OUR NETWORK
From Korea With Love Concert
Sabtu, Desember 3, 2022
From Korea With Love Concert

Bagaimana Memahami Gempa Sebagai Kemarahan Alam

A.S. Rosyid
Penulis dan Peneliti di Komunitas Riset Akademi Gajah. Menekuni etika Islam, etika lingkungan hidup dan dunia literasi.
From Korea With Love Concert

Dalam dua minggu terakhir ini kita menemukan orang-orang yang menghiasi timeline dengan analisis receh hubungan antara gempa dan politik. Pendapat itu, di tengah kesedihan yang merata di Pulau Lombok, sangat tidak santun. Saat masyarakat sedang dihempas duka, ada yang melepas kegeraman dengan cara memperkeruh suasana.

Kemudian muncul pendapat serupa tapi tak sama: analisis kosmologis. Dengan lebih dari seribu kali gempa susulan (yang terasa maupun tidak), sekelompok orang mulai berpikir bumi Lombok sedang menunjukkan amarah. Bumi sudah lelah menghadapi berbagai kelancangan manusia yang tidak menghargai relasi spiritual antara alam dan manusia. Rinjani dan gumi paer muak.

Saya di antara sebagian kecil orang yang sepaham dengan gagasan “kedirian alam” (alam memiliki kepribadian dan kesadaran), dengan sejumlah alasan yang akan dikemukakan kemudian. Pendapat semacam itu ada dalilnya dalam filsafat, sains, dan agama.

Dalil-Dalil Adanya Kepribadian Alam

Dari sudut pandang filsafat (fenomenologi lingkungan), alam dianggap sebagai “subjek hidup”, yang memiliki kesadaran dan kompleksitas eksistensional, bukan sekedar objek tanpa hak. Tidak pahamnya manusia pada subjektivitas alam adalah masalah manusia itu sendiri, yakni lantaran kurangnya kapasitas intelektual dan spiritual.

Fenomenologi lingkungan mengkritik pandangan filsafat yang terlalu mengobjekkan alam, memandangnya sebagai entitas mekanis non-rasional, sehingga boleh dikuasai. Pengingkaran terhadap subjektivitas alam, selain membuat manusia merasa berhak menindak alam (karena dianggap tak ubahnya properti), manusia pun akan gagal memahami ‘bahasa’ alam: kapan alam menunjukkan sikap bermurah hati, bersabar, atau justru menunjukkan resah dan murka.

Dalam hal ini, Buku Saras Dewi, “Ekofenomenologi”, adalah bacaan yang sangat baik. Buku ini mendorong manusia agar menyadari bahwa mereka, tak lebih tak kurang, hanyalah satu komunitas biota dalam semesta komunitas biota/nonbiota di alam. Alam adalah pusat (ecosentrism) yang menentukan eksistensi di sekitarnya.

Dari sudut pandang sains, kita kembali menemukan keterbatasan. Sains mudah mengkaji fakta ilmiah tentang aktivitas hidup hewan dan tumbuhan. Namun apakah hewan dan tumbuhan memiliki “kepribadian” sehingga layak dianggap setara dengan manusia? Bagaimana dengan entitas selain hewan dan tumbuhan—semisal tanah, batu, air, dan udara, atau gunung?

Pada titik ini, sains harus menyadari dengan rendah hati “keterbatasan”-nya. Sains berkembang, dan perkembangan itu tak jarang membantah temuan lama. Yang hari ini disebut fakta bisa jadi mitos kemudian. Memang sulit: kita (manusia) dituntut untuk menilai sesuatu menurut sesuatu itu sendiri (itself in itself), bukan menurut kita. Sains terbatas karena mengamati hanya tampakan fisik, karena itulah perlu bantuan dari disiplin ilmu lain. Ekofenomenologi, misalnya.

Kabar baiknya, ada banyak aliran dalam sains dan salah satunya berusaha membuktikan kedirian alam. Penemuan atas “wood wide web” mengungkapkan pola komunikasi antar pohon yang dimungkinkan dengan difasilitasi oleh tanah. Sebuah penelitian di India membuktikan bahwa potongan kayu memiliki emosi dan dapat mengenali siapa penebangnya. Kedua penemuan tersebut bisa dijadikan petunjuk untuk melihat lebih jauh kedirian alam.

Dari sudut pandang agama, kita akan menemukan lebih banyak petunjuk. Dalam agama Islam, misalnya, terdapat banyak riwayat bahwa Nabi Saw. gemar memberi nama pada benda-benda miliknya (pedang, gelas, sandal), seakan mereka hidup. Sebuah ranting di mimbar masjid pernah menangis karena hendak diganti Nabi Saw. dengan kayu lain—semua sahabat mendengar tangisan itu. Empat sahabat utama pernah mendengar batu bertasbih. Pohon bisa berjalan ketika dipanggil oleh Nabi Saw.

Maka, ditambah dengan isyarat etis dalam berbagai putusan fiqih yang berkenaan dengan pemeliharaan alam, semua riwayat tersebut di atas membuktikan adanya dimensi kehidupan lain yang tidak ditangkap manusia, dan Islam mengakuinya. Bahkan al-Qur’an tegas menyebut semua yang ada di langit dan bumi sesungguhnya “bertasih”, dan di hari pembalasan nanti “kaki dan tanganlah yang akan bersaksi”, sebagai kedirian terpisah dari kedirian manusia.

Agama Hindu sebagai agama tirta melihat air dan tanah sebagai entitas hidup yang suci. Agama Buddha mengembangkan studi yang serius akan kesadaran manusia yang bisa menyatu dengan kosmik utama dunia. Agama lokal nenek moyang jangan ditanya: kita akan terkejut melihat betapa mereka mengembangkan falsafah ekofeminisme yang maju. Watu Telu di Pulau Lombok adalah satu di antaranya, dengan konsepsinya tentang tiga yang melahirkan kehidupan: menelok (bertelur), meniwok (bertumbuh)dan menganak (berlahir).

Kritik Atas Manusia Modern

Gempa Lombok semakin mengambil korban. Tak hanya korban jiwa dan luka, yang paling menyedihkan adalah rubuhnya rumah-rumah. “Kehilangan rumah” berarti kehilangan daya hidup. Mudah membangun rumah lagi selama ada modal, namun hampir semua korban gempa yang rumahnya rubuh adalah mereka yang secara ekonomi menengah ke bawah. Perlu bersesak napas dahulu untuk membangun kembali rumah-rumah.

Wajar bila ada yang prihatin dengan cara “menyalahkan” perilaku manusia. Rinjani telah dikotori sedemikian rupa. Pendaki yang sekarang tidak mengindahkan tata krama spiritual yang dahulu kala menjadi kekhasan pendaki lokal. Almarhum Maulana Syaikh dan sebagian besar pembesar spiritual di Lombok juga pernah berpesan tentang tata krama spiritual tersebut. Gempa boleh kita jadikan kritik atas modernitas yang melirik alam dengan sebelah mata.

Namun, hal yang lebih mengerikan dari sekedar lepasnya manusia dari alam adalah “lepasnya manusia dari manusia”. Keterlepasan ini mengakibatkan fenomena karikatifnya empati dan simpati manusia. Selain bantuan, sebagai solidaritas, apa yang dilakukan elit politik dalam situasi rakyat tertimpa musibah?

Tanpa bermaksud menyindir siapapun, kita bisa mengingat betapa pemerintah India pernah membatalkan perayaan hari kemerdekaan nasional mereka sebagai solidaritas bagi seorang warganya yang menjadi korban pelecehan seksual hingga meninggal. Sungguh sebuah pesan solidaritas yang kuat.

A.S. Rosyid
Penulis dan Peneliti di Komunitas Riset Akademi Gajah. Menekuni etika Islam, etika lingkungan hidup dan dunia literasi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.