Jumat, Juni 18, 2021

Berwisata di Era New Normal

Menghidupkan Spirit Lebaran

Sebagaimana hari-hari besar Islam lainnya, Idul Fitri juga mengalami pendistorsian makna. Spirit agung yang dibawanya banyak dilupakan umat Islam. Akibatnya, lebaran hanyalah seremonial belaka. Kedatangan...

Menulis itu Politis: Sekelumit Tekstualitas dalam Islam

Kita hidup di zaman saat tulisan yang diejawantahkan dalam bentuk teks nampaknya menjadi sumber penting dalam proses sosial. Teks bahkan saat ini diyakini sebagai...

HUTRI72 – Merawat Kemerdekaan dari Senja di Pantai Losari

Ketika Archimedes sedang berada di toilet ia menyadari volume air naik setelah menenggelamkan bagian tubuhnya. Kemudian terjadilah, ia menemukan hukum Archimedes. Ia berlari dan...

Perempuan Hebat di Kancah Internasional

Keberadaan kaum perempuan yang mengisi berbagai posisi penting di suatu negara atau bahkan organisasi internasional dewasa ini bukanlah suatu keniscayaan. Peranan kaum perempuan telah...
Avatar
Putri Nashada
Penulis critical thinking text, novel online, & pemula (penulis muda) Instagram: @putrixnasha_

Pada saat ini kasus Covid-19 selalu naik setiap harinya. Ya, semua aktivitas atau kegiatan kita lakukan se-maximal mungkin di rumah saja. Mulai dari Sekolah, sampai kegiatan yang telah terencanakan sebelumnya mau tidak mau harus dilakukan di rumah saja.

Namun, sulitnya perekonomian Indonesia di tengah-tengah Pandemi ini membuat pemerintah kewalahan untuk menanganinya. Karena itu, pemerintah memutuskan untuk berkegiatan kembali seperti semula dengan tajuk “New-Normal”yang mana seluruh masyarakat indonesia diperbolehkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting dengan catatan harus mengikuti protokol kesehatan.

“Apa saja sih protokol kesehatan yang harus kita patuhi di era New-Normal ini?”

Well, disaat melakukan kegiatan diluar rumah masyarakat wajib menggunakan masker yang higienis dan terjaga kebersihannya dan membawa hand-sanitizer kemana pun mereka pergi serta sering mencuci tangan agar tidak membawa virus kembali ke rumah. Selain itu, masyarakat wajib menjaga jarak dengan lawan bicara atau mengurangi interaksi dengan orang-orang yang ada diluar.

Maraknya era New-Normal ini membuat sebagian masyarakat Indonesia salah tanggap dalam menjalankannya. Padahal, kalau bisa dibilang era New-Normal ini dibuka untuk meningkatkan perekonomian Indonesia setidaknya 50% saja. Maka dari itu, Pusat Pembelanjaan mulai dibuka, Kantor Umum, Bank, dll.

“Bagaimana dengan Tempat Wisata?” 

Yup, sebagian Tempat Wisata pun mulai dibuka kembali seperti Kolam Renang, Pantai, Hotel, bahkan tempat-tempat transportasi yang mendukung seperti Bandara Udara, Stasiun KRL mulai dibuka kembali sejak beberapa bulan yang lalu.

Bedasarkan info yang saya cari tahu, setiap orang yang ingin berwisata keluar kota atau daerah wajib membawa hasil rapid dan swab test yang bersignifikat “Negative” dengan tubuh yang sehat atau tidak membawa sumber penyakit/virus datang.

Banyaknya masyarakat yang pergi berwisata atau liburan di tengah-tengah New Normal ini tidak sedikit meningkatkan kasus orang yang terpapar virus Covid-19 lho.

“Tapi bukannya dengan berwisata ke tempat yang telah dibuka selama New-Normal ini akan membantu perekonomian Indonesia juga ya?”

Memang sih, akan meningkatkan setidaknya sedikit perekonomian di negara kita. Tapi coba dipikir lagi deh, ribuan tenaga medis di luar sana sudah kewalahan menangani pasien yang terpapar virus Covid-19 ini, dan orang-orang diluar sana tetap pergi berwisata dengan tetap mematuhi protokol kesehatan

Menurut saya, New-Normal ini dilakukan karena untuk meningkatkan sedikit perekonomian Indonesia dengan se-minim mungkin. Jika jumlah masyarakat yang berwisata di era New-Normal ini melampaui batas atau bisa dibilang agak berlebihan, kapan selesainya virus Covid-19 ini?

“Tapi untuk sebagian artis atau influencer, mereka memang pergi berwisata karena pekerjaan mereka yang mengharuskan berwisata atau mengunjungi suatu tempat dan tentu saja membantu keuangan tempat wisata tersebut. ”

Wah, kalau boleh jujur hal-hal seperti ini sering saya dapatkan dari media dan sedang marak menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat Indonesia. Menurut saya, menaikkan ekonomi tidak mesti dengan beramai-ramai berwisata ke tempat dengan segrombolan banyak orang. Dari padangan saya sendiri banyaknya masyarakat yang menyalah gunakan kalimat “Berwisata untuk bekerja” atau “Berwisata untuk membantu ekonomi masyarakat” kadang agak sedikit melenceng. Kenapa? Karena sampai sekarang kasus orang yang terpapar Covid-19 semakin tinggi, dan bepergian di tengah-tengah New-Normal ini sudah agak berlebihan.

Maka dari itu, untuk siapapun yang membaca opini saya ini, saya harap kalian semua berada di situasi yang sehat dan baik-baik saja. Ayo sama-sama kita hilangkan ego kita untuk menurunkan kasus Covid-19 dengan cara mengurangi aktivitas diluar rumah dan lebih menjaga kesehatan pada diri kita sendiri. Bayangkan berapa orang yang mengurangi aktivitas atau kegiatan diluar rumah akan membantu banyaknya penambahan kasus Covid-19 ini, terima kasih.

Avatar
Putri Nashada
Penulis critical thinking text, novel online, & pemula (penulis muda) Instagram: @putrixnasha_
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.