Minggu, Mei 16, 2021

Budaya Main Hakim Sendiri

Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pada 6-9 Februari 2020 telah melaksanakan Tanwir yang ke XXVIII. Musyawarah tertinggi setelah Muktamar ini, berhasil dan sukses di laksanakan....

Tim Asistensi Hukum Kemenkopolhukam, Latah Institusional?

Sebuah pesta, seharusnya dipenuhi dengan suasana suka cita dan kegembiraan. Suasana itu hadir bukan hanya karena adanya keyakinan bahwa harapan dan kisah indah menunggu...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Mengenang Satu Dekade Gus Dur

Zainal Arifin Thoha (2003:294) pernah menulis, di negeri kita, sosok Gus Dur telah diakui banyak kalangan sebagai figur yang identik dengan “demokrasi” itu sendiri. Dialah...
albertfredic
MAHASISWA HUKUM BINUS

Budaya main hakim sendiri, Pada zaman sekarang ini yang seharusnya pola pemikiran masyarakat sudah terbuka dalam menyikapi suatu masalah. Namun kita masih dapat menemukan beberapa kasus main hakim sendiri di Indonesia, memang pada zaman dulu kita sudah mengenal budaya seperti ini namun seharusnya kita sekarang bisa untuk memperbaiki budaya buruk tersebut.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Abdul Malik Haramain, menyayangkan masih adanya tindakan main hakim sendiri di masyarakat. Menurutnya, tindakan main hakim ini akibat masih rendahnya kesadaran hukum dan melakukan klarifikasi atau dalam bahasa Arab disebut tabayun terhadap setiap informasi yang diterima. “Itu diakibatkan oleh masih rendahnya tradisi tabayun (klarifikasi) dan rendahnya kesadaran hukum masyarakat kita,” ucap Abdul Malik saat dihubungi Okezone, Rabu (9/8/2017) (okezone.com/2017)

Menurut saya main hakim sendiri timbul akibat masyarakat merasa bahwa mereka benar, dan mereka takut terhadap perangkat hukum. Masyarakat merasa hukuman yang diberikan oleh penegak hukum tidak sesuai dengan apa yang telah diperbuat pelaku kriminal, karna alasan inilah masyarakat lebih baik bermain hakim sendiri untuk memberikan sanksi yang menurut pandangan mereka sesuai dengan perbuatan sang pelaku.

Eigenrechting atau tindakan main hakim sendiri dapat dilakukan oleh siapapun termaksud perseorangan ataupun kelompok. Tidak memandang jabatan, aparat negara, ataupun ia seorang penegak hukum sekaligus apabila ia mengambil tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur hukum maka dapat dapat dikatakan tindakan main hakim sendiri (Eingenrechting).

Contoh kasus main hakim sendiri yang baru-baru ini kita temui yaitu, pria dibakar hidup-hidup dibekasi karena dituduh mencuri. Dalam kasus ini masyarakat sendiri belum memiliki bukti yang jelas kalau dia (pelaku) melakukan pencurian terhadap amplifier mushala Al-Hidayah, namun masyakarat menarik lalu membakar dia (pelaku) hidup-hidup dengan teriakan “maling tidak ada yang mau ngaku” namun setelah diselidiki korban pembakaran tersebut tidak bersalah.

Kasus yang lain terjadi pada sekarang ini adalah mengarak pasangan yang dituduh berbuat mesum dikontrakan. Tindakan main hakim sendiri yang dilakukan masyarakat adalah melucuti pakaian kedua pasangan tersebut lalu diarak oleh masa kedepan ruko sekitar 200 meter dari kontrakan.

“Memang sempat ngomong jangan main hakim sendiri tapi justru dia yang melakukan penganiayaan, dia yang mukulin,” lanjut Sabilul. Ini melanggar pasal 170 dan 335 KUHP yang ancaman hukumannya lima tahun penjara,” lanjut dia. (Nasional.kompas.com/2017)

Jadi sebaiknya masyarakat lebih berfikir terbuka dalam menghadapi beberapa kasus yang terjadi disekitar kita. Apabila kita main hakim sendiri lalu korban tersebut tidak bersalah selain kita merugikan orang lain kita pun dapat dikenakan ancaman hukuman pidana.

albertfredic
MAHASISWA HUKUM BINUS
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

Taklid: Terpelesetnya Keulamaan Kita

Kegagalan kita dalam beragama adalah tidak teliti dalam membaca nash--baik itu perintah maupun larangan. Budaya taqlid kiranya memang mengelayuti konteks beragama di Indonesia. Beragama...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.