OUR NETWORK
Rabu, Juli 28, 2021

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Guntur Alam
Saat ini masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus Islam swasta. Masih mengemban semesteran dengan berusaha tekun dalam melihat ilmu sebagai subjek (hidup) dan objek yang relatif tapi benar.

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat dan meraba sekitar, untuk menghirup sejenak akan udara dan rasa yang ada di sekitarnya.

Pasti kita sering mengalami kecanggungan dalam interaksi sosial di dunia nyata karna kita terlalu aktifnya dalam berselancar di media sosial (SNS). Bahkan faktanya sudah hampir menjadi budaya jika seseorang harus seakan-akan wajib untuk update kesehariannya di internet atau media sosialnya. Seakan-akan “dunia” harus tau kemana-saja ia pergi, dengan siapa-saja ia bertemu.

Kita mungkin sudah lupa akan fungsi “diri” untuk lebih menghargai hidup, menghidupi-kehidupan, serta menumbuhkan ketenangan batin dan fikir kita. Karna saat seseorang sudah mencandu dan tercandu dengan medsos, otomatis gerak dan tindakannya pun mengikuti dan menyelaras. Seperti narkotika (drugs). Campuran bahan kimia yang dapat mempengaruhi fungsi biochemical dalam tubuh dan mematikan saraf motoriknya.

Media sosial ialah tempat dimana banyak manusia-manusia yang tak berlogika, reaktif, dan impulsif berkumpul serta mengembangkan habitatnya. Sangat tak bijak dan hati-hati seorang diri jika selalu menyelami alam itu dengan ria-nya. Menumpuk serta menghujam akal budi dan jiwa (mental) kedalam jurang kebencian dan hate speech.

Banyak influencer atau tokoh terkenal (famous) yang memegang kunci popularitas serta populisme masyarakat, kemudian menggunakannya untuk kepentingan ekonomi dan komersialisasi alam bawah sadar pengikutnya (follower) hingga menggunakan pengaruhnya dalam polarisasi publik. Siapapun pasti akan dengan mudahnya terseret kesana, apalagi jika “seseorang” yang famous itu sudah mempunyai centang tanda biru bulat di akun sosmed-nya.

Banyak penelitian terkini yang telah membuktikan akan beberapa gejala berikut yang diakibatkan karna terlalu sering seseorang bermain di media sosial. Seperti selalu merasa gelisah (insecure, anxiety), depresi, merasa sendiri, dan ADHD (perilaku reaktif, impulsif, dan hiperaktif), dan  karna posisi muka dan mata selalu secara terus-menerus melihat ke layar kecil itu (handphone, smartphone, dll). Psychologytoday.

Jika anda merasa telah sulit untuk lepas dari gadget (gawai), untuk tidak selalu memegangnya dan melirik sejenak saja, itu bisa dikatakan sudah masuk dalam jurang candu media sosial (maya).

Merasa terpanggilnya alam sadar jika mendengar notif sedikit saja darinya, atau dari seseorang yang memberi pesan online. Kemudian kecenderungan akan perhatian dan pujian likes atau komentar positif yang berbentuk tulisan ”penghargaan” yang tidak nyata hakikatnya. Maka itu akan melahirkan generasi anak muda dan mungkin juga orang dewasa (siapapun) yang gila akan narsisisme.

Siapapun kita, dimanapun berada, marilah untuk lebih menghargai hidup yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Dengan selalu tidak menggunakan alat mesin itu (gadget) dalam kehidupan normal kita.

Belajar untuk lebih melihat hidup dengan sudut pandang arti atau makna. Melihat untuk melihat yang benar di dunia nyata, mendengar untuk mendengar suara dan kebisingan dunia nyata, menapak-kaki untuk merasakan tanah dan zat yang hidup didalamnya.

Guntur Alam
Saat ini masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus Islam swasta. Masih mengemban semesteran dengan berusaha tekun dalam melihat ilmu sebagai subjek (hidup) dan objek yang relatif tapi benar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.