OUR NETWORK
Rabu, Oktober 5, 2022

Al-Qur’an dan Redefinisi Hadis

Ahmad Syaifullah Saragih
Saya seorang peneliti Al-Qur'an. Saat ini saya sedang berusaha menerbitkan buku hasil penelitian saya yang berjudul Trilogi Al-Qur'an, Trikata: Kata Perintah, Kata Larangan, dan Kata Tanya dalam Al-Qur'an.

Segalanya pasti kata. Tidak ada selain kata. Tidak ada yang bukan kata. Al-Qur’an itu kata. Seluruh isinya juga kata. Hadis begitu pula. Hadis itu kata. Seluruh isinya adalah kata. Akal kita juga kata. Produk akal kita adalah kata.

Beragama Islam menjadi memusingkan dan membingungkan karena banyak orang Islam tidak bisa membedakan antara dalil naqli dan aqli. Banyak yang berdalil naqli dalam beragama, tapi tidak siap bahkan tidak mau dibantah dan dikritisi dalil aqlinya. Terlalu percaya diri menganggap dalil aqlinya setara dan sederajat dengan dalil naqli.

Seolah-olah dalil aqlinya sudah pasti benar serta tak boleh dibantah dan dikritisi. Hal itu diperparah lagi dengan adanya anggapan bahwa beragama Islam cukup menggunakan Al-Qur’an dan hadis saja. Absurd sekali! Asyik berwacana tentang agama dengan akalnya, tapi di saat yang sama menentang penggunaan akal dalam beragama.

Jika beragama Islam hanya harus mengutip-ngutip Al-Qur’an dan hadis saja tanpa akal, yakinlah percakapan di antara kita pasti hanya berlaku untuk orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan hadis saja. Karena terjemah Al-Qur’an, tafsirnya, dan takwilnya bukanlah Al-Qur’an. Berbeda dan tidak sama dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an itu dalil naqli, sedangkan terjemah, tafsir, dan takwilnya adalah dalil aqli orang yang menerjemahkan, menafsirkan, dan menakwilkannya. Orang yang menerjemahkan, menafsirkan, dan menakwilkan Al-Qur’an bisa benar dan bisa salah, karena dia bukan Tuhan, juga bukan Nabi.

Begitu pula dengan terjemah, bayan, atau syarah hadis. Terjemah, bayan atau syarah hadis bukanlah hadis. Berbeda dan tidak sama dengan hadis. Hadis itu dalil naqli, sedangkan terjemah dan bayan atau syarahnya adalah dalil aqli orang yang menerjemahkan dan mensyarahnya. Orang yang menerjemahkan dan mensyarahnya bisa bisa benar dan bisa salah, karena dia bukan Tuhan, juga bukan Nabi.

Jika percakapan di antara kita hanya harus mengutip-ngutip Al-Qur’an dan hadis saja tanpa akal, yakinlah yang terjadi di antara kita pasti hanya sebatas saling berbalas hafalan tanpa pemahaman.

Untuk memahami Al-Qur’an dan hadis, kita menggunakan akal atau dalil aqli. Jika sudah masuk wilayah dalil aqli, kita dituntut untuk berakal/berlogika/bermanthiq dengan benar. Jika sudah masuk wilayah dalil aqli, kata siapa pun tidak boleh terburu-buru diklaim pasti benar. Karena wilayah dalil aqli dasarnya adalah wilayah yang mungkin benar dan mungkin juga salah. Wilayah mungkin, bukan wilayah pasti.

Tulisan penulis ini semuanya dalil aqli. Bukan Al-Qur’an, juga bukan hadis. Mungkin benar, mungkin juga salah pemahaman penulis ini. Sangat terbuka untuk dibantah dan dikritisi selamanya.

Ilmu apa pun adalah produk akal juga. Masuk wilayah dalil aqli. Karena itu selalu terbuka untuk dikritisi selamanya. Begitu juga fatwa-fatwa agama. Itu produk akal. Wilayah dalil aqli juga. Karena itu selalu terbuka untuk dikritisi selamanya.

Sebagai muslim, petunjuk dasar kita dalam beragama yang disepakati ada 3: 1. Al-Qur’an 2. Hadis 3. Akal. Al-Qur’an dan hadis disebut juga dalil naqli, sedangkan akal disebut dalil aqli. Jangan dihilangkan atau dikurangi.

Nama lain Al-Qur’an adalah firman Allah atau kalimatullah (kata Allah). Nama lain hadis adalah sabda atau kata Nabi. Dua kata tersebut disebut juga wahyu atau dalil naqli. Sedangkan kata-kata selain kata Allah dan NabiNya adalah kata-kata kita sendiri-sendiri. Kata-kata kita sendiri-sendiri bukanlah wahyu. Kata-kata kita sendiri-sendiri disebut juga dalil aqli.

Definisi hadis yang selama ini kita pelajari bukanlah dalil naqli yang wajib mutlak ditaati. Definisi hadis tersebut bukan kata Allah, juga bukan kata Nabi. Definisi hadis yang selama ini kita pelajari adalah produk akal para ulama Arab tempo dulu yang tidak suci. Juga tidak dijamin pasti benar. Jikapun ada benarnya, kebenarannya tidak qoth’i, tidak mutlak, tidak absolut. Sangat terbuka untuk dikritisi dan diperbaiki.

Hadis secara bahasa berarti kabar atau berita. Karena itu, secara istilah, hadis berarti segala kabar berita yang berhubungan dengan Nabi saw. dalam segala hal yang beliau saw. lakukan.

Dengan definisi tersebut, otomatis Al-Qur’an pun disebut hadis. Karena Al-Qur’an jelas-jelas berhubungan dengan Nabi saw. Seluruh Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi saw. Apalagi kata “Nabi” itu sendiri berarti pembawa sekaligus penyampai kabar berita. Klop sudah! Nabi saw. adalah pembawa sekaligus penyampai kabar berita. Kabar berita dari siapa? Kabar berita dari Allah!

Nama lain dari Allah adalah Yang Maha Benar. Kabar berita dariNya pasti kebenaran. Karena itulah Dia berani mempertanyakan sekaligus menantang siapa pun yang berani menyatakan hadisnya atau kabar beritanya lebih benar daripada hadis atau kabar berita dariNya. HadisNya Dia jamin pula sebagai sebaik-baik hadis yang terbukukan, yaitu Al-Qur’an.

Inilah kata hadis dalam Al-Qur’an yang dinisbatkan kepada Allah secara jelas, tegas, dan letterlijk:

1. Allah yang tiada Tuhan selain Dia sungguh pasti akan mengumpulkan kalian sampai hari kiamat yang tidak ada keraguan di dalamnya. Dan siapakah yang lebih benar dari Allah hadis(nya)(kabar beritanya)? (Q. S. 4:87)

2. Allahlah yang telah menurunkan sebaik-baik hadis sebagai kitab yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, yang gemetar karenanya kulit-kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka, kemudian menjadi lembut kulit-kulit dan hati-hati mereka kepada mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia tunjuki siapa saja yang menghendaki. Dan siapa saja yang disesatkan Allah, maka baginya tidak ada seorang pun pemberi petunjuk. (Q. S. 39:23)

3. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan hadis mana lagi setelah Allah dan ayat-ayatNya mereka akan percaya? (Q. S. 45:6)

Dengan penjelasan di atas, hadis atau kabar berita yang berhubungan dengan segala hal yang dilakukan oleh Nabi saw. bisa dibagi secara sederhana menjadi 3:

1. Hadis dari Allah atau Al-Qur’an

2. Hadis dari Nabi saw. sendiri

3. Hadis dari selain Allah dan Nabi saw.

Dengan demikian, jika kita mau jujur dan sepakat, Al-Qur’anlah sebenarnya yang paling pas dan pantas disebut sebagai hadis paling awal. Hadis paling sahih dan mutawatir. Al-Qur’anlah sebenar-benarnya hadis tertinggi peringkat pertama.

Oleh karena itu, jika ada hadis yang aneh dan janggal dari selain Allah, hadapkanlah hadis itu di depan hadis dari Allah atau Al-Qur’an, lalu timbanglah dengan akal sehat untuk memutuskan benar dan salahnya serta jujur dan dustanya. Karana Al-Qur’an adalah hadis juga. Hadis dari Allah. Hadis dari Yang Maha Benar. Dan satu kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran lainnya. Apalagi bertentangan dengan kebenaran yang lebih tinggi. Satu kebenaran pasti akan saling menguatkan dan mengokohkan kebenaran lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini, penulis ingin mengatakan: Jika anda mau membaca hadis-hadis sahih mutawatir, bacalah Al-Qur’an. Karana Al-Qur’an itu kumpulan hadis sahih mutawatir paling tinggi yang dijamin pasti kebenarannya secara qoth’i.

Ahmad Syaifullah Saragih
Saya seorang peneliti Al-Qur'an. Saat ini saya sedang berusaha menerbitkan buku hasil penelitian saya yang berjudul Trilogi Al-Qur'an, Trikata: Kata Perintah, Kata Larangan, dan Kata Tanya dalam Al-Qur'an.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.