Jumat, April 23, 2021

Bahaya Orang Tua Otoriter

Konsumsi Rumah Tangga dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Pandemi Covid-19 yang selama ini berlangsung sangat memukul perekonomian Indonesia. Dampaknya siginifikan terasa baik pada sisi kesehatan, sosial ekonomi, hingga  sektor keuangan. Kebijakan yang...

Jangan Mencari Simpati dengan Isu PKI

Apa sebab isu komunis kembali mencuat? Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi diksi yang seksi. Sejak bulan September tahun 2018 lalu kita selalu gencar mendengar dan...

Teknologi dan Janji Pemerataan Pendidikan

logan di atas gencar dipromosikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui sebuah situs belajar bernama Rumah Belajar, guru dan siswa dapat mengakses berbagai macam materi...

Realitas Simbolik dan Antitesis Politik Generasi Milenial

Dalam simbol ada jejak pengalaman, makna, nilai dan emosi. Dan jejak itu semakin sulit dihapus dalam suasana hari ini, bukan karena telah jadi bagian...
Rivanilla
Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

Akhir-akhir ini banyak terdengar kasus tawuran pelajar, bullying, anak di bawah umur yang melakukan tindak kejahatan, dan kasus remaja bunuh diri. Kasus ini disebabkan oleh banyak faktor seperti kurangnya perhatian, kekerasan pada anak, dan sebagainya. Namun, dari banyaknya faktor tersebut, faktor yang paling berpengaruh adalah faktor peran orang tua.

Hal ini mengingatkan saya akan kasus “Anak Emas” yang merasa tertekan dan membunuh orang tuanya sendiri. Jennifer, mahasiswi asal Kanada ini selalu menjadi kebanggaan orangtuanya. Sedari kecil, ia sudah menguasai piano, skating, hingga bela diri. Di luar ekskul, Jennifer seorang pelajar yang begitu tekun. Pendidikan menjadi hal yang utama di keluarganya.

Tetapi, dibalik semua kebanggaan itu, terselip kebohongan, kebencian dan dendam yang mengarah kepada pembunuhan sadis yang menghancurkan keluarga Jennifer. Segala harapan orang tuanya justru membuat Jennifer merasa tertekan. Saat duduk di kelas 8, Jennifer mulai lelah dan kehilangan semangat belajarnya. Nilainya pun hancur dan Jennifer pun mulai tidak percaya diri.

Untuk menyembunyikannya, Jennifer berbohong dengan memalsukan nilai rapotnya, bilang ke orang tuanya bahwa ia anak kelas “A”, padahal ia hanyalah anak kelas “B”. Gagal masuk universitas terkemuka di Toronto, lalu bilang bahwa ia masuk universitas dan mendapatkan beasiswa supaya orang tuanya tidak curiga mengapa Jennifer tidak pernah meminta uang untuk membayar kuliah.

Saat kebohongannya terungkap, Jennifer semakin tertekan. Ia menyewa penjahat bayaran untuk membalas perbuatan orangtuanya yang terlaku mengekang. Pada 2010, ditemukan 2 buah peluru menancap pada tubuh ayahnya, salah satunya di kepalanya. Ditemukan juga 3 peluru di kepala ibunya dan meninggal di tempat. Ayahnya berhasil selamat dan masih ingat kejadian itu.

Tahun 2014, saat pengadilan atas kasus malam itu digelar, Jennifer datar dengan tidak memperlihatkan emosinya. Tetapi ketika awak media pergi dari ruang sidang, Jennifer menangis tak terkontrol. Jennifer akhirnya dihukum seumur hidup dengan tidak melakukan permintaan pembebasan bersyarat sepanjang 25 tahun.

Pola asuh yang baik sangatlah penting untuk membangun kepribadian anak. Pola asuh otoriter adalah yang paling berbahaya. Mengapa? Pola asuh otoriter, orang tua akan memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak mereka. Ada pula pola asuh permisif, dimana orang tua akan membiarkan anak mengontrol dirinya sendiri. Kemudian, ada pola asuh demokratif dimana orang tua menjaga keseimbangan antara pola asuh Otoriter dan pola asuh Permisif. Baguskah?

Ambil saja saya sebagai contoh. Pola asuh otoriter yang diterapkan orang tua kepada saya membuat saya kurang percaya pada kemampuan diri sendiri, sulit bergaul dan sedikit bicara. Membuat hobi saya bahkan tidak dihiraukan. Membuat saya ketakutan dalam memulai sesuatu yang baru. Tertekan? Pastinya.

Menurut Hasett et.al (dalam Rodriguez, 2010), secara konseptual pola asuh otoriter diperkirakan berhubungan dengan risiko child abuse, atau kekerasan pada anak. Ambil saja saya sebagai contoh. Pola asuh otoriter yang diterapkan orang tua kepada saya membuat saya kurang percaya pada kemampuan diri sendiri, sulit bergaul dan sedikit bicara. Membuat hobi saya bahkan tidak dihiraukan. Membuat saya ketakutan dalam memulai sesuatu yang baru. Tertekan? Pastinya.

Anak yang diasuh dengan pola asuh otoriter lebih tinggi risiko  dalam mengalami stress. Menurut Coplan (2002), gaya otoriter melibatkan tuntutan yang kuat tanpa kehangatan, pemeliharaan atau komunikasi dua arah. Orang tua pada pengasuhan ini tidak hangat dalam mengasuh, namun sangat mengontrol.

Kejadian pandemi COVID-19 yang saat ini kita alami membuat saya berpikir bahwa akan ada banyak sekali anak yang stress di rumahnya. Tekanan yang akan dialami oleh anak lebih berat, karena akan lebih banyak waktu bersama orang tuanya. Ketidak mampuan orang tua dalam mengasuh anak akan berdampak pada masa depan anak.

Walaupun pola asuh otoriter mungkin akan bermanfaat bagi anak kedepannya, tetapi masa anak adalah masa dimana seharusnya anak bersenang-senang, mengeluarkan ide-ide kreatifnya. Tidak ada anak yang layak untuk diperlakukan dengan keras apapun alasannya, juga tidak ada anak yang ingin dirinya dikurung oleh aturan dan tuntutan.

Orang tua seharusnya harus sudah matang dan dewasa sebelum memiliki anak. Orang tua seharusnya dapat mendengarkan dan tidak menekan anaknya. Orang tua harus paham betul tentang cara mengasuh anak dan tentang kesehatan mental. Kesehatan mental yang baik adalah kunci kebahagiaan. Anak yang baik adalah anak yang bahagia.

Rivanilla
Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.