Jumat, Juni 18, 2021

Belajar Mengunyah Cacian Warganet dari Paul Pogba

Keharusan Islam Menjaga Demokrasi?

Demokrasi memang bukan sebuah system yang paling ideal, tetapi demokrasi adalah sistem yang baik dalam skup yang paling minimal. Sebab dalam pemerintahan manapun setiap...

Hari Pahlawan dan Semangat Anti Korupsi

Pada momentum 10 November 2019 kita kembali memperingati Hari Pahlawan, hari dimana diperingati jasa-jasa serta perjuangan bangsa Indonesia untuk bebas dari jajahan kolonialisme. Karena...

Perang Tagar di Media Sosial

Di era media sosial seperti sekarang, membentuk opini publik di dunia maya telah menjadi fenomena yang cukup serius. Ini bisa kita lihat misalnya, melalui...

Paradoks “Kebebasan Berpendapat”

Era disrupsi seperti saat ini membawa dampak masif terhadap melimpahnya informasi baik di media masa maupun media daring. Di saat ruang publik dijejali melimpahnya...
Herdanang Ahmad Fauzan
Bekas mahasiswa yang menolak nganggur.

Dalam video episode terakhir, acara Debat Kusir yang diunggah akun Youtube resmi Majelis Lucu Indonesia (MLI) tertanggal 30 November 2018, wajah Tretan Muslim dan Coki Pardede tak senakal biasanya. Dua komedian, sebenarnya saya lebih nyaman menyebut keduanya komika, yang sering mempertunjukkan humor dengan kemasan dark comedy itu mengucap salam perpisahan untuk beristirahat dari panggung hiburan.

Semua tak lepas dari video lain yang diunggah Muslim di saluran Youtube pribadinya, beberapa waktu lalu (saat ini Muslim sudah menghapus unggahan yang saya maksud). Video itu berisi panduan memasak resep babi kurma yang diperagakan Muslim bersama Coki, rekan seprofesinya di MLI. Dalam sebagian besar dialog di video memasak itu, Muslim dan Coki banyak membicarakan konteks haram-halal babi dan kurma dengan gaya-gaya bercanda khas mereka.

Kabarnya, video itu menuai kritik keras dari sebagian golongan warganet yang merasa agamanya dinistakan. Kritik ini bahkan berujung tidak sehat, mulai dari persekusi sampai berbagai ancaman yang mendera Coki, Muslim, maupun orang-orang terdekat keduanya. Belakangan, acara tur Dewa Komedi MLI ke beberapa kota, yang sebenarnya tak melibatkan Muslim maupun Coki, bahkan harus batal terlaksana karena adanya penolakan dari golongan tertentu. Kondisi ini pula yang kemudian membuat Muslim dan Coki memutuskan ‘istirahat’ dari dunia hiburan.

Saat MLI sedang mengunggah video pamitan Muslim dan Coki, di belahan dunia lain seseorang sedang beringas dengan gawainya. Laki-laki yang juga pesepakbola itu tidak lain adalah Paul Pogba.

Lewat akun Instagram pribadinya, Pogba mengunggah video dirinya berlari-lari kecil masuk ke sebuah mobil. Lari-lari kecil itu merupakan upaya Pogba memperagakan ulang kegagagalannya mengeksekusi tendangan penalti pada saat klub yang ia bela, Manchester United menghadapi Everton dalam pertandingan Liga Inggris, Minggu (28/10).

Dalam laga itu, Pogba pada akhirnya memang mampu mencetak gol dari rebound penaltinya yang gagal. Klub yang dibelanya juga memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Namun, konyol tetaplah konyol. Karena kegagalan monumental tersebut, banyak pihak kadung menilai Pogba sebagai pemain paling overrated di dunia. Pokoknya, di dunia ini tak ada pemain yang lebih nista ketimbang Pogba.

Seorang warganet dalam sebuah cuitan di Twitter, bahkan iseng menyandingkan video eksekusi penalti Pogba yang gagal dengan peragaan lari 100 meter Usain Bolt. Dari video itu kemudian diangkat sebuah kesimpulan bahwa Pogba perlu waktu lebih lama untuk menendang penalti yang gagal, ketimbang durasi Usain Bolt memenangkan lari sprint 100 meter.

Tapi Pogba mencoba menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tak terpengaruh dengan segala kritik yang beredar. Ia tidak lantas gusar dan pamit dari karier sepak bolanya, atau tak datang berhari-hari ke kamp latihan MU. Pogba justru mengunggah sebuah video yang menertawakan dirinya sendiri di Instagram, sambil dibubuhi sebuah keterangan: “Sedang berlari menuju mobil saya untuk berangkat latihan.”

Lewat video itu, Pogba tak hanya ingin memancing perhatian. Dengan berani ia menjlentrehkan kepada warganet yang budiman, bahwa seberapa deras pun cacian yang beredar, dirinya tak memiliki niatan berhenti berkarya. Ia seolah berkata, “saya akan tetap tertawa dan berangkat latihan seperti biasa, apapun kata kalian.”

Tentu saja, sebagai manusia, Pogba punya segala sisi menyebalkan dalam dirinya. Namun, sekali lagi gelandang yang juga membawa Perancis menjuarai Piala Dunia 2018 itu membuktikan bahwa dirinya kebal terhadap kritik dan berbagai macam tekanan. Pogba mengunyah cacian-cacian warganet, menelannya, kemudian berkata, “terima kasih, berkat Anda sekarang saya kenyang.”

Saya tak bermaksud menyebut bahwa reaksi Pogba di dunia maya dalam merespons cacian warganet lebih baik ketimbang sikap Muslim dan Coki. Saya juga tak ingin bilang apa yang dilakukan Muslim beserta Coki dengan istirahat dari panggung hiburan adalah tindakan yang salah, sementara Pogba melakukannya dengan benar.

Apa yang menimpa Muslim, Coki, dan MLI, jelas tak bisa dikomparasikan secara mentah dengan hujatan yang datang kepada Pogba. Keduanya berada di kultur masyarakat yang berbeda, meski sama-sama menjadikan internet sebagai latar cerita.

Tetapi saya, para pembaca, Muslim, dan Coki, bisa menjadikan tindakan Pogba yang tak terlalu menempatkan cacian sebagai pusat gravitasi dunia sebagai teladan. Contoh untuk lebih menikmati dan menertawakan hidup ini barang sesekali. Contoh untuk melemaskan urat kepala dari segala hal serius di dunia ini.

Warganet, dalam hal ini termasuk saya, bisa belajar dari Pogba, bahwa segalanya tak melulu tentang dendam dan permusuhan antargolongan. Jikapun warganet yang budiman tersinggung dengan video babi-kurma unggahan Muslim dan Coki, tak perlu melakukan serangan dengan tindakan-tindakan mencaci yang berlebihan, apalagi persekusi. Bagaimanapun bentuknya, persekusi tak akan bisa membuat siapapun membuktikan bahwa apa yang dilakukan lawannya adalah kesalahan.

Persekusi hanya akan melahirkan kebencian-kebencian baru, permusuhan-permusuhan lain yang beranak pinak dan memecah belah. Alih-alih membenci, akan jauh lebih menyenangkan untuk menunjukkan ketidaksepakatan pendapat dengan karya-karya atau humor-humor lain yang lebih kritis.

Coki dan Muslim pun bisa belajar dari Pogba. Keduanya memang bukan pesepakbola. Perkara yang sedang mereka hadapi pun berbeda jelas dengan apa yang menimpa Pogba. Namun, alangkah hebatnya andai kedua komika itu tak menjadikan segala cacian dari warganet sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Mereka boleh beristirahat, namun jangan sampai berhenti. Jika sudah selesai beristirahat, saya rasa keduanya harus mempelajari cara Pogba dan menunjukkan sikap dari sana.

Saya tak tahu bagaimana caranya. Tapi saya yakin, Muslim dan Coki adalah orang yang jauh lebih pintar dari saya. Faktanya, tak bisa dinafikkan jika karya-karya yang mereka hasilkan membuka pemikiran dan menginspirasi banyak individu yang menyaksikannya. Dan saya pun meyakini, keduanya bisa memikirkan langkah yang tepat tanpa perlu berhenti berkarya.

Karena pada akhirnya sebagaimana kata Albert Camus, “Everything I know about morality and the obligations of men, I owe it to football.” Semua seni hidup memang bisa dipelajari dengan memilih sepak bola sebagai rujukan.

Herdanang Ahmad Fauzan
Bekas mahasiswa yang menolak nganggur.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.