OUR NETWORK
Senin, Oktober 25, 2021

Alergi Toleransi

Santri Itu Keren

Pinjol Merajalela, di Mana Lembaga ZIS?

Habis Gelap Terbitlah Terang

Arfi Pandu Dinata
Aktivis Lintas Iman, Koordinator Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB), Menyukai Studi Agama, Tintin, dan Kongko-kongko

Kita adalah orang yang terpesona dengan Borobudur, bagaimana tidak menanjak sekalipun tangga-tangga batunya terus kita daki. Kemudian kita mengitari relief-relief sambal berswafoto. Begitupun kita mengikuti cerita keheroikan eksodus Israel yang dipimpin oleh Musa bersamaan dengan cerita Batarayuda tentang konflik antara Pandawa dengan Korawa.

Di lain sisi, ketakutan kita pun begitu besarnya pada Laut Selatan Jawa, hingga tak mau bicara seucap-ucapnya dan berlaku gegabah. Loncat pada hal lain bahwa dari hari senin sampai jumat setiap diri dari kita begitu sibuk, sabtu dan minggu adalah hari-hari penantian kita.

Penanggalan yang berbasis pada kalender Masehi tak pernah merisaukan kita. Tangan kita pun selalu siaga untuk cepat-cepat merogoh hp buat merekam performa tarian barongsai sembari menatap langit yang penuh dengan warna-warni kembang api. Apalagi soal takjil, baik itu kolak maupun aneka rupa gorengan dan rujak selalu kita kejar pada saat musim ngabuburit tiba.

Kebencian adalah sikap yang ditanamkan dan diajarkan, keduanya tidaklah alamiah bagi kemanusiaan kita. Justru sebaliknya, kasih dan cinta adalah perasaan yang telah ada bersemayam dalam diri kita masing-masing. Namun sayangnya kita selalu dididik untuk tidak menyukainya. Bahkan kekerasan terus ditradisikan dan dilembagakan dalam pergaulan di masyarakat.

Kita terhempas pada watak kesejatian manusiawi yang ramah bagi setiap orang. Maka akan menjadi sesuatu yang aneh, kalau ada orang-orang mulai diajarkan tentang makna, sikap, dan pentingnya toleransi bagi kehidupan sekarang. Semestinya kita harus merasa asing saat kita mulai suka menyulut permusuhan dan bersikap antipati terhadap perbedaan.

Penghormatan terdapat pemeluk agama yang berbeda, bukanlah hal yang baru bagi setiap orang. Dunia sehari-hari kita selalu menantang kita untuk bersikap demikian. Karena itu toleransi bukanlah sikap yang luar biasa, toleransi adalah hal yang sungguh amat biasa. Bukankah sejak kecil kita selalu kagum terhadap segala keriuhan yang berwarna-warni?

Menonton karnaval dan mengunjungi fesival, berkenalan dengan orang-orang baru, keluar masuk kebun binatang, pusat pembelajaan, atau sekedar lari-lari di taman. Sadarkah kita bahwa di sana semua orang saling berbeda?

Tapi, tiba-tiba kita mulai didoktrin untuk khawatir dengan orang-orang Kristiani yang baik sekalipun, karena sebenarnya mereka sedang menjalankan agenda kristeninasi. Kita juga menghindari produk-produk barat, atau membangun perumahan ekslusif yang tanpa sadar kitalah yang membuat batas-batas perbedaan menjadi kaku dan menyeramkan. Segregasi ini tampak jelas kala kita makin membeci musuh imajiner, ini konspirasi, dajjal, antrikristus, Yahudi, asing, Cina, Illumintasi, Amerika.

Kebencian yang tak berdasar inilah yang memicu ketakutan kita untuk berbaur dan mencelupkan diri dalam pergaulan yang cair. Setiap dari kita jadi agak risi kalau bertemu dengan seorang laki-laki berjidat hitam, berjanggut, dan bercelana cingkrang, apalagi perempuan yang bercadar.

Ayo kita kembali pada kealamiahan ini, kembali merajut persaudaraan yang bukan lagi sekedar simbolisme. Kesadaran menjadi kunci utamanya, sebab toleransi bukanlah basa-basi yang sekedar melempar senyum yang terpaksa.

Toleransi adalah ketulusan, kasih sayang, dan saling berpengertian, yang bukan semata aku ya aku dan kamu ya kamu. Dalam beberapa hal ko-eksistensi memang sangat perlu, seperti yang telah diulas di atas untuk menjaga setiap keunikan identitas diri masing-masing. Tapi pada tahap selanjutnya segala macam perbedaan bukanlah sebuah hambatan untuk kita membuka diri dan berbaur di dalamnya.

Alergi toleransi merupakan jenis imunitas yang berlebihan, yang membuat kita menyengsarakan diri sendiri. Resistansi bukan dilakukan dengan cara menghindar untuk bertemu dengan segala keragaman, tapi sebuah keberanian untuk mau hidup di tengah-tengahnya.

Arfi Pandu Dinata
Aktivis Lintas Iman, Koordinator Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB), Menyukai Studi Agama, Tintin, dan Kongko-kongko
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.