Senin, April 19, 2021

Anak Muda dan Indonesia sebagai Rumah Bersama

Menuju Kehancuran KPK

Gerakan politik untuk melumpuhkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seakan tidak ada habisnya. Penegakan hukum yang dilakukan KPK...

Hari-hari Propaganda dan Pesta Pora

Dari dulu hingga kini dan nanti, dunia adalah panggung sandiwara, tempat manusia berekspresi dan mengekspresikan diri. Lebih-lebih di era keterbukaan media, saat mana ruang-ruang...

Nasib Pendidikan Indonesia Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 merupakan musibah yang memilukan seluruh penduduk di dunia di tahun 2020. Semua elemen terkena dampak akan pandemi ini, tak terkecuali dampak pada...

Demokrasi yang Malas Berkontemplasi

Memang bangsa ini terlalu bangga dengan sistem politik demokrasi yang selalu dianggap lebih baik daripada sistem politik yang lain. Nampaknya kita juga sudah dimabuk...
Saiful Maarif
ASN Kemenag, pegiat Birokrat Menulis dan Fananie Centre. Tulisan adalah pandangan pribadi

Anak muda yang lebih sering diidentifikasi sebagai generasi millenial sering dilihat sebagai pihak yang sangat instan dalam beridentitas. Dengan kecenderungan seperti ini, mereka adalah objek yang dianggap sangat mudah digulung perkembangan zaman, kehilangan jati diri, dan nasionalisme.

Inilah generasi yang dinilai tidak cukup memiliki kepedulian pada kehidupan berbangsa dan bernegara karena dibesarkan oleh budaya apatis dan acuh pada realitas sosial, menjadi generasi “rebahan”. Bagi mereka, “dunia” sesungguhnya adalah layar gawai, menghiasinya dengan hal remeh-temeh seputar keseharian, lalu berlomba dan membangunnya sebagai trendsetter untuk mendulang popularitas dan uang, atau sekedar iseng saja.

Namun demikian, anggapan seperti ini rasanya tidak sepenuhnya benar. Setidaknya pada industri musik elektronik yang justru jadi salah satu pelekat identitas generasi millenial, yang dianggap abai pada nasionalisme itu, kita bisa menemukan antitesanya dalam beberapa hal.

Industri musik digital sedang dimeriahkan oleh keberadaan anak-anak muda yang tidak sungkan mengusung identitas budaya secara terang benderang. Hebatnya, pengakuan atas karya mereka datang dari berbagai belahan dunia dan tentu saja dari dalam negeri.

Beberapa musisi muda yang sedang dikenal luas dengan nasionalisme dalam karyanya adalah Eka Gustiwana, Alffy Rev, Weird Genius,  dan lainnya. Pada musik mereka, nasionalisme kerap berkibar kencang dalam bait lagu dan visualisasinya dalam konteks dan selera anak muda sekarang yang penuh tantangan. Instan dan asal-asalan? Tidak juga, lihatlah misalnya proses kreatif yang dijalani Eka Gustiwana dalam membuat lagu-lagunya.

Keunikan dan Nilai Lebih

Nilai lebih karya Eka adalah misinya untuk membuat karya musik dengan platform electroic digital music (EDM) dengan mengangkat khazanah budaya lokal yang mulai terkikis oleh musik moderen. Pilihan ini adalah sebuah keunikan dan keberanian.

Di tengah gempuran K-Pop dan pesan serta nilai budaya Korea yang diusungnya, kesetiaan pada budaya dan musik lokal terasa seperti oase dan pembeda. Dengan selera publik yang dominan mengarah pada yang serba sedang viral dan update, pilihan terhadap lokalitas tersebut juga adalah keberanian yang menantang dominasi populisme budaya pop.

Tentu sangat tidak mudah, karena idealisme berkarya berhadapan langsung dengan kemungkinan tidak populernya karya tersebut di tengah selera publik yang cepat berubah dan menuntut serbakekinian. Lagu dan tayangan klip video anak muda yang mengusung nasionalisme seperti ini belum tentu menjadi bagian hit list dari stasiun televisi dan radio ternama. Pilihan mereka lebih sering berada di jalur indie atau platform digital yang langsung dinikmati para penggemarnya.

Tanpa kiprah dan perjalanan karya Eka Gustiwana dalam melakukan pendalaman karyanya, mungkin tidak mudah sebelumnya mengenalkan musisi lokal yang tidak terliput pemberitaan yang mengedepankan status trending ke dalam konteks bermusik elektronik terkini.

Dalam eksplorasinya, Eka diantaranya mengangkat dan mengenalkan musisi keramik Hanya Terra dari Majalengka, Kentungan dari Purwokerto, Gamelawan dari Lamongan, Saung Udjo Bandung, dan sederet musisi lokal lainnya.

Seakan tak cukup, bebunyian lokal juga menjadi pilihan. Yang terjadi, publik anak muda dikenalkan pada Batu Gamelan Desa Toso di Batang, Batu Gamelan Gunung Padang Cianjur, bunyi-bunyian di Simpang Lima Semarang, dan beragam keunikan bebunyian nusantara lainnya. Eka menyatukannya dalam alunan perkusi yang sambung menyambung secara indah dan mengemasnya dengan bebunyian khas musik elektronik ajep-ajep.

Inilah kreatifitas yang berani menantang gerak globalitas zaman, tanpa kehilangan identitas dalam arti sebenarnya. Jika musik adalah soal kesatuan bunyi, maka visualisasi musik juga merupakan bagian yang tak terpisahkan di era sekarang. Dengan menampilkan frame tarian-tarian lokal, visualisasi karya Eka adalah sumbangsih penting bagi penyadaran bersama akan kekayaan budaya lokal dengan cara yang sangat kekinian.

Dalam lagu Tersimpan di Hati, Eka secara gamblang memvisualkan potongan berbagai tarian berbagai daerah, mengemasnya dalam racikan karya musik yang diakui secara luas. Upaya seperti ini memang bukan berupa yang pertama dan satu-satunya. Musisi lain telah berulang melakukannya dan mudah ditemukan.

Namun demikian, pembedanya adalah konteks dan tantangan yang melatari. Upaya menggelorakan semangat nasionalisme Eka berhadapan langsung dengan budaya millenial yang sangat dinamis dan disruptif.

Indonesia sebagai Rumah Bersama  

Promosi dan penyadaran akan nilai budaya sendiri dengan cara kekinian seringkali terbentur dengan pola penyampaian yang kaku dan tidak kreatif. Padahal, yang dihadapi adalah anak muda yang secara sosial – budaya dikenal dengan kecenderungan VUCA: Vitality (dinamis dan cepat berubah), Uncertainty (sulit diprediksi), Complexity (rumit), dan Ambiguity (membingungkan penuh paradoks).

Dengan ragam pilihan dan endorsement lokalitas kekayaan budaya, karya musik EDM Eka adalah upaya lebih jauh dari mengenalkan Indonesia sebagai rumah bersama. Pilihan karya kreatif Eka dengan menampilkan kekayaan budaya lokal adalah upayanya untuk meminggirkan sekat perbedaan dan menjadikannya sebagai kekayaan bersama. Di titik ini, antitesa karya kreatif seperti ini selayaknya kosmologi baru anak muda dalam menghadapi tantangan globalitas budaya.

Bonus demografi yang digadang-gadang akan menjadi momentum penting dalam perjalanan bangsa tentu saja harus diperkuat dengan penguatan spektrum nilai-nilai kebangsaan. Dukungan seperti ini menjadi penting dan sangat dibutuhkan di tengah mudahnya pengaruh budaya asing dalam konteks pengaruh teknologi informasi saat ini. Tanpa dukungan yang memadai, apa yang dipahami sebagai bonus demografi itu kelak akan menghadapi problem identitas budaya yang sangat serius.

Keunikan dan keberanian sebuah karya kreatif di tengah kepungan derasnya budaya global menempatkan Eka dan musisi sepertinya menjadi ikon penting bagi karya dan semangat kreatif yang mengedepankan nasionalisme. Kreatifitas, keberanian, dan kesetiaan pada budaya lokal dengan cara yang sangat millenial jelas menjadi modal penting dalam tantangan kekinian den kelak. Memberi wadah dan dukungan positif untuk semangat kreatif seperti ini menjadi tugas dan kewajiban bersama.

Saiful Maarif
ASN Kemenag, pegiat Birokrat Menulis dan Fananie Centre. Tulisan adalah pandangan pribadi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.