OUR NETWORK
Minggu, Februari 5, 2023

Antara Cak Nun, Firaun, dan Khalifah Harun al-Rasyid

Abdurrasyid Ridha
Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Cabang Indramayu. Mahasiswa S3 di Prodi Hukum Keluarga Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
From Korea With Love Concert

Beberapa hari ini publik digegerkan dengan perkataan budayawan dan sastrawan kondang Emha Ainun Nadjib yang banyak beredar di media sosial. Sang budayawan yang sering dipanggil Cak Nun itu menyamakan Presiden Jokowi dengan Firaun. Tak ayal, analogi tersebut membuat marah sebagai orang. Di sisi lain, ada juga beberapa pihak yang membela ucapan sang sastrawan.

Dalam sejarah peradaban Islam, tercatat pula kisah seorang ulama yang mengkritik tajam sang pemimpin. Kisah tersebut diungkapkan dalam buku berjudul Mir’ah al-Jinan wa ‘Ibrah al-Yaqzhan karya Abdullah bin As’ad bin Ali al-Yaqifi (1298-1367 M), seorang ahli sejarah, peneliti, dan pengamal tasawuf.

Kisah tersebut adalah tentang Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dari Dinasti Abbasyiah saat menghadapi seorang ulama yang mengkritiknya dengan kritikan tajam. Kisah tersebut diceritakan kembali oleh Abu Sa’id al-Ashma’i, seorang ulama dan ahli bahasa yang hidup di zaman Khalifah ar-Rasyid.

Suatu ketika al-Ashma’i bersama dengan sang Khalifah di kota Mekkah. Tiba-tiba datang seorang ulama bernama Ali bin Abdullah al-Umari ash-Shan’ani. Ia memang dikenal sebagai ulama yang suka menentang sang Khalifah.

“Wahai, Amirul Mukminin,” seru al-Umari. “Aku akan mengatakan kepada Anda perkataan yang keras! Semoga Allah membuatmu mampu menerimanya.”

“Lakukan saja,” jawab Harun al-Rasyid, sang khalifah. “Tapi demi Allah! Allah telah mengutus seseorang yang lebih baik daripada dirimu kepada seseorang yang lebih buruk daripada diriku. Allah justru memerintahkan, “Katakanlah oleh kalian berdua (Nabi Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lemah lembut!”

Kisah di atas juga pernah dikutip oleh Gus Baha dalam ceramah beliau yang tersebar di media sosial. Dari kisah tersebut, kita bisa melihat betapa cerdiknya sang Khalifah saat menghadapi sang pengkritik. Khalifah Harun ar-Rasyid memang dikenal sebagai seorang khalifah yang alim dan dekat dengan para ulama. Meski demikian, ada saja para ulama yang tidak menyukai beliau.

Dalam jawaban Harun al-Rasyid di atas, ia mengutip ayat Alquran, Surah Thaha ayat 44. Jika dibaca dari ayat sebelumnya, terlihat konteksnya dengan jelas. Terjemahannya sebagai berikut: Pergilah kalian berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun. Sesungguhnya, ia adalah orang melampaui batas (43). Katakanlah oleh kalian berdua kepadanya perkataan yang lemah lembut. Semoga saja ia sadar atau takut (44). 

Meski tidak disebutkan secara langsung oleh Harun al-Rasyid, namun jawaban tersebut merupakan sindiran yang cukup telak. Sebagai seorang ulama, al-Umari tentu mengetahui siapa yang dimaksud oleh Harun dengan “orang yang lebih baik darimu” dan “orang yang lebih buruk dariku”. Apalagi kemudian Harun al-Rasyid menyitir langsung ayat al-Qur’an: Katakanlah oleh kalian berdua kepadanya perkataan yang lemah lembut.

Secara tidak langsung Harun al-Rasyid seolah mengatakan kepada al-Umari, “Engkau tidaklah lebih baik daripada Nabi Musa. Dan aku pun tidaklah lebih jahat daripada Firaun. Mengapa engkau tega mengatakan kata-kata yang keras kepadaku?! Padahal Nabi Musa yang jauh lebih baik daripada dirimu diperintahkan oleh Allah untuk berkata-kata lemah lembut kepada Firaun yang jauh lebih jahat daripada diriku.”

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim, dari ayat di atas terdapat pelajaran penting. Meskipun Firaun adalah orang yang sangat membangkang dan sangat sombong, sedangkan Nabi Musa adalah makhluk pilihan Allah saat itu, namun tetap Nabi Musa diperintahkan oleh Allah  untuk menyampaikan dakwahnya dengan tutur kata yang ramah dan lemah lembut.

Sedangkan Ibnu Asyur dalam karya tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir min at-Tafsir, menyebutkan bahwa bertutur kata lemah lembut merupakan syiar dakwah untuk menyampaikan kebenaran. Hal itu karena tujuan dari para rasul menyampaikan dakwah adalah agar orang mendapatkan hidayah, bukan untuk menunjukkan kebesaran diri. Perkataan yang keras yang justru bisa menjadi kontraproduktif. Namun jika nasihat lemah lembut tidak berhasil, barulah perkataan yang keras bisa dilakukan. 

Masih dalam kitab yang sama, sang penulis, al-Yaqifi menuturkan cerita yang hampir mirip. Suatu hari seorang ulama besar dan terkenal bernama Muhammad bin Ismail al-Hadhrami pernah menulis untuk pemimpin Yaman saat itu, yaitu Al-Malik al-Muzhaffar Yusuf bin Umar. Dalam tulisannya yang panjang lebar, sang ulama mencaci maki sang pemimpin. Lantas sang  pemimpin menjawab, “Allah telah mengirimkan seseorang yang lebih baik daripada dirimu kepada seseorang yang lebih buruk daripada diriku.”

Dalam riwayat lain, al-Muzhaffar menjawab cercaan itu dengan berkata, “Anggap saja dirimu Nabi Musa, padahal engkau sebenarnya bukanlah Nabi Musa. Anggap saja diriku sebagai Firaun, padahal aku sebenarnya bukanlah Firaun. Dan sungguh Allah telah berfirman, “Maka ucapkanlah oleh kalian berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan ucapan yang lemah lembut.”

Dengan konteks itulah, Nabi Musa adalah seorang manusia pilihan yang terbaik saat itu, di samping Nabi Harun. Orang yang sebaik Nabi Musa saja diperintahkan oleh Allah untuk menasihati Firaun dengan tutur kata yang lemah lembut. Padahal sangat layak beliau untuk menasihati Firaun, bahkan dengan kata-kata yang keras sekalipun.

Di sisi lain, Alquran menggambarkan Firaun sebagai sosok yang sangat melewati batas; memerintahkan untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir; dan mengaku dirinya sebagai tuhan. Meskipun Firaun sangat pantas untuk dinasihati dengan kata-kata yang keras, bahkan dicaci maki, namun justru Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menghadap Firaun dan berkata-kata dengan lemah lembut. Wallahu a’lam.

Abdurrasyid Ridha
Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Cabang Indramayu. Mahasiswa S3 di Prodi Hukum Keluarga Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.