Kamis, Juni 20, 2024

Bursa Capres dan Cawapres 2019

Ahmad Yani
Ahmad Yani
Penulis

Perhelatan Pilpres 2019 kini mulai semakin terasa, walaupun pelaksanaannya masih tahun depan. Semarak euforia bursa capres dan cawapres kini tengah menggema di bumi nusantara. Para partai politik dan figur publik kini gencar mencari koalisi demi memenangkan konstestasi pilpres.

Mereka layaknya seorang kawan yang mengajak kawan lainnya untuk mengisi lowongan pekerjaan (kekuasaan). Nampaknya bursa capres dan cawapres sangat memikat hati, jiwa, dan raga bagi partai politik dan tokoh lainnya yang menginginkan kekuasaan.

Bursa capres dan cawapres menarik untuk dicermati dalam tiga fase, diantaranya: Pertama, fase pra bursa dilepas ke pasar. Fase ini ditandai dengan banyaknya tokoh politik tertentu yang menjajakan dirinya dengan lata melakukan sejumlah pengabdian reflex kepada masyarakat supaya diliput media dan akhirnya mendapat pujian dari publik.

Mereka giat mengunjungi daerah tertinggal, tempat kumuh, dan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat, namun langkah ini ditempuh sebagai daya jual mereka kepada publik untuk masuk bursa capres dan cawapres. Fase ini juga ditandai dengan maraknya pembuatan baju kaos dengan tulisan tertentu yang menyerang lawan politik satu sama lain maupun tulisan yang mempromosikan dirinya melalui baju kaos.

Bahkan sempat terjadi insiden pada car free day di Jakarta yang menunjukkan kita masih kanak-kanak dalam berdemokrasi.  Tak hanya itu, fase ini juga terkadang memengaruhi media sosial dengan perang cibiran dan bully-an kepada figure tertentu.

Kedua, fase saat bursa dilepas ke pasar. Pada fase ini ditandai dengan berbagai babak tarik ulur antara partai politik dan para tokoh publik. Mulai bermunculan tokoh publik mendeklarasikan diri untuk menduduki bursa capres dan cawapres dengan dalih rakyat yang menginginkan mereka untuk maju pada perhelatan pilpres.

Dengan mudahnya mereka mengatasnamakan rakyat. Terlebih lagi, ada juga sebagian tokoh berharap bisa masuk bursa capres atau cawapres dengan getol menganggap dirinyalah yang paling tepat memimpin Indonesia. Mereka biasanya memiliki karakter prontal dan cenderung mengutuk kegelapan yang ada di negeri ini. Beberapa pemilik partai besar lebih memosisikan dirinya untuk bermain di balik layar dengan mengusung figure tertentu, kelak figure tersebut dapat memenuhi hajat pemilik partai ketika memenangkan perhelatan pilpres.

Fase ini juga ditandai dengan ketidakberaturannya persahabatan dan persatuan. Kawan politik bisa seketika berubah menjadi lawan politik. Polarisasi dan sekte-sekte politik tertentu cenderung memecah belah persatuan. Kita tengah berada pada fase ini, maka berhati-hatilah dan biarkanlah mereka bermain apik.

Ketiga, fase pasca bursa dilepas ke pasar. Pada fase ini ditandai dua hal yakni perasaan kecewa dan puas dari masyarakat. Perasaan kecewa dari masyarakat akan terjadi jika yang menjadi capres dan cawapres adalah mereka yang kinerjanya buruk dikala memimpin, bermalas-masalan, dan tidak memiliki inovasi dan gagasan fresh.

Begitupun, jika bursa ini menghasilkan capres dan cawapres yang telah diketahui sepak tergangnya cenderung kurang baik, statis dan itu-itu saja (tidak memberikan kejutan). Namun sebaliknya, masyarakat akan puas jika yang diusung memiliki inovasi dan gagasan fresh, tokoh-tokoh baru yang dianggap tidak terlalu berambisi terhadap kekuasaan. Masyarakat akan semakin puas jika bursa capres dan cawapres berasal dari kemauan dan usulan masyarakat secara langsung.

Ahmad Yani
Ahmad Yani
Penulis
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.