Minggu, April 18, 2021

Capres Nomor Urut 10, Golput?

Bedebah Bernama Kapitalisme: Akar Masalah Ekspolitasi ABK

Cita-cita Marx untuk mewujudkan periode sejarah yang diimpikannya yaitu periode diktator proletariat tidak terjadi. Dunia kita sekarang tetap berada pada periode ke-empat versi Marx:...

Penyembah Presiden Itu Kanker dalam Demokrasi

Bisingnya Pemilu 2019 sungguh-sungguh memekakan gendang telingaku. Masing-masing pihak berlaku bak para bigot yang cap itu kerap mereka tempelkan ke para radikalis agama. Mereka membabi-buta...

Presiden Jokowi dan Kompleks Perumahan

Sore itu, sepulang dari tempat kerja, aku langsung memarkir motor di samping rumah. Aku memang lebih suka menggunakan pintu samping dibandingkan pintu depan. Karena...

Capres 2024: Anies atau Prabowo?

Beberapa lembaga survei di awal 2020 berlomba-lomba mengeluarkan hasil survei Pilpres 2024 tentang siapa nama-nama yang bakal maju sebagai capres. Nama Prabowo Subianto dan...
Husni Setiawan
Manusia adalah hewan yang berfikir

Hanya ada dua pilihan untuk memilih capres, jika tidak 01 maka 02. Itu yang disuguhkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia. Lantas bagaimana dengan masyarakat yang tidak menginginkan diantara kedua calon tersebut?

Pada pilpres tahun 2014 sebanyak 30% masyarakat Indonesia tidak menggunakan hak pilihnya. Pada tahun 2019 terdapat peningkatan sekitar 2 juta DPT baru yang diasumsikan merupakan pemilih pemula. Tahun 2014 DPT berjumlah 190 juta dan tahun 2019 DPT berjumlah 192 juta.

Angka golput negara demokrasi seperti Amerika sejak tahun 2004 sampai 2016 cenderung menunjukkan angka kurang baik. Terjadi peningkatan angka golput dari tahun ke tahun. Faktor penyebabnya adalah ketidak percayaan masyarakat terhadap pemimpin dan partai politik.

Fenomena ini mungkin tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin dan partai politik menjadi penentu jumlah golput di Indonesia. Jika dilihat pada pilpres 2014, capres yang bersaing hanya dua, yaitu Jokowi-Jk dan Prabowo-Hatta.

Kala itu, prabowo menjadi calon yang paling dikenal oleh masyarakat Indonesia, karena telah berpartisipasi dalam pilpres sebanyak dua kali. Sedangkan Jokowi merupakan tokoh baru yang diharapkan membawa perubahan untuk bangsa ini. Akhirnya Jokowi memenangkan pilpres pada tahun 2014.

Ditahun 2019, keduanya kembali bersaing untuk mendapatkan kursi RI 1. Masyarakat hanya disuguhkan dengan wajah lama (kecuali cawapres) untuk dipilih. Jokowi yang dulunya diharapkan bisa membawa Indonesia dengan semangat revolusi mental, sampai sekarang mental bangsa masih “mengemis” kepada asing. Praktis tidak ada pilihan lain sebagai alternatif.

Rakyat dipaksa untuk memilih dua kandidat yang sudah diketahui “sepak terjang” yang tidak baik-baik amat. Kampanye yang dilakukan hanya pertarungan antara kedua tim pemenangan yang tidak pernah ada habisnya melakukan kempanye negatif. Kampanye yang masih jauh dari makna substansi perubahan bangsa ini.

Bayangkan saja, hanya salah berdoa menjadi isu hangat untuk diperbincangkan secara nasional. Dalam bahasa Minangkabaunya “bantuak ndak ado karajo lain lai” terjemahannya “seperti tidak ada kerjaan yang lain lagi”.

Tidak bisa di tutupi bahwa kampanye tim pemenangan capres tahun 2019 belum memperlihatkan kualitas perubahan yang ditawarkan oleh masing-masing kandidat. Pada debat pertama misalnya, temanya adalah hukum dan HAM. Saya tidak yakin presiden dan timnya berfikir tentang hak tanah ulayat masyarakat adat di Riau, Sumatera Barat dan daerah lain yang telah “dirampas” oleh negara.

Akibatnya, debat kandidat capres tidak membuat pemilih pemula bisa menentukan sikap untuk memilih presidennya. Beberapa diskusi saya dengan rekan-rekan mahasiswa, sampai sekarang mayoritas mereka belum menentukan sikap untuk memilih prsiden periode 2019-2024. Debat pertama yang diselenggarakan tidak berpengaruh terhadap pilihan politik generasi milenial.

Dalam sebuah diskusi, saya pernah melontarkan wacana golput. Peserta diskusi sekitar 20-25 orang. 80% sepakat dengan golput pada pemilu 2019. Alasannya sangat sederhana, kami tidak tau mana yang lebih baik. Dari alasan tersebut bisa dipahami bahwa dalam hati kecil mereka sebenarnya menginginkan pemimpin yang baik. Namun sangat disayangkan upaya tim pemenangan untuk mebuat citra baik capres masih belum bisa dipahami oleh pemilih pemula.

Diskusi berlanjut dengan 20% peserta yang telah menentukan sikap. Alasan peserta memilih pemimpin adalah dengan melihat kinerja petahana (pendukung 01) dan ingin perubahan Indonesia menjadi lebih baik (pendukung 02). Diskusi menjadi liar setelah kedua kelompok saling mencari sisi buruk dari kedua kandidat. Akhirnya saya sudahi dengan kalimat “pilihan kita, tanggung jawab kita”. Entah mengerti atau tidak maksud kalimat tersebut, peserta tersenyum dengan seribu makna.

Dari kasus diskusi tersebut, saya mengambil dua kesimpulan bahwa generasi milenial lebih cenderung menginginkan inovasi kampanye yang sifatnya kekinian seperti adu isi kemampuan berfikir. Ya paling tidak seperti Rocky Gerung dan Fachri Hamzah di media televisi swasta lah. Jika debar capres dilakukan seperti itu maka generasi milenial akan mudah menentukan pilihannya.

Apakah capres 01 dan 02 bisa berdebat seperti dua penggiat demokrasi itu? Entahlah, karakteristik kedua calon tidak menggambarkan cara berfikir seperti Gerung dan FH.

Pada akhirnya, generasi milenial yang menuntut pemimpin kreatif dan cerdas akan memilih untuk golput dan lebih memilih capres nomor urut 10.

Husni Setiawan
Manusia adalah hewan yang berfikir
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.