OUR NETWORK
Kamis, Agustus 18, 2022

Bagaimana Manusia Lebih Cerdas dari AI?

Avatar
Ainun Nafisah
Lulusan Filsafat UIN Walisongo Semarang/kru di Lembaga Pers IDEA Semarang.

Apa yang lebih menarik dari “kemajuan” dibandingkan dilematisasinya? Laju peradaban selalu memainkan efek domino; kebahagiaan dan kecemasan. Ketika pasar saham sudah ramai membincangkan porspek dunia serba robotik, sebagian orang di belahan bumi ini juga semakin nyaring berbicara tentang ketakutan akan “hilangnya” sebuah peradaban.

Perbincangan tentang dunia serba canggih dan praktis bersama Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sebagai mimpi utopis, tetapi sudah menjadi bagian dari realitas yang kita hadapi. Sebagaimana kita menjalaninya saat ini. Kita sudah mulai mengenal dan terbiasa dengan ruang hidup yang serba teknologi. Mulai dari belanja kebutuhan sehari-hari, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, melakukan perjalanan, hingga kebutuhan akan pengetahuan pun kita sudah semakin terikat dengan mesin dan internet.

Bukan tidak mungkin, bahkan semakin nyata, bahwa kita akan segara masuk-atau bahkan sudah-pada sistem masyarakat yang tidak hanya terkoneksi, tetapi juga memanfaatkan kecerdasan teknologi sepenuhnya. Kita menyebutnya sebagai society 5.0. Dimana masyarakatnya mampu mencapai tingkat konvergensi tinggi antara ruang virtual dan ruang fisik.

Ketika di masa society 4.0 pada masa revolusi industri 4.0 orang-orang mengakses layanan cloud (database) di dunia maya melalui internet (mencari, mengambil, dan menganalisis informasi), masyarakat di masa society 5.0 hanya perlu menerima hasil analisis yang dilakukan oleh mesin. Analisa tidak lagi dilakukan secara manual. Sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik terakumulasi di dunia maya. Kemudian AI akan menganalisisnya dan mengumpankan kembali ke manusia di ruang fisik dalam berbagai bentuk.

Cepat, praktis, dan serba efisien menjadi ciri masyarakat dalam ruang berteknologi tinggi. Kesalahan dalam bekerja pun bisa ditekan. Termasuk meminimalisir pembuangan bahan baku produksi yang didapat dari alam. Kesetaraan dan kesejahteraan menjadi poin utama untuk dicapai dalam masyarakat berteknologi tinggi.

Lalu, apa yang menimbulkan kecemasan untuk menerima kemajuan berbasis AI?

Salah satu ketakutan AI yang paling besar ialah kecemasan umum tentangnya dan potensi kemampuannya. Sebagaimana yang ditampilkan dalam film-film fiksi ilmiah. Dalam film Terminator misalnya. Para robot yang sejatinya hanya mesin buatan manusia, justru berbalik arah melawan manusia.

Menciptakan robot-robot baru dan menyerang peradaban untuk menjadi entitas yang adikuasa. Atau dalam film “Mother/Android” (2021) yang menampilkan pembunuhan masal oleh robot terhadap manusia. Orang tidak suka mesin yang terlalu pintar, karena takut tidak bisa mengendalikannya. Representasi AI yang populer ini menjadi buruk dan menyebabkan kewaspadaan di masyarakat seputar pengembangan teknologi sistem kecerdasan.

Ketakutan terbesar lainnnya berkaitan dengan pengambil-alihan peran. Ide otomatisasi menjadi sumber kecemasan bagi sebagian orang dalam bereksistensi. Orang-orang menjadi gaduh ketika AI terutama dalam bentuk robot dikhawatirkan mengambil alih semua aspek kehidupan. Selain itu, juga menjadi dilema jika saja AI benar-benar akan berjaya, masihkah nilai kemanusiaan tetap ada?

AI, menjadi salah satu kemajuan teknologi paling transformatif dalam sejarah peradaban umat manusia. Tetapi, jika AI bersifat transformatif, maka ia memiliki kekuatan untuk menjadi lebih transformatif entah untuk alasan yang baik maupun yang buruk. Perdebatan akan dua hal ini masih membumbui perjalanan menuju titik kemajuan yang dicita-citakan.

Ketakutan umum lainnya terhadap AI adalah bahwa aktor jahat dapat melakukan hal-hal buruk terkait AI. Para pemimpin di Rusia membuat pernyataan bahwa siapa pun yang memimpin kemajuan AI akan menjadi salah satu penguasa Top dunia.

Alih-alih menjadi perpanjangan tangan manusia untuk mempermudah kehidupan, justru memperbudak manusia. Ketakutannya adalah, otak kita tidak akan mampu mengikuti laju kemajuan, perkembangan, dan penemuan setelah titik tertentu karena segala sesuatunya bergerak terlalu cepat.

Sistem komputasi dapat mencapai titik dimana mereka melampaui penciptanya. Hal ini membuat kita mempertanyakan apa arti dari kecerdasan dan bagaimana kita mendefinisikan kecerdasan sebagai konsep untuk kemanusiaan dan komputer? Tetapi semua ini mengasumsikan bahwa sistem dapat dan akan mencapai tujuan Artificial General Intelegence (AGI).

Argumen tandingan terbesar dari semua ini ialah bahwa kita masih jauh dari pencapaian AGI dari yang sebenarnya kita pikirkan. Sementara banyak teknologi bergerak cepat untuk mewujudkan tujuan AI, ada bagian yang masih tidak bisa tersentuh oleh laju teknologi. Yakni kekuatan berpikir dan menalar dalam konteks pembacaan yang lebih epistemologis terhadap variabel-variabel.

Kecerdasan AI vs Manusia Cerdas

Satu hal yang mungkin luput dalam luapan gelombang kecemasan terhadap kecerdasan buatan. Bahwa Kecerdasan yang disistemkan di dalam AI tak lain adalah sistem yang dibuat sendiri oleh manusia. Artinya, manusia memiliki kontrol dan memahami batas-batas bagaimana kecerdasan buatan itu harus berlaku.

Selain itu, ada tiga hukum robot yang sudah ditetapkan dalam penciptaannya. Pertama, robot tidak akan, dengan tindakan atau kelambanannya, membiarkan bahaya menimpa manusia. Kedua, robot tidak akan, dengan tindakan atau kelambanannya, atau kecuali karena itu melanggar aturan pertama, membiarkan bahaya menimpa dirinya sendiri. Ketiga, robot akan, kecuali jika ini menyebabkan melanggar aturan pertama atau ke-dua, melakukan apa yang dilakukannya diperintahkan oleh manusia (Simon, Hinchley Wood UK).

Hukum-hukum ini dirancang untuk menjadi bagian dari sifat bawaan robot. Menjadi instruksi yang ada di dalam setiap robot untuk mencegah mereka tidak berfungsi dengan cara yang membahayakan.

Jika dipahamai lebih dalam, hukum ini mengindikasikan bahwa setiap tindakan yang dilakukan sistem kecerdasan buatan tidak mungkin tidak berada di bawah kesadaran manusia yang mengoperasikannya. Karena pada dasarnya, sistem AI bekerja hanya untuk memberikan tawaran penyelesaian terhadap permasalahan. Manusialah yang mengambil peran dalam menentukan keputusan seperti apa yang akan diambil.

Dalam hal ini, tentunya manusia membutuhkan modal untuk memahami keputusan dan tindakan yang dilakukan. Manusia tetap harus menggunakan kecerdasannya dalam mendialektikakan tawaran keputusan oleh AI dengan relevansi konteks permasalahan serta kemungkinan resiko yang akan muncul.

Di sini, lagi-lagi manusia dituntut untuk mampu “membaca” lebih, tidak hanya melihat permasalahan. Sayangnya, kesadaran terhadap kecerdasan ini sering tersisihkan oleh kilauan kemajuan kecerdasan yang nampak menawan dan menimbulkan euforia.

Kebanyakan orang hanya tahu sedikit tentang potensi besar yang kita miliki dalam teknologi kita. Jika kita menggunakan semua komputer dan perangkat seluler canggih kita untuk bekerja sama memecahkan masalah, maka kecerdasan kolektif dan energi jutaan orang dapat digunakan untuk meningkatkan kehidupan setiap manusia dan setiap makhluk hidup di planet ini. Manusia adalah sistem kekebalan untuk planet ini.

“Masalah sebenarnya bukanlah apakah mesin berpikir tetapi apakah manusia melakukannya.” – BF Skinner (1904 – 1990)

Avatar
Ainun Nafisah
Lulusan Filsafat UIN Walisongo Semarang/kru di Lembaga Pers IDEA Semarang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.