Minggu, Februari 1, 2026

Bekerja Tanpa Karier: Stabilitas Lebih Penting daripada Jabatan

Muna Khansa Mufidah
Muna Khansa Mufidah
Alumnus Pendidikan Bahasa Arab UIN Salatiga. Guru yang mengajar siswa jenjang PAUD-SD di Planet Education Klaten. Article writer di website Kumparan, Medium, Kompasiana, dan Harakatuna.
- Advertisement -

Bila dicermati dengan saksama, di era serba virtual ini tidak sedikit pegawai atau pekerja yang melakukan pekerjaan hanya sebatas bekerja saja. Gambarannya seperti ini: hadir tepat waktu dan menjalankan tugas. Tidak ada percikan hasrat untuk menjadi supervisor, manajer, team leader, atau direktur.

Setiap hari ia berangkat pagi pulang sore dengan motor second-nya. Lalu mengerjakan tugas sembari ngobrol dan ngopi dengan sesama rekan kerja tentang pekerjaan di hari esok, bukan tentang menggapai impian. Di masa lowongan kerja yang kian menyempit dan pekerjaan menggunung, orang-orang tidak bermimpi menjadi manajer. Mereka hanya ingin gaji cukup dan pekerjaannya tidak menghabiskan momen-momen berharga di tengah masa krisis dan semakin absurd. Apakah ini yang disebut orang-orang zaman now dengan bekerja tanpa karier?

Bekerja Tanpa Karier

Di sini tentu terdapat sebagian orang yang bertanya-tanya, apakah maksud dari bekerja tanpa karier? Definisi sederhananya adalah bekerja untuk stabilitas hidup, tidak menargetkan jabatan, serta tidak memandang pekerjaan sebagai identitas utama. Bekerja tanpa karier fokus pada fleksibilitas waktu daripada promosi jabatan. Fenomena ini bukan atas dasar karena malas, tidak profesional, atau soft quitting, melainkan karena kondisi ketidakpastian ekonomi, pengalaman krisis berulang, serta redefinisi makna hidup dan kerja.

Terdapat beberapa alasan mengapa kultur bekerja tanpa karier seiring berjalannya waktu semakin menguat di Indonesia. Alasannya yaitu biaya hidup semakin melambung tinggi sementara upah selalu stagnan dan promosi di lingkungan kerja tidak selalu berarti kesejahteraan. Selain itu, adanya generasi sandwich yang terhimpit di antara tanggung jawab finansial dan perawatan untuk menghidupi orang tua dan anak-anak, membuat terasa beban kerja semakin menumpuk. Sehingga mereka memilih menyeimbangkan kehidupan mereka dengan tidak terlalu banyak mengambil pekerjaan.

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, misal ASN muda yang “cukup sampai di sini”, pekerja swasta yang menolak dinaikkan jabatan, dan freelancer yang menghindari skala besar. Selain itu pula, tidak jarang guru yang pekerjaannya hanya ingin mengajar siswa saja atau tenaga kesehatan yang cukup merawat pasien saja. Mereka tak berminat untuk menambah posisi menjadi wali kelas, wakil kepala sekolah, kepala rekam medis, ataupun yang lain. Mereka sudah merasa cukup dengan pekerjaannya yang dijalani sekarang. Yang terpenting mampu memenuhi kebutuhan harian bagi diri sendiri beserta keluarga.

Antara Pilihan Sadar dan Keterpaksaan

Berakar dari alasan yang berbeda-beda, sebagian orang berhenti mengejar karier mereka. Terdapat perbedaan antara pilihan yang dibuat secara sadar dan keterpaksaan yang diterima secara diam-diam di balik sikap “cukup sampai di sini”. Ini memang realita di lapangan jika beberapa orang memilih keputusan tersebut. Mereka memilih menurunkan ekspektasi sesudah mengalami kelelahan, target yang tak pernah tercapai, dan janji promosi yang tidak selalu berujung kesejahteraan.

Dibandingkan dengan titel di kartu nama, stabilitas waktu untuk keluarga dan kesehatan mental terasa lebih esensial dan nyata. Bisa memenuhi kebutuhan dalam jangka panjang pun rasanya nikmat. Oleh sebab itu juga, orang-orang yang proporsional mampu melanjutkan aktivitas di hari-hari mendatang dengan tenang, tanpa perlu berpikir tiga kali besok pagi mau makan apa.

Namun, bagi sebagian lain situasi yang sempit menjadi alasan untuk bekerja tanpa karier. Dikarenakan sistem kerja yang tidak transparan, jalur promosi yang tidak jelas, kontrak jangka pendek, dan ketimpangan kesempatan, karier tampaknya tidak pernah benar-benar terbuka. Bermimpi untuk naik jabatan terasa terlalu mahal pada saat bertahan saja telah menguras energi. Bekerja tanpa karier menjadi ragam adaptasi bukan karena keinginan hati, melainkan tidak ada opsi lain yang aman. Daripada tidak memiliki pekerjaan sama sekali, lebih baik mempertahankan sekaligus menikmati yang ada. Kondisi masyarakat kita di luar sana pun masih banyak yang tidak seberuntung orang-orang yang mempunyai pekerjaan tetap.

Karier Bukan Satu-Satunya Langkah untuk Bertumbuh

Terdapat tantangan yang menghampiri seseorang manakala ia memutuskan untuk bekerja tanpa karier. Beberapa tantangan tersebut mencakup pendapatan yang tidak stabil, terutama bila bergantung pada proyek lepas dan kurangnya jenjang jabatan. Di sisi lain, terdapat keuntungan ketika seseorang bekerja tanpa karier. Misalnya, bisa lebih fleksibel mengelola waktu dan pekerjaan, dapat memperluas pengalaman, serta dapat memfokuskan diri pada potensi. Promosi jabatan tidak melulu bisa meningkatkan keberhasilan. Namun, mengasah potensi dan kualitas portofoliolah yang menentukannya.

Dalam perspektif masyarakat yang belum begitu upgrade informasi, naik jabatan merupakan sebuah hal yang diagung-agungkan. Mereka menaruh banjir pujian terhadap seseorang yang sukses lantaran tidak terhitung berapa kali ia naik jabatan. Narasi sukses yang sempit di kalangan masyarakat terkhusus di pedesaan, menjadikan “bekerja tanpa karier” menyimpan stigma sosial yang ditujukan kepada orang yang memilih jalan hidup tersebut. Pekerjaannya hanya sebatas karyawan dan tidak pernah mencoba hal lain, sehingga masyarakat menganggapnya tidak ambisius.

- Advertisement -

Sementara faktanya adalah karier bukan satu-satunya strategi untuk bertumbuh. Begitu banyak hal yang mampu kita lakukan selain bekerja di perusahaan ataupun instansi. Misalnya, membuka usaha bisnis UMKM, kursus, bimbel, dan lain-lain. Barangkali ini masalahnya bukan pada mereka yang berhenti mengejar karier, melainkan pada sistem kerja yang tidak memberi alasan untuk berharap. Pada akhirnya, bekerja tanpa karier berada di zona abu-abu. Ia dapat menjadi bentuk kebebasan yang sadar, sekaligus tanda keterbatasan yang dipelajari.

Muna Khansa Mufidah
Muna Khansa Mufidah
Alumnus Pendidikan Bahasa Arab UIN Salatiga. Guru yang mengajar siswa jenjang PAUD-SD di Planet Education Klaten. Article writer di website Kumparan, Medium, Kompasiana, dan Harakatuna.
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.