Jumat, April 23, 2021

Apa Kesuksesan Utama Orang Tua

Kang Moeslim, Selamat Jalan (Mengenang Moeslim Abdurrahman, 6 Juli 2012)

Kurang lebih lima tahun yang lalu, kami, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), sebuah komunitas anak-anak muda Muhammadiyah yang dimentori oleh Dr. Moeslim Abdurrahman,...

Nabi Muhammad SAW, Sang Pembawa Perubahan

Agama Islam dalam sejarah perkembangannya merupakan agama yang selalu menekankan pentingnya perubahan. Perubahan tersebut tidak hanya pada perilaku dan sifat manusia, melainkan juga pada...

Mendulang Pundi dari Bisnis Fotografi

Manusia memiliki sejarah dan kenangan masing-masing. Lewat kenangan, mereka menceritakan pengalaman kepada anak dan cucu. Dalam membantu merekosntruksi bayangan dari cerita tersebut, fotografi menjadi...

Candaan Joshua dan Ketersinggungan Umat Islam

Ketika masih hidup, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang suka melawak menggunakan tema agama, baik Islam maupun agama lain. Hal ini dilakukan bukan untuk...
Avatar
Rinto Simorangkir
Orang biasa yg bermukim di kaki Gunung Sinabung

najwa shihab fam

Sungguh menarik untuk membahas tentang Mata Nadjwa, yang sudah tayang lebih dari 7 tahun, dan yang sudah menghasilkan lebih dari 500 episode, menghiasi layar kaca kita. Nadjwa sendiri adalah seorang anak dari seorang cendekiawan muslim  yang terkenal sekaligus rendah hati, yakni  Muhammad Quraish Shihab.

Quraish shibab sendiri enggan menggunakan gelar Habib ataupun Kyai pada namanya. Meskipun layak untuk menyandang gelar itu, tapi tidak menggunakannya dalam deretan namanya. Gelar Habib sendiri adalah suatu gelar yang menunjukkan bahwa masih ada pertalian darah dengan Sang Nabi Muhammad sendiri. Secara harfiah, Habib sendiri berarti orang yang mencintai.

“Pengertiannya bukan hanya orang yang mencintai, tapi termasuk orang yang dicintai, alias jadi Al-Mahbub,” kata Habib Ahmad Muhammad bin Alatas, Ketua Maktab Nasab Rabithah Alawiyah –organisasi pencatat silsilah habib di Indonesia– kepada kumparan, Rabu (11/1).

Menjadi habib bukan perkara mudah. Ada kriteria dan mekanisme yang harus dipenuhi. Mereka mesti menyerahkan daftar silsilah turunan Rasul hingga tujuh tangga keluarga ke atas. Berbagai syarat administrasi pun wajib dipenuhi. Semua itu diatur oleh Rabithah Alawiyah.

Habib, di kalangan Arab-Indonesia, lebih menjadi titel kebangsawanan orang-orang Timur Tengah kerabat Nabi Muhammad SAW –dari keturunan putri Rasulullah, Fatimah, dengan Ali bin Abi Thalib. Menjadi habib di Indonesia menjamin derajat tersendiri di tengah masyarakat. Imej sebagai keturunan Nabi masih menjadi hal istimewa di negara berpenduduk muslim terbesar ini.

Jadi beliau hanya mau dipanggil Ustad, yang berarti seorang guru. Yakni yang mampu memberikan pencerahan. Sebab ayahnya Quraish Shibab, Habib Abdurrahman, telah mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak terlalu menunjukkan gelar, apalagi yang ternyata memang benar bahwa ia adalah keturunan langsung dari sang Nabi sendiri.

Papanya ataupun kakek dari Najwa Shibab, menyematkan gelar Shibab kepadanya, sebab memang benar perlakukan sang kakek yang menunjukkan cinta kasih yang besar kepada semua cucu-cucunya.

http://peduli%20fakta.blogspot.co.id

Keluarga besar Shihab pun demikian. Alwi Shihab dan Umar Shihab, kedua adik Quraish Shihab, juga memilih untuk tidak menggunakan gelar habib. Alwi mengkhawatirkan adanya fenomena kemunculan habib-habib yang tidak sesuai dengan aturan dan tidak mencerminkan akhlak seorang yang pantas dipanggil habib. Alwi menyebutnya sebagai “inflasi habib,” di mana jumlah habib yang bertambah justru menjadikan nilai mereka turun.

Kembali ke Najwa Shihab. Seorang tokok jurnalis yang sangat kritis, yang mampu membawa Mata Nadjwa menjadi program unggulan dari Metro TV. Ketika dikabarkan bahwa Mata Nadjwa akan berhenti tayang, mengakibatkan banyak warga Indonesia menjadi baper dan merasa kehilangan.

Banyak tulisan-tulisan atau artikel yang muncul akibat berakhirnya tayangan Mata Nadjwa. Mulai dari tulisan yang pro maupun yang kontra. Yang kontra mengatakan bahwa Program Mata Najwa merupakan program settingan dari yang pro pemerintah. Artinya ketika yang diwawancarai itu adalah orang yang pro pemerintah,dipastikan segala pertanyaannya tidak sekritis kepada orang yang lagi kontra ke pemerintahan. Dan banyak tudingan-tudingan miring lainnya, seperti adanya dugaan bahwa Najwa sendiri akan beralih ke politik atau pemerintahan.

Tapi semua akhirnya terjawab, ketika catatan tanpa titik minggu lalu, Kamis (31/8), ketika host yang diundang adalah Gibran Rakabuming, menanyakan setelah Mata Najwa tidak tayang, Mbak Nana mau kemana? Dan pertanyaan serupa yang disampaikan oleh Bapak Jokowi via telepon juga menanyakan hal yang sama, mau kemana setelah Mata Najwa tidak hadir lagi di media televisi. Hal ini semakin mempertegas secara kuat, bahwa berakhirnya tayangan ini, bukan karena ada pihak istana yang hendak memanggil dia terlibat dalam pemerintahan sebagai menteri.  Sebab Bapak Jokowi sendiripun ternyata bertanya kemana setelah ini.

Hal yang menjadi sorotan saya adalah bahwa yang menjadi hal yang tak pernah dilupakan oleh Najwa sendiri adalah ketika dia akan mewancarai ayahnya sendiri. Dan memang sejak awal, dia tidak mau melibatkan keluarga besarnya menjadi narasumber pada acaranya. Tapi hal itu tidak bisa lagi dihindari, sebab, ternyata papa-nya adalah orang yang paling berkompeten saat itu, untuk menyampaikan pesan-pesan penyejuk. Dikarenakan kondisi bangsa kita yang begitu gampangnya tersulut emosi dan jiwa ketika suatu hal yang sedang terjadi. Seperti saat ini yang sedang terjadi juga, masalah kemanusiaan di Myanmar.

Kira-kira apa yah, anggapan sebagai orang tua, ketika bisa melihat anaknya beraksi dan berdiri bersama sepanggung dan disaksikan oleh dunia. Meskipun bagi kita tampaknya sepele, sebab memang pada kenyataannya seorang jurnalis yah pasti bisa mengeksplorasi seluruh narasumbernya. Tapi hampir bisa dipastikan, bahwa hal itu menjadi suatu peristiwa yang menggetarkan sang anak sendiri. Sebuah moment yang sangat indah, menegangkan, tapi harus menunjukkan keprofesionalannya sekaligus.

Orang tuanya pasti mendeklarasikan, bahwa ini-loh anakku, lihat dia, berdiri bersama dengan aku. Lihat keberhasilannya, lihat prestasinya. Meskipun hal itu tidak ditampilkan secara langsung oleh sang papa sendiri. Ada rasa bangga dan haru ketika kita sebagai orang tua bisa menyaksikan secara langsung prestasi dan keunggulan anak kita. Apalagi di satu moment atau satu panggung. Peristiwa itu menjadi suatu sejarah yang pastinya tidak akan bisa kita lupakan. Dan itulah yang menjadi kebanggaannya para orang tua.

Kemudian kebanggaannya yang lain adalah ketika bisa mengerjakan amanat dari orang tua kita. Seperti yang dilakukan oleh sang kakek Najwa sendiri, untuk tidak terlalu menggagahkan segala gelar ataupun atribut kepangkatan yang ada. Meskipun kita punyai tapi tidak perlu disombongkan.

Dan terakhir ketika orangtua bisa menurunkan spirit kerohanian yang sama kepada anaknya. Bukan hanya membekali dengan segudang ilmu dan pengetahuan, tapi mengabaikan aspek jiwa dan kerohaniannya. Selalu mengajarkan untuk tinggal dalam sprit lingkungan kerohanian yang baik dan mengusahakannya itu terealisasi dalam kehidupannya. Sehingga dia akan mencintai ataupun mengasihi Tuhan-nya, mengasihi orang tuanya, mengasihi sesamanya dan lingkungannya.

    

 Read more at https://kumparan.com/tio/quraish-shihab-sekeluarga-memilih-melepas-gelar-habib#jPC4pAUmeTZywjuW.99

Avatar
Rinto Simorangkir
Orang biasa yg bermukim di kaki Gunung Sinabung
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.