Jumat, April 23, 2021

“Bumi Datar” dan Pesan Singkat

Hilangnya Idealisme, Polemik Gagalnya Menjadi Manusia Baru

Satu artikel menarik diterbitkan oleh Geotimes.co.id pada Jum’at, 21 Agustus 2020 kemarin, masih sangat segar. Membahas tentang pembentukan ‘manusia baru’ ala Hok Gie-an yang...

Perang “Bintang”

Ribuan purnawirawan jenderal dari unsur TNI dan Polri mendeklarasikan dukungan kepada pasangan nomer urut 01 Jokowi-Amin. Deklarasi ini dilakukan di JI Expo Kemayoran pada...

Persetan dengan Sekolah ala Ivan Ilich

Ada apa dengan sekolah dianggap dan diyakini sebagai sarana satu-satunya dalam mencari ilmu pengetahuan? Mengapa sekolah yang jumlahnya sedemikian menjamur dianggap sebagai jalan hidup...

Mengapa SpaceX Penting Dibicarakan?

Keberhasilan SpaceX mengantar dua astronot NASA mengorbit di Internasional Space Station (ISS) menjadi penanda kemenangan Elon Musk pada perang dagang luar angkasa. Namun itu...
Agus Mauluddin
Pemerhati Sosial. Peneliti di CIC Institute of Rural and Urban Studies. [ig: @cic.official.id]. Penikmat Kopi & Tea.

Tulisan ini bukan sedang membicarakan Bumi Datar dalam teori konspirasinya Eric Dubay (The Flat-Earth Conspiracy). Tulisan ini akan membicarakan “Bumi Datar” (red Dunia Datar –The World is Flat), yaitu sebuah istilah yang digagas seorang Jurnalis kawakan di New York Times yakni Thomas L. Friedman.

Friedman seorang kolumnis New York Times, menggagas dengan yang disebutnya “The World is Flat”. Sebuah dunia yang dicirikan dengan pesatnya teknologi informasi dan internet. Dunia yang menjadikan setiap umat manusia saling terhubung, dari bangsa, negara, ras manapun. “Dunia menjadi datar” dibuatnya.

Kecepatan dan kemudahan menjadi keniscayaan yang terjadi di era ini, yang disebutnya sebagai era globalisasi ketiga. Dengan mudah dan cepat informasi bisa didapat. Hari ini terjadi peristiwa Gempa di Taiwan, hari ini pula di belahan bumi Indonesia informasi itu didapat.

Di belahan bumi lainnya, semisal di Eropa dan Amerika, berita Gempa Taiwan ini tersebar, tidak dalam hitungan minggu hingga bulan. Bahkan, isu ini bisa menjadi viral dan menjadi perhatian dunia dalam hitungan menit saja.

Kemudian apa urgensinya dunia datar yang diistilahkan Friedman itu? Konsepsi dunia datar yang digagasnya ini bisa sangat berguna untuk menunjukkan karakteristik masyarakat kota, pun dengan kehidupan di desa kini. Dicirikan dengan masyarakat yang gandrung terhadap gadget yang setiap saat dalam genggamannya. Kebanyakan diisi oleh para generasi milenial (lahir di 1980-1990an).

“Pesan Singkat” 

Cepatnya lalu lintas informasi menjadi suatu keniscayaan di era ini. Pun tidak terkecuali hasil cepat Pilkada serentak di 2018 nanti. Pemilu yang akan terselenggara di 171 daerah, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten, dan Pileg dan Pilpres di 2019-nya.

Hasil cepat atau quick count bisa menjadi metode yang dapat menginformasikan secara cepat dan mudah, “hasil” pemilihan. Kota-kota, kabupaten dan provinsi di Indonesia, tanpa harus kita pergi ke sana, terhubung satu sama lainnya. Informasi dari berbagai wilayah terkait “hasil” pemilu dapat diinformasikan dalam hitungan menit saja.

Siapa yang menang akhirnya, mari kita kawal bersama. Siapa yang menjabat nantinya, mari kita pantau kinerjanya, bersama. Dengan teknologi informasi juga, transparansi menjadi kunci. Transparansi kebijakan “sang terpilih” nanti, mesti dipublikasi dan diketahui bersama masyarakatnya.

Poin penting lainnya, yaitu buah dari akses informasi yang serba cepat. Dengan mudah informasi didapat, melalui gadget masing-masing orang. Jika boleh menerka, setiap orang (setidaknya para generasi milenial) di Republik ini dapat dipastikan memiliki minimalnya satu akun media sosial, facebook, twitter, instagram atau lainnya.

Dengan dekatnya mereka pada media sosial, informasi, pemberitaan tentang pemilu yang bermuatan unsur SARA, rasis, dan sarkastis kerap dilontarkan, diperbincangkan dan disebarluaaskanSemakin memperpanas suasana “bermasyarakat” Kita.

Pesan penting untuk masing-masing Kita. Stop penyebarluasan informasi-informasi yang bernuansa sara, rasis dan sarkastis yang dapat menimbulkan perpecahan antar anak bangsa. Bukan berarti pula harus menjauh dari teknologi (semisal tidak lagi ‘bermedsos’), namun lebih bijak dalam menggunakannya.

“Diam akan lebih bermakna daripada menyebarluaskaan berita yang tak bermakna.”

Agus Mauluddin
Pemerhati Sosial. Peneliti di CIC Institute of Rural and Urban Studies. [ig: @cic.official.id]. Penikmat Kopi & Tea.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.