Jumat, Juli 19, 2024

Catatan Kecil Mengenang Kepergian Prof. Dawam

Azhar Syahida
Azhar Syahida
Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya, Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Baru saja kemarin, 30 Mei 2018 saya mempresentasikan hasil penelitian untuk strata S-1, dengan wacana utama menggunakan analisis pemikiran ekonomi Islam Prof. Dawam Rahardjo. Pagi ini, menjelang sahur, saya mendapatkan kabar beliau sudah tiada. Sungguh kematian memang tidak disangka datangnya. Inilah yang disebut sunnatullah.

Ucapan kesedihan tentu sulit diungkapkan dengan kata, hanya rentetan doa yang mungkin bisa terucap untuk mengenang jasa-jasa cendekiawan Muslim sekelas Dawam Rahardjo. “Semoga Allah melancarkan jalanmu menuju rahmat dan kasih sayang Allah. Amin.”

Sebagai mahasiswa ekonomi, saya hanya ingin mengenang, bagaimana beliau begitu berjasa menyumbang wacana-wacana terdepan tentang ekonomi, baik ekonomi umum maupun ekonomi Islam.

Sejak awal menjadi mahasiswa ekonomi Islam, jujur, di awal itulah saya mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran ekonomi Islam Prof. Dawam. Gagasan-gagasannya yang luar biasa tertuang rapi dalam berbagai bukunya yang terbit sejak tahun 1980’an. Namun sayang, pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi Islam tidak pernah diajarkan di ruang-ruang kelas saya ketika itu. Bahkan, mungkin kawan-kawan saya juga tidak ada yang mengenal kalau Prof. Dawam adalah pemikir prolifik di bidang Ekonomi Islam.

Persentuhan saya dengan pemikiran Prof. Dawam adalah ketika membaca buku pertama beliau, bertajuk “Perspektif Deklarasi Mekkah: Menuju Ekonomi Islam”, terbit di pertengahan tahun 1980’an, diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Saya pribadi menyarankan bagi kawan-kawan yang ingin mengenal aspek kesejarahan ekonomi Islam modern, wajib hukumnya membaca buku kecil ini.

Secara umum buku ini berkisah tentang sejarah awal kemunculan ekonomi Islam modern, yang dimulai sejak berlangsungnya konferensi di Mekkah tahun 1976, termasuk juga membahas pemikiran prof. Dawam tentang bunga bank dan gagasannya mengenai Bank Koperasi.

Saya menemukan buku kecil itu, saat menyusuri rak-rak berdebu di kampus, setelah sebelumnya mencari informasi di dunia maya. Buku yang saya temukan ketika itu terlihat lusuh berdebu, tapi masih sangat bagus rupa fisiknya. Terlihat tidak pernah dibaca oleh siapapun. Sungguh sayang.

Saya pribadi, merasa sangat beruntung menemukan buku itu. Buku yang kaya dengan informasi dan gagasan-gagasan yang fresh tentang ekonomi Islam, walaupun ditulis lebih dari tiga dasawarsa lalu.

Berkat buku itu, saya pribadi kemudian jatuh hati dan selalu rakus ingin bertemu dengan buku-buku Prof. Dawam lainnya, yang bercerita tentang banyak hal berkaitan dengan ekonomi. Termasuk saat beliau bertutur dengan sangat baik tentang siapa itu Kaharuddin Yunus dan Sjafruddin Prawiranegara, sang tokoh ekonomi Islam Indonesia yang terlupakan. Sebab, mahasiswa ekonomi Islam hari ini, agaknya jauh lebih mengenal tokoh-tokoh lain macam Umer Capra, Nejjatullah As-Sidqi, Adiwarman Karim, Safi’i Antonio, dan sederet nama lainnya.

Dan yang terbaru, saya bertemu dengan “Arsitektur Ekonomi Islam: Menuju Kesejahteraan Sosial”, terbit di tahun 2015 lalu. Sungguh sepertinya buku ini menjadi penutup dari pengembaraan beliau tentang ekonomi Islam. Dalam mana, pada buku ini beliau berhasil merumuskan apa yang disebutnya sebagai “ekonomi pasar moral sosial”, ekonomi Islam yang berorientasi “moral” pun juga “sosial”.

Selain itu, Prof. Dawam Rahardjo juga banyak mengembara dalam pemikiran-pemikiran ekonomi politik dan ekonomi kerakyatan, gagasan genuine Indonesia. Banyak buku-bukunya yang mengkritik habis model pembangunan Indonesia dari era orde baru hingga pasca reformasi, termasuk kritiknya terhadap para ekonom Indonesia yang juga sangat pedas. Misalnya, “Pembangunan Pascamodernis: Esai-Esai Ekonomi Politik”.

Ungkapan beliau yang sangat terkenal untuk para ekonom Indonesia adalah “Kuman di seberang lautan jauh lebih tampak daripada gajah dipeluk mata”. Sebuah kritik yang sangat keras ditujukan pada para ekonom yang selalu mengutip teori barat tanpa melihat kondisi sosial di Indonesia, terutama tentang hegemoni “developmentalisme” di era orde baru lampau.

Teranyar dan fresh, Prof. Dawam dengan sangat hebat menyajikan perdebatan klasik antara dua ekonom besar Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara, tentang proyek industrialisasi Soemitro Djojohadikusumo di tahun 1950’an.

Perdebatan yang kemudian diakhiri dengan pengakuan kesalahan Soemitro Djojohadikusumo tentang konsep industrialisasinya yang tidak dimulai dari perbaikan sektor pertanian terlebih dahulu itu, menjadi inspirasi banyak ekonom muda saat ini. Kawan-kawan bisa membacanya di “Nasionalisme, Sosialisme dan Pragmatisme: Pemikiran Ekonomi Politik Soemitro Djojohadikusumo“.

Akhirnya, di titik ini, saya harus mengucap terimakasih yang setinggi-tingginya kepada Prof. Dawam. karena dari perjumpaan inilah penelitian saya terilhami banyak wacana-wacana baru. Bahkan, harus jujur saya akui, 90% pemikiran skripsi yang baru kemarin hari saya presentasikan  tidak jauh dari buah pemikiran beliau. Oleh karenanya, tidak ada kata yang pantas untuk mengenangmu, kecuali produktif meneruskan pemikiranmu. Selamat jalan prof!

Allahummaghfirlahu warhamhu

Azhar Syahida
Azhar Syahida
Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya, Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.