Senin, Juli 15, 2024

Analisis Kasus Etika Profesi ‘Dieselgate’ oleh Volkswage

Novia Lusianti
Novia Lusianti
Mahasiswa Teknik Industri Universitas Andalas, Padang

Pada tahun 2015, di mana perusahaan otomotif Volkswagen (VW) terbukti melakukan manipulasi perangkat lunak pada mesin dieselnya untuk mengurangi emisi nitrogen oksida (NOx) selama pengujian emisi.

Dikutip dari laman cnnindonesia.com, sebanyak 40 kali lebih banyak gas emisi nitrogen oksida (NOx) dilepaskan dari pengujian ‘Dieselgate’ ke jalanan [1]. Hal ini diketahui oleh peneliti dari University of West Virginia di Amerika Serikat pada tahun 2014, dan pada tahun 2015 lembaga pemerintahan AS, Environmental Protection Agency menuduh VW menipu tes emisi diesel menggunakan ‘perangkat lunak’. ‘Perangkat lunak’ ini dapat mendeteksi saat kendaraan sedang diuji dan mengoptimalkan pengaturan emisi agar sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Dilansir dari Tribunnews.com, VW bertindak curang dengan memasangkan perangkat lunak defeat devices yang digunakan untuk menipu hasil tes uji emisi diesel agar dapat memberikan keterangan / informasi palsu bahwasannya kendaraan diesel yang dikeluarkan VW sangat ramah lingkungan dimana VW mengklaim mesin diesel mereka dapat mengurangi polusi udara [2].

VW berhasil menutupi informasi palsu ini selama bertahun-tahun kepada konsumen yang pada akhirnya informasi palsu ini diketahui oleh Lembaga pemerintahan AS. Akibat dari tindakan kertidakprofesional-an ini, VW dituntut firma hukum lantaran telah menipu masyrakat untuk membeli mobil yang melanggar peraturan emisi dengan memasangkan perangkat defeat devices. VW membayar denda dan mengakui kesalahannya yang telah ia perbuat pada pelanggannya. Besar biaya denda yang dikeluarkan VW adalah sebesar 32 miliar euro. Dan pengeluaran ini merupakan kerugian terbesar dalam sejarah Volkswagen.

Dilihat dari kasus di atas, permasalahan ini termasuk kasus etika profesi karena menyangkut etika seorang insinyur otomotif saat menyampaikan informasi palsu produknya kepada masyarakat. Seorang insinyur harus mengungkapkan kekurangan produknya dan menahan produk untuk dikeluarkan kepada konsumen untuk menjamin keselamatan publik dan lingkungan sekitar.

Analisa kasus

Menganalisa kasus diatas dapat kita pahami masalah etikanya dengan pemikiran etika dan teori etika.

  • Pemikiran etika

Pada cara berpikir Deontologis, perbuatan VW terhadap masyarakat dan lingkungan jelas terbukti salah sesuai dengan peraturan pemerintah dan peraturan emisi kendaraan bagi lingkungan. Perilaku VW sangat tidak etis bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat serta lingkungan.

Pada cara berpikir Teleologis, perbuatan VW sangat menunjukkan perilaku imoral terhadap masyarakat karena VW hanya mengedepankan egonya agar produk ‘Dieselgate’-NYA diterima pada masyarakat dengan memanipulasi informasi dan pada kasus ini hanya menguntungkan satu pihak saja yaitu pihak VW.

VW juga tidak memikirkan kondisi lingkungan  bagaimana jika produk yang dibeli konsumen melebihi 20 produk atau bisa lebih itu akan mengeluarkan gas emisi nitrogen oksida (NOx) yang akan mengeluarkan 40 kali lebih banyak gas dari seharusnya, 40 kali lipat gas tersebut hanya dikeluarkan oleh 1 produk mobil diesel itu saja.

  • Teori etika

Pada teori Utilitarianisme, VW tidak menerapkan teori ini dimana VW hanya mengangkat derajat perusahaannya saja, tindakan VW dapat dianggap salah, karena mereka mengorbankan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan untuk keuntungan finansial dan reputasi perusahaan.

Manipulasi emisi yang dilakukan VW adalah bentuk tindakan egois yang memberikan manfaat kepada perusahaan dengan merugikan banyak orang. Konsumen yang membeli kendaraan diesel VW didorong oleh asumsi bahwa kendaraan tersebut ramah lingkungan dan sesuai dengan standar emisi yang ditetapkan. Namun, kendaraan tersebut menghasilkan emisi (NOx) yang jauh lebih tinggi daripada yang diumumkan, berdampak negatif pada kualitas udara, dan berpotensi menyebabkan masalah kesehatan pada masyarakat.

Pada teori Analisis biaya-manfaat, VW melakukan manipulasi emisi pada kendaraan diesel mereka dengan tujuan mengurangi biaya pengembangan teknologi emisi yang lebih baik. Dengan melakukan ini, VW dapat memproduksi kendaraan dengan harga lebih rendah dan meningkatkan penjualan mereka. Tindakan VW dalam kasus ini tidak dapat dibenarkan secara etis. Biaya yang dikeluarkan dalam hal kehilangan kepercayaan publik, dampak negatif pada lingkungan, dan potensi masalah kesehatan jauh melebihi manfaat yang diperoleh dalam hal penghematan biaya.

Pada teori Kewajiban dan hak, fokus diberikan pada kewajian melindungi hak-hak dan penghargaan terhadap hak-hak individu. Dalam hal ini, VW melanggar kewajiban moral mereka untuk beroperasi dengan integritas dan kejujuran. Mereka sengaja memanipulasi perangkat lunak pada kendaraan mereka untuk menghindari pemenuhan standar emisi yang ditetapkan. Tindakan ini melanggar kewajiban mereka untuk memberikan informasi yang jujur kepada konsumen dan menjaga kepercayaan publik.

Selain itu, tindakan VW juga melanggar hak-hak individu konsumen. Konsumen memiliki hak untuk memperoleh informasi yang akurat dan jujur tentang produk yang mereka beli.

Pada teori Moralitas, fokus pada kata-kata seperti jujur, setia, dan tanggung jawab. Dalam hal ini, tindakan VW dalam memanipulasi emisi kendaraan diesel mereka melanggar prinsip moralitas seperti kejujuran, integritas, dan tanggung jawab. Perusahaan tersebut dengan sengaja menyembunyikan informasi yang penting tentang emisi kendaraan mereka, sehingga menipu konsumen dan badan regulasi.

Teknik penyelesaian

Dalam penyelesaian etika kasus Dieselgate oleh Volkswagen, teknik penyelesaian yang dapat digunakan dengan pertimbangan paradigma positif dan negatif melibatkan langkah-langkah berikut:

  • Paradigma Positif:
  • Membeli kembali mobil konsumen atau memperbaikinya
  • Memberikan informasi yang jujur dan akurat kepada konsumen.
  • Mengakui kesalahan dan meminta maaf
  • Paradigma Negatif:
  • Penggantian produk mobil diesel ditawarkan hanya jika konsumen mengetahui adanya masalah pada produk

Dengan mempertimbangkan kedua paradigma ini, Volkswagen dapat mengambil langkah-langkah positif untuk memperbaiki dampak negatif yang diakibatkan oleh Dieselgate. Melalui tindakan perbaikan, pemberian informasi yang jujur, dan pengakuan kesalahan, mereka dapat memulihkan kepercayaan publik dan mengubah bisnis mereka menuju etika yang lebih baik.

Kesimpulan dari kasus ‘Dieselgate’ oleh Volkswagen adalah tindakan yang tidak etis seperti manipulasi emisi tidak hanya merugikan perusahaan secara finansial dan reputasi, tetapi juga berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan. Perusahaan harus memprioritaskan kejujuran dan kewajiban moral dalam setiap aspek untuk membangun hubungan yang kuat dengan konsumen dan masyarakat secara keseluruhan.

SUMBER BERITA :

[1] CNN Indonesia : https://www.cnnindonesia.com/otomotif/20190927132013-579-434627/jalan-cerita-dieselgate-yang-bikin-vw-rugi-ratusan-triliun

[2] Tribunews : https://m.tribunnews.com/otomotif/2022/05/27/tersandung-kasus-dieselgate-di-inggris-volkswagen-didenda-rp-35-triliun

Novia Lusianti
Novia Lusianti
Mahasiswa Teknik Industri Universitas Andalas, Padang
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.