dan tanggung jawab kedua orang tua dalam mendidik anaknya.

Kembali ke bahasan mengenai Childfree, alangkah baiknya kita membahasnya dalam kacamata kependudukan. Fenomena Childfree  dianggap sebagai salah satu hal yang dapat mengakibatkan kepunahan manusia. Bayangkan saja misalnya setiap perempuan memilih untuk tidak melahirkan maka manusia bisa berada diambang kepunahan. Pendapat tersebut merupakan sebuah pemikiran yang sangat sempit.

Pilihan untuk Childfree tidak lantas menjadikan manusia menjadi punah. Tentunya banyak perempuan diluar sana yang ingin merasakan kehamilan dan melahirkan serta tentunya banyak juga pasangan yang ingin memiliki anak kandung.

Childfree sendiri memiliki bisa berfungsi dalam mengatur populasi manusia yang semakin padat di muka bumi. Lebih dari 7 miliar orang bermukim di planet biru ini serta banyak negara yang mengalami masalah kepadatan penduduk.

Childfree bisa digunakan sebagai pilihan untuk mengatur kepadatan penduduk di sebuah tempat dan pastinya harus tanpa paksaan. Sekarang mari kita bahas Childfree menggunakan kacamata generasi muda. Generasi muda di zaman ini memiliki kecenderungan untuk memilih Childfree.

Faktor yang melatarbelakangi hal ini yaitu persaingan semakin ketat sehingga secara realistis kesanggupan finansial menjadi menurun. Ibaratnya bagaimana mau punya anak jika hidup untuk diri sendiri saja sangat susah untuk bertahan? Atau ada juga yang beranggapan mereka tidak minta untuk dilahirkan namun kita menghadirkan mereka untuk merasakan kejamnya dunia ini jadi jika kehadiran tersebut bisa dicegah maka ada baiknya dilakukan.

Cukup kontroversial memang, terlepas dari itu semua untuk meluruskan penulis ingin menekankan bahwa Childfree merupakan sebuah perwujudan dari pemenuhan kendali penuh perempuan terhadap tubuhnya sendiri. Perempuan berhak atas tubuhnya, jika mereka ingin mengandung maka biarkanlah, jika mereka tidak ingin juga kita tidak perlu untuk mengkritisi pilihan perempuan tersebut.

Kendali penuh terhadap tubuh sendiri merupakan hak asasi manusia yang paling mendasar namun mengapa dengan adanya childfree perempuan dianggap tidak memenuhi kodratnya? Atau dianggap bukan perempuan seutuhnya? Dan beragam tekanan lain yang dibebankan kepada perempuan.

Menurut penulis, sebenarnya kodrat perempuan bukanlah untuk harus melahirkan sebuah bayi dari rahimnya namun kodrat perempuan adalah kemampuan dalam melahirkan dan mengandung.

Memang banyak sekali perdebatan yang bisa dimunculkan dari pembahasan Childfree sehingga penulis berharap tulisan ini bisa menjadi pemantik diskusi yang lebih terbuka dan tidak menyudutkan suatu pihak.

Jihan Nadya Yahya
Seorang mahasiswi semester 5 jurusan hubungan internasional, sedang sibuk-sibuknya nugas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.