Sabtu, Juli 13, 2024

Anak-anak, Imajinasi, dan Sains

Joko Priyono
Joko Priyono
Bergiat di Lingkar Diskusi Eksakta. Menulis buku Manifesto Cinta (2017), Bola Fisika: Beberapa Catatan tentang Sepak Bola dan Fisika (2018), Surat dari Ibu (2019), PMII dan Bayang-bayang Revolusi Industri 4.0 (2020), dan Sains, Kemajuan, dan Kemanusiaan (2021).

Anak-anak itu butuh apa yang dinamakan dengan asuhan. Baik berkaitan dengan fisik, kesehatan mental, lingkungan, hingga pengetahuan. Ia tak dapat diraih tanpa ada ketekunan, kedisiplinan, dan keseriusan. Pada fase perjalanan wabah pandemi, anak-anak menjadi salah satu kelompok rentan. Rentan terhadap penularan penyakit hingga rentan akan pengaruh psikologi, khususnya adalah tingkat kestresan. Di kala keadaan normal mereka bebas melakukan apa saja, wabah menjadi biang meningkatnya kesetresan anak akibat ada pembatasan dalam interaksi.

Pada akhirnya, orang tua hanya punya satu jalan. Anak-anak dibebaskan untuk lebih aktif menggunakan gawai dengan platform yang ada. Namun, kenyataannya itu juga tak manjur. Kita membaca sebuah warta di Harian Republika Edisi 26 September 2021. Kepungan dampak hadirnya pandemi ditulis di berita berjudul Sehatkan Mental dan Fisik Anak. Selain peningkatan stres di kalangan anak, kita mendapatkan informasi berupa kecanduan gawai pada anak sebagaimana diuraikan oleh salah seorang Psikolog bernama Samanta Elsener. Kita dapat menemukannya dalam kalimat berikut:

“Masalah lain yang patut diwaspadai adalah kecanduan gawai. Samanta mengatakan, ada lonjakan orang tua yang pergi berkonsultasi ke psikiater atau psikolog anak karena anak mereka kecanduan gawai dan orang tua tidak harus bagaimana.”

Gawai telah menjadi episode kemajuan teknologi yang lama mengisi ruang kehidupan manusia. Tanpa batasan umur, tiap orang dapat mengakses fitur di dalamnya. Kita menjumpai bagaimana kehidupan banyak orang selama pandemi berada pada sentuhan layar dari gawai. Baik itu urusan pekerjaan, komunikasi, berjejaring, hingga pendidikan. Tak sedikit dari kita mengamini bahwa gawai adalah kunci kehidupan manusia. Gawai dengan kecanggihannya diandalkan akan keberadaan mesin pencari sebagai penyedia apa saja. Tinggal masukkan kata kunci, klik, dan seketika sederet hasil muncul.

Buku Fisik

Namun, agaknya, keseringan gawai juga melahirkan masalah. Selain kecanduan misalnya terbuai dengan permainan dalam jaringan maupun konten platform media tertentu, tanpa disadari keluarga mengabaikan keberadaan buku fisik. Anak-anak rentan mendapati situasi itu saat keluarga mengabaikan. Dengan dalih kesibukan dan aktivitas lainnya, orang tua mudah membebaskan anak-anak melakukan akses internet tanpa batas. Padahal, sedemikian itu justru menghambat daya imajinasi anak-anak. Sebab, bisa saja informasi yang diterima oleh anak bersifat acak. Tidak komprehensif.

Langkah untuk mengimbangi itu tentu saja adalah mengakrabkan kembali, khususnya bagi anak-anak terkait dengan keberadaan buku fisik. Di Harian Kompas  Edisi 27 September 2021 kita membaca sebuah berita berjudul Mana Lebih Efektif, Membaca di Kertas atau Layar?.  Berita itu  mengabarkan sebuah hasil riset terbaru yang disusun oleh Eyesafe dan United Healthcare tentang “Screen Time 2020”. Bahwa dari 33  eksperimen dilakukan untuk kalangan usia anak hingga dewasa di Amerika Serikat yang dianalisis, sejumlah 24 atau 72 persen menunjukkan membaca di kertas lebih optimal dibandingkan layar.

Tentu saja, itu menarik. Perlu kiranya dijadikan bahan refleksi bagi perekembangan di Indonesia. Kita ketahui bersama pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Informatika sejak dibuka pada Mei 2021 menyelenggarakan agenda berupa Literasi Digital, kemudian serentak dilakukan tiap hari di tiap kabupaten atau kota di Indonesia. Upaya tersebut perlu mendapatkan gayung bersambut bagaimana masyarakat memang perlu beradaptasi dengan kehadiran revolusi digital. Hanya saja penting juga, bahwa tugas lain yang perlu dilakukan adalah terus membangun budaya literasi dengan pengakraban terhadap teks.

Imajinasi dan Sains

Bagi anak-anak untuk menapaki itu mestinya disandarkan pada merawat ingatan anak terhadap teks. Anak-anak adalah generasi dengan potensi sebagai pencerita. Ia perlu diwadahi dalam medium komunikasi melalui orang tua sebagai pengasuhnya. Dalam babak penting buku fisik terkait anak, kita menemukan bagaimana buku fisik erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Baik itu terkait flora, fauna, penemu alat, sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, jenis profesi, hingga dunia antariksa. Sentuhan asuhan anak terhadap buku-buku tersebut menjadikan tiap individu melatih diri untuk mengembangkan imajinasinya.

Perkembangan terkini di dunia penerbitan yang menyediakan buku untuk kalangan anak, kemasan dihadirkan dengan tak lupa menyajikan gambar berwarna, ilustrasi, kartun, dan komik. Dalam arti lain, buku tak melulu hanya terikat dengan tulisan saja, melainkan dari itu ada citra visual hadir untuk memantik anak-anak tangkas dalam memahami dan pada gilirannya dapat bercerita dengan riang gembira dalam perkembangannya. Kendati demikian, di luar itu perlu menjadi perhatian dari para pengarah dan penerbit.

Bahwa buku harus dikehendaki dengan sajian dan tampilan menarik. Murni Bunanta (2000) dalam esai berjudul Perjuangan Untuk Bacaan Anak yang Layak, pernah mengkritik akan keberadaan buku anak ditulis tanpa menghadirkan imajinasi sama sekali. Dengan demikian, orang-orang dewasa sebagai pengarang memiliki tugas saat menulis buku dengan tujuan merangsang dan memberdayakan imajinasi anak-anak. Tidak lain adalah sebagai harapan proses intelektual anak dalam tahap demi tahap di hidupnya. Alih-alih bagaimana nasib anak terkatung-katung dengan belum pastinya pelaksanaan kegiatan pembelajaran tatap muka, langkah itu bisa jadi solusi bagi orang tua.

Apalagi kalau menilik pemberitaan di beberapa media akhir-akhir ini akan peringatan gelombang ketiga pandemi Covid-19 yang diprediksi pada akhir tahun 2021, tentu saja semua kalangan patut waspada. Terlebih di kalangan anak-anak sejauh ini belum ada regulasi pemberian vaksin di bawah umur tiga belas tahun. Dengan demikian, pandemi bukanlah hal yang menjadi alasan terhambatnya perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik bagi anak. Namun, di sana ada juga peluang untuk memikirkan kembali bagaimana pola asuh yang perlu dilakukan oleh para orang tua terhadap anak-anaknya.[]

Joko Priyono
Joko Priyono
Bergiat di Lingkar Diskusi Eksakta. Menulis buku Manifesto Cinta (2017), Bola Fisika: Beberapa Catatan tentang Sepak Bola dan Fisika (2018), Surat dari Ibu (2019), PMII dan Bayang-bayang Revolusi Industri 4.0 (2020), dan Sains, Kemajuan, dan Kemanusiaan (2021).
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.