Jam dua pagi, notifikasi sudah berhenti berbunyi, tetapi pikiran justru semakin ramai. Kekhawatiran tentang masa depan, penilaian orang lain, hingga keputusan kecil yang seharusnya sepele terus berputar tanpa henti. Dalam situasi seperti ini, tubuh memang istirahat, tetapi pikiran tetap bekerja tanpa jeda. Fenomena inilah yang kini akrab disebut sebagai overthinking di kalangan generasi Z.
Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu pesat. Akses informasi yang begitu luas memang membuka banyak peluang, tetapi juga menghadirksn tekanan tersendiri. Setiap hari, anak muda dihadapkan pada berbagai standar yang seolah harus dipenuhi mulai dari pencapaian akademik, produktivitas, hingga citra diri di media sosial. Tidak jarang, mereka merasa harus selalu terlihat “baik-baik saja” di hadapan orang lain, meskipun kenyataanya tidak demikian.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif. Survei yang dilakukan Health Collaborative Center (HCC) bersama peneliti Ray Wagiu Basrowi terhadap 1.061 responden di 29 provinsi menunjukkan bahwa 50% responden mengalami overthinking. Bahkan, 30% di antaranya terjebak dalam ruminasi, yaitu kecenderungan mengulang pikiran negatif tanpa solusi. Data ini menunjukkan bahwa overthinking bukan lagi persoalan individu semata, melainkan fenomena yang cukup luas di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Overthinking yang terus-menerus dapat memicu kecemasan, menurunkan kepercayaan diri, hingga mengganggu kualitas tidur. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi kesehatan mental seseorang secara lebih serius. Ironisnya, banyak anak muda yang menyadari kondisi tersebut, tetapi tetap kesulitan untuk keluar dari lingkaran pikiran yang berulang.
Salah satu faktor yang memperkuat kondisi ini adalah media sosial. Dalam ruang digital yang serba terhubung, seseorang lebih sering disuguhi potongan-potongan terbaik dari kehidupan orang lain pencapaian, gaya hidup, hingga kebahagiaan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, hal ini mendorong kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus. Apa yang awalnya sekadar melihat, perlahan berubah menjadi tekanan untuk menyamai, bahkan melampaui apa yang dilihat.
Selain media sosial, tekanan akademik dan kekhawatiran terhadap masa depan juga menjadi pemicu munculnya overthinking. Banyak anak muda merasa harus segera menemukan arah hidup yang jelas, memilih karier yang tepat, serta mencapai kesuksesan sejak usia muda. Ketika berbagai tuntutan tersebut datang secara bersamaan, pikiran dipenuhi berbagai skenario yang belum tentu terjadi, namun terasa begitu nyata. Rasa takut akan kegagalan sering kali membuat seseorang terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban.
Namun, penting untuk dipahami bahwa overthinking bukan semata-mata menunjukkan kelemahan generasi muda. Justru fenomena ini menunjukkan bahwa generasi Z memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kehidupan dan masa depan mereka. Mereka berpikir, mempertimbangkan, dan berusaha memahami berbagai kemungkinan. Tantangannya adalah bagaimana mengelola pikiran tersebut agar tidak berubah menjadi beban mental yang berlebihan.
Langkah sederhana seperti membatasi konsumsi media sosial, memberi jeda pada diri sendiri, serta belajar menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna dapat menjadi awal untuk keluar lingkaran overthinking. Selain itu, membuka ruang diskusi mengenai kesehatan mental juga menjadi hal penting. Ketika seseorang memiliki tempat untuk bercerita, beban pikiran yang sebelumnya terasa berat dapat perlahan menjadi ringan.
Di sisi lain, lingkungan sekitar juga memiliki peran penting. Keluarga, kampus, dan masyarakat perlu menciptakan ruang yang lebih aman agar generasi muda dapat berbicara tanpa rasa takut dihakimi. Dukungan sosial yang sehat akan membantu mereka memahami bahwa kegagalan, keraguan, dan proses yang tidak selalu mulus merupakan bagian wajar dari kehidupan.
Pada akhirnya, budaya overthinking di generasi Z merupakan cerminan dari kehidupan modern yang penuh dengan tuntutan dan ketidakpastian. Mungkin generasi Z bukan terlalu banyak berpikir, melainkan hidup di dunia yang menuntut mereka untuk selalu siap, selalu cepat, dan selalu tampak sempurna. Di tengah tuntutan tersebut, yang mereka butuhkan bukan sekadar jawaban atas semua hal, tetapi juga ruang untuk berhenti sejenak, bernapas sejenak, dan merasa cukup.
