Jumat, Januari 9, 2026

Cemburu Wajar dan Pathological Jealousy dalam Relasi Romantis

Alika Arianne
Alika Arianne
Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Advertisement -

Pernah nggak sih, kamu mendadak gelisah hanya karna pasangan kamu kelihatan sibuk membalas pesan orang lain? Pikiran kamu langsung lari kemana-mana, padahal kamu belum tahu apa-apa.

Dalam beberapa waktu ke belakang, media sosial dipenuhi kasus perselisihan yang bermula dari adanya cemburu berlebihan terhadap pasangan. Fenomena ini menandai kurangnya pemahaman masyarakat terhadap perbedaan antara cemburu yang masih dalam batas sehat dengan pathological jealousy atau cemburu patologis—seperti menganggap perilaku posesif sebagai wujud kasih sayang. 

Oleh karena itu, artikel ini akan membantu kita dalam membedakan mana cemburu yang masih tanda sayang, dan mana yang justru berubah menjadi ancaman dalam hubungan.

Cemburu Sewajarnya: Tanda-Tanda yang Sehat

Menurut model konseptual “Emotion-in-Relationships” dari Berscheid (1983) rasa cemburu muncul sebagai reaksi alami ketika seseorang merasa hubungan dekatnya terancam oleh kehadiran orang lain, baik ancaman itu sudah terjadi maupun baru sebatas kemungkinan (Attridge, 2013). Melalui sudut pandang ini, kita dapat mengetahui bahwa cemburu tidak selalu buruk, selama masih dalam batas wajar yang tidak merugikan atau mengancam nyawa pasangannya.

Saat Curiga Mengambil Alih: Mengenal Pathological Jealousy 

Batinic, Duisin, dan Barisic (2013) menjelaskan bahwa cemburu dapat berkembang menjadi kondisi patologis (gangguan atau penyakit) ketika berubah menjadi pikiran yang kaku, obsesif, dan sulit untuk dikendalikan. Cemburu jenis ini biasanya muncul karna pikiran-pikiran bahwa pasangan memiliki hubungan lain secara perasaan maupun fisik.

Dengan kata lain, cemburu patologis merupakan kecemburuan berlebihan dengan menuduh pasangan pasti selingkuh tanpa adanya bukti dan meski pasangannya telah memberikan penjelasannya berulang kali. Pada kondisi ini, kecemburuan sudah bukan lagi perasaan yang muncul sesaat, tetapi menjadi pikiran yang terus-menerus muncul dan dapat menyebabkan tindakan seperti mengawasi, menuduh, memata-matai, hingga tidak menutup kemungkinan untuk bersikap agresif kepada pasangan.

Saat ini, banyak kasus-kasus penganiayaan dan penghabisan nyawa seseorang di sekitar kita yang menggunakan motif cemburu yang berlebihan. Seperti kasus seorang suami di Aceh yang tega menganiaya istrinya karna kesal dan cemburu istrinya sering bermain sosial media, atau kasus seorang laki-laki menyerang perempuan yang ia sukai karna timbul rasa cemburu. Beberapa contoh kasus ini menunjukkan salah satu ciri khas dari cemburu patologis yaitu kontrol berlebihan kepada pasangan.

Pada akhirnya, cemburu memang merupakan emosi yang manusiawi, selama ia tidak berubah menjadi kecurigaan tanpa bukti hingga merusak kepercayaan. Dengan mengenali gejalanya dari awal, kita dapat menjaga hubungan yang hangat dengan disertai rasa saling percaya, dan tidak dikendalikan oleh rasa takut. Karna hubungan yang sehat bukan tentang saling mengawasi, melainkan memberi ruang untuk saling tumbuh.

Alika Arianne
Alika Arianne
Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.