Sabtu, April 24, 2021

Adakah Ruang untuk Agama dalam Komedi?

Liga Inggris: Leicester Perkasa, United Menang Susah

Liga sepakbola Inggris telah memasuki pertandingan ke-5 dengan menyajikan beberapa kejutan bagi tim ‘big six’. Liverpool yang merupakan jawara liga Inggris tahun lalu mengawali...

Pemikiran dan Sikap Intelektual Buya Syafii

Ketokohan Buya Syafii—panggilan akrab Ahmad Syafii Maarif—sudah tidak perlu diragukan lagi. Terlebih melalui gelar yang sering dialamatkan kepadanya, yakni “guru bangsa”. Pemikiran Buya Syafii...

Pajangan Itu Bernama Pancasila?

Indonesia adalah negara besar dan luas yang memliki banyak pulau-pulau dan suku-suku dari Sabang sampai Merauke. Dengan luasnya dan keberagamannya itu, Indonesia memiliki dasar...

Pagebluk dan Ekonomi di Timur Negeri

Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan II. Tercatat, ekonomi Provinsi NTT mengalami kontraksi sebesar 1,96...
Jacko Ryan
Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Airlangga, Surabaya. Dapat dihubungi di jacko.ryan-2017@fisip.unair.ac.id.

Nila setitik rusak susu sebelanga. Mungkin itu menjadi peribahasa yang paling tepat menggambarkan apa yang dialami seorang pelawak kondang, Andre Taulany, saat ini. Bagaimana tidak, tujuh kata yang ia ungkapkan dalam acara talkshow komedi bertajuk “Ini Talkshow” justru dapat menyeretnya pada meja hijau.

Andre dianggap telah menistakan agama Islam akibat celotehannya yang menyebut badan Nabi Muhammad mirip kebun bunga. “aroma seribu bunga? Itu badan apa kebon?”, ungkapnya.

Walau hal tersebut dilontarkan Andre pada dua tahun silam – yakni tahun 2017 -, namun itu tidak menyurutkan seorang yang bernama Sulistyowati untuk melaporkannya ke pihak berwajib. Itu terwujud pada 4 Mei 2019 di mana ia menggunakan Pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama untuk melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Telusur punya telusur, Sulistyowati ternyata berprofesi sebagai pengacara. Ia juga tergabung dalam Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Tak banyak yang bisa dilakukan seorang Andre Taulany. Tampaknya tidak ada pembelaan yang berarti yang ia sampaikan ke publik atas kasus yang menimpanya selain permintaan maaf. Itu terwujud ketika ia mengunjungi berbagai tokoh agama, pimpinan Persaudaraan Alumni (PA 212), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pil pahit yang ia telan tidak cukup sampai disitu.

Andre juga diberhentikan sementara dalam acara televisi yang ia pandu bersama rekan komediannya, yakni Sule dalam stasiun televisi Net TV. Selama berminggu-minggu ia telah vakum pada lacar kaca.

Hal yang menarik bahwa banyak orang yang menilai kejanggalan kasus ini. Faktor politik diduga menjadi salah satu alasan yang melatarbelakangi pelaporan yang telah dilakukan. Masih ada beberapa hal yang menyisakan tanya, seperti mengapa pelapor baru melaporkan kasus ini setelah dua tahun berlalu?

Juga dengan latar belakang pelapor dan terlapor. Apakah ada kaitannya dengan kondisi politik saat ini, di mana dikotomi antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto acapkali berbatas tegas?

Kedudukan Komedi dan Komedian

Tidak ada ruang bagi komedi dalam agama. Mungkin itu yang menjadi kredo sebagian orang ketika menilai kedudukan serta relasi antara agama dan komedi. Agama dipandang sebagai suatu hal yang ilahi, superior, berada di ‘atas’, dan menindas keberadaan komedi yang insani, inferior, serta berada di ‘bawah’.

Sang filsuf, Aristoteles, menjadi salah satu contohnya. Ia menyebutkan bahwa komedi memang dilakukan serta diperuntukkan untuk kaum inferior. Dalam karyanya yang bertajuk Poetics, ia menyebutkan bahwa komedi bertindak sebagai mimesis. Komedi, dipandang Aristoteles, sebagai tiruan serta representasi dari masyarakat kelas rendah seperti budak dan petani.

Namun itu tidak menjadikan komedi sebagai suatu hal yang eksklusif (hanya untuk kaum marjinal). Komedi justru digunakan oleh kelompok masyarakat ‘bawah’ sebagai sarana kritik. Dalam komedi dimungkinkan inferior mengkritik superior atau yang berada di ‘bawah’ mengkritik yang berada di ‘atas’. Itulah sebabnya Aristoteles beragumen bahwa ada kekuatan besar yang dimiliki komedi yakni kekuatannya untuk membebaskan mereka.

Kedudukan komedi inilah yang menjadikan komedian bertindak sebagai aktor penting. Bagus Laksana, SJ menyebut komedian sebagai ritual purifier. Masyarakat digambarkan tertahan akibat memiliki segudang kritik, namun tidak punya wadah untuk menyampaikannya. Realita mandek itulah yang kemudian dapat mempertebal kemungkinan terjadinya perpecahan dalam masyarakat.

Ditengah situasi itu, komedian hadir sebagai ritual purifier. Ia menjadi katup atau celah untuk keluarnya letupan-letupan dari tegangan-tegangan masyarakat sehingga akhirnya tidak terjadi perpecahan yang berarti.

Relasinya dengan Agama

Perspektif utama yang harus digunakan dalam memandang komedi dan komedian yakni sifatnya yang terbuka. Douglas menyebutnya sebagai sebuah kebebasan dari bentuk yang mengikat (freedom from form). Karenanya komedi dan komedian harus dapat melintasi batas etnis, kultur, sejarah, dan agama, serta berdampingan dengan pengalaman sosial.

Unsur agama dalam komedi menjadi kajian tersendiri bagi Bakhtin. Ia merincikan kembali apa yang disebutkan Aristoteles pada tulisan yang sudah dijabarkan di atas. Jika Aristoteles mengaitkan komedi dari segi kelas (inferior-superior), Bakhtin justru mengaitkannya dengan agama. Baginya, kritik yang disampaikan oleh komedian dalam komedi juga berlaku bagi agama. Komedi dipandangnya sebagai suatu kekuatan yang memberdayakan (salvific) karena ketegasannya terhadap kekuasaan dan institusi agama.

Maka menjawab pertanyaan yang diusung dalam judul tulisan ini, sebenarnya tidak ada apapun yang dapat menghalangi komedi dan komedian, termasuk agama sekalipun. Tentunya dengan memperhatikan dua syarat bahwa komedi tersebut dilontarkan dengan tujuan sebagai saluran kritik dari masyarakat, dan juga sebagai sarana pembebas dan pemberdaya.

Melihat penjabaran itu semua semakin kita diyakinkan bahwa menjadi komedian itu bukan hal mudah. Ada tanggung jawab yang terbeban baginya untuk dapat ‘mencabik-cabik’ norma sosial, pelbagai stereotipe rasial dan seksual, pandangan politik, bahkan agama sekalipun. Ia harus dapat dengan mudah dan ringan menyentil ketidakberesan yang satu dengan ketidakberesan yang lain. Ia juga harus dapat menjembatani antara yang di ‘atas’ dengan yang di ‘bawah’.

Tugas itulah yang menjadikan komedi dipandang sebagai lahan yang berbahaya. Disebutkan oleh Sindhunata, SJ bahwa, “tawa memang berbahaya bagi otoritas”. Saya kemudian memperluasnya bukan hanya sekedar berbahaya bagi otoritas, namun juga bagi siapapun dan apapun yang bangga akan superioritasnya, yang anti-kritik, serta mengekang kebebasan dan keberdayaan.

Selanjutnya menjadi tugas kita bersama untuk merefleksikan diri tentang kehadiran komedi dan komedian di Indonesia. Apakah ia sampai pada tahap yang sudah dijabarkan di atas, atau hanya sekedar menawarkan tawa yang semu dan hampa? Ingatlah bahwa tawa memang tidak sesederhana yang dipikirkan!

Bacaan lebih lanjut:

  1. Aristoteles, Poetics
  2. Bakhtin, Mikhail. 1984. Rebelais and His World. Indiana: Indiana University Press.
  3. Laksana, Bagus. 2014. Humor sebagai Ruang Budaya: Resistensi, Hibriditas, dan Ambiguitas dalam ECF 5 Desember 2014 Jurnal Universitas Parahyangan. Bandung: Universitas Parahyangan.
  4. Douglas, Mary. 1975. “Jokes,” dalam Implicit Meanings: Essays in Anthropology. Abingdon: Routledge and Kegan Paul.
  5. Sindhunata SJ. “Agama Seharusnya Tertawa”. dalam Majalah BASIS, 03-04 2018.

Jacko Ryan
Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Airlangga, Surabaya. Dapat dihubungi di jacko.ryan-2017@fisip.unair.ac.id.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.