Minggu, April 18, 2021

Budaya Tradisional dan Modern Life di Dubai?

Bermain Harga Tiket Pesawat

Kebetulan saudaraku melakukan di pernikahan di Kalimantan Timur. Langsung cek harga tiket pesawat disebuah situs ternama. Keningku langsung berkerut melihat harga tiket pesawat yang...

Pertumbuhan Ekonomi VS Harmoni Ekologi Dari Film Sexy Killers

Sexy Killers adalah film dokumenter yang disutradarai oleh Dandhy Laksono, film ini diunggah di Youtube pada masa tenang pemilu 2019, dan yang akhirnya ramai...

Penjaga Gawang

Penjaga gawang/goalkeeper memiliki peran yang sangat vital pada dunia sepak bola. Bagaimana tidak? Penjaga gawang merupakan garis akhir pertahanan dalam permainan sepak bola. Penjaga gawang...

Masih Bisakah Para Elite Politik Tersenyum?

Ketika ingin menulis opini ini, saya teringat pada sebuah kata-kata inspiratif dari William Arthur Ward bahwa “Senyum yang hangat adalah bahasa universal kebaikan”. Lantas...
Winanda Aryansyah
Student of International Relation at Universitas Islam Indonesia.

Jika ada pertanyaan tentang apa kota paling modern di dunia saat ini, pasti kebanyakan orang akan setuju untuk mengatakan Dubai sebagai salah satu contoh dari kota modern yang ada di dunia saat ini.

Pendapatan per-kapita yang kian meningkat tiap tahunnya, mendorong kota ini untuk terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman, yang menjadikan kota  ini seperti apa yang kita kenal sekarang. Siapa sangka, kota yang hanya memiliki luas wilayah sekitar 4000 km² di kawasan teluk di Timur Tengah tersebut, saat ini telah berubah dan dikenal sebagai salah satu kota di dunia yang dianggap sebagai simbol dari kehidupan modern saat ini.

Tentu saja, opini tentang Dubai sebagai simbol kehidupan modern bukanlah hanya isapan jempol belaka. Adanya gedung tertinggi di dunia, mall terbesar di dunia, hingga kebun bunga yang berada di tengah dataran gurun yang tandus, dapat menjadi sekumpulan bukti yang memperkuat opini Dubai sebagai simbol kehidupan modern saat ini.

Belum lagi, ditambah banyaknya brand pakaian ternama yang juga ikut membuka store-nya di dubai, makin menjadikan kota ini layak disebut sebagai salah satu simbol kehidupan modern yang ada di dunia saat ini.

Sejarah Dubai

Sebelum menjadi kota metropolis yang sangat modern seperti sekarang, Dubai tentu saja memiliki sejarah yang tidak jauh berbeda dari kota-kota lain yang berada di wilayah teluk di Timur Tengah. Kota yang dulunya merupakan dataran tandus, yang bahkan masih kurang cukup untuk mengihidupi penduduknya, kini telah berubah menjadi kota modern yang selalu menarik minat orang dari seluruh dunia untuk sekedar berkunjung hingga tinggal menetap disana, untuk mencari penghidupan yang lebih layak,

Awal mula perkembangan pesat Dubai ini, berawal dari tahun 1950-an, dimana minyak, yang diketahui sebagai contributor terbesar bagi perkembangan Uni Emirat Arab dan khususnya Dubai, mulai ditemukan.

Sejak saat itu, minyak menjadi komoditas andalan dari wilayah tersebut, yang kemudian berhasil memberikan keuntungan yang sangat besar. Tetapi, penguasa dubai saat itu yang bernama Sheikh Rashid tidak cukup berpuas diri dengan keuntungan besar yang mereka dapatkan dari minyak pada saat itu. Beliau sadar, bahwa suatu saat minyak yang menjadi komoditas utama mereka tadi, akan habis.

Untuk mengantisipasi jika hal tersebut terjadi, maka Dubai juga harus mencari sumber pendapatan lain, agar selalu bisa bisa bertahan dan tetap berkembang dalam keadaan dunia yang selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, Sheikh Rashid memiliki keinginan yang kemudian berubah menjadi ambisi untuk menjadikan Dubai sebagai kota industri, perdagangan, hingga wisata tingkat dunia.

Cerita awal dari perkembangan modern Dubai ini berawal dari tahun 1999, dimana pada tahun tersebut Burj Al-Arab dibuka dan diakui sebagai satu-satunya hotel bintang tujuh yang ada di dunia.

Terlepas dari perkebangannya yang pesat hingga menjadikannya sebagai simbil dari kehidupan modern saat ini, timbul suatu pertanyaaan dibenak saya yaitu “Dimanakah Posisi Budaya Tradisional Dubai Saat Ini?” apakah dengan keadaan yang sangat berbeda 180 derajat dari puluhan tahun yang lalu, ditambah dengan banyaknya budaya luar yang masuk ke Dubai saat ini, menjadikan penduduk Dubai mulai meninggalkan budaya tradisionalnya, karena mereka sudah dipuaskan oleh kehidupan modern?

Dubai, Budaya, Kehidupan Modern

Pertanyaan tersebut menurut saya sangat tepat sekali untuk dilontarkan kepada Dubai saat ini, karena ktia tahu bahwa modernisasi sendiri punya dampak yang baik dan juga buruk.

Dalam menjawab pertanyaan saya diatas, saya sendiri justru menemukan fakta yang menarik terkait hal tesebut. Penduduk asli Dubai merupakan ras keturunan Arab mayoritas muslim, yang kemudian dikenal dengan panggilan Emirati.

Meski dihujani oleh budaya modern yang arusnya sangat cepat, para Emirati di Dubai ini tidak serta-merta melupakan budaya Tradisional mereka. Memang, saat ini mereka sudah tidak menunggangi unta lagi, melainkan sudah menunggangi mobil-mobil mewah. Tetapi, kehidupan berbudaya masih sangat kental dikalangan masyarakat lokal atau yang merupakan penduduk asli dari wilayah tersebut.

Eksistensi budaya tradisional Emirat masih sangat terasa di Dubai, walaupun kota ini sudah dikenal sebagai kota metropolis yang sangat modern saat ini. Masih dijunjung tingginya budaya dikalangan para Emirati dapat kita lihat dari keseharian mereka yang masih gemar untuk menggunakan gamis dan abaya sebagai pakaian sehari-hari mereka.

Emirati yang dikenal sebagai mayoritas muslim ini juga, masih menjunjung tinggi nilai-nilai dalam agama Islam seperti pedoman dari Al-Quran hingga Adzan yang selalu dikumandakan di Dubai ketika memasuki waktu shalat fardhu. Pada masa bulan Ramadhan, berbagai tempat makan umum seperti restoran dan café ditutup selama siang hari, karena umat muslim sedang berpuasa pada saat tersebut.

Perayaan hari besar yang masih sarat akan budaya juga selalu dirayakan dengan megah di Dubai, seperti Hari jadi Uni Emirat Arab, hingga Eid atau Idul Fitri. Budaya tradisional seperti mejamu tamu yang datang ke rumah, dan kemudian meminum teh bersama juga masih sering diterapkan di Dubai. Arsitektur bangunan yang memiliki ciri khas Emirat, hingga kaligrafi juga masih menjadi bukti kuat bahwa Dubai tidak melupakan budaya tradisional mereka.

Apa yang terjadi di Dubai saat ini, ternyata sangat menarik untuk diulik, karena disamping kehidupan modern yang terus berkembang disana, tetapi Dubai tidak semata-mata meninggalkan budaya tradisional mereka. Fakta ini dapat dilihat langsung dari para Emirati yang masih kental dengan budaya tradisonal mereka dalam beberapa aspek dari pakaian, menjamu tamu, hingga perayaan hari besar disana.

Ada baiknya, apa yang terjadi di Dubai ini dapat dijadikan sebagai contoh oleh kota-kota modern lain di dunia, bahwa tidak perlu meninggalkan budaya tradisional untuk jadi kota modern sepenuhnya. Budaya harus tetap dipertahankan karena itulah yang memberasakan setiap wilayah di zaman modern saat ini. Budaya tradisional dan modern dapat berjalan beriringan, Dubai sebagai salah satu buktinya.

Ditulis oleh :

Winanda Aryansyah
Student of International Relation at Universitas Islam Indonesia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.