Minggu, Mei 26, 2024

Ada Apa dengan Narasi “Emak-Emak”

Nur Azis Hidayatulloh
Nur Azis Hidayatulloh
Mahasiswa dan Tinggal di Yogyakarta

Wacana ketidakadilan terhadap perempuan sering menjadi bahan pembahasan para pakar keilmuan bidang perlindungan perempuan dan gerakan feminisme. Pasalnya, tindakan diskriminatif terhadap perempuan masih sering terjadi hingga sekarang.

Beberapa bentuk diskriminasi tersebut bisa dalam bentuk pelecehan seksual pada anak atau remaja, kekerasan yang banyak terjadi di dalam rumah tangga dan banyak merugikan dan merendahkan posisi wanita dalam kehidupan.

Adanya budaya patriarki (laki-laki memiliki otoritas penuh terhadap perempuan dalam rumah tangga) yang juga menambah keterpurukan hak-hak perempuan dalam hal kebebasan. Begitu pula pada masalah politik.

Perempuan diklaim tidak bisa berproduktif semaksimal laki-laki, sehingga peran perempuan ditempatkan pada peran domestik (bekerja mengurus rumah), sedangkan laki-laki lebih tepat mengambil peran publik. Di sini terlihat adanya ketimpangan konsep kehidupan yang bahkan dianggap suatu konsep yang telah membudaya di kalangan masyarakat.

Akan tetapi semenjak musim perpolitikan seperti sekarang pelbagai hal cukup menarik untuk dibahas, peran perempuan dan soal masing-masing kubu meraup suara kalangan masyarakat. Ada hal menarik dalam musim pilpres sekarang, “emak-emak” belakangan ini menjadi sebuah simbol yang cukup menarik dalam proses pemenangan calon presiden kedua kubu.

Semua berawal dari isu yang sering disandingkan oleh kubu Prabowo-Sandi, emak-emak menjadi simbol dari kubu tersebut dalam melihat kondisi perekonomian yang sedang rame-ramenya seperti sekarang.

Emak-emak dan perpolitikan kekuasaan tidak bisa dilepaskan, keduanya satu sama lain saling membutuhkan dalam hal barometer keberhasilan dalam ruang wacana publik. Simbol tersebutpun menjadi simbol bertarung kedua kubu dalam hal kemaslahatan politik masing-masing. Emak-emak yang sangat begitu dekat dengan dunia stabilitas ekonomi rumah tangga menjadi salah satu urusan yang dibawa ke ranah politik untuk menentukan nasib bangsa.

Kita lihat sendiri bagaimana dinamika komunikasi politik yang dibangun oleh Cawapres Sandiaga Uno, dari setiap kunjungan yang dilakukan di setiap daerah menjadikan simbol “emak-emak” dalam proses komunikasi politik yang ia bangun. Narasi “100 ribu dapat apa?” atau “bentuk tempe sudah setipis kartu atm” merupakan narasi-narasi yang dibangun atas simbol yang ada dalam urusan ibu rumah tangga.

Hal ini patut kita lihat secara seksama bahwa emak-emak sekarang telah merubah peta perpolitikan bangsa kita tentang narasi-narasi baru dalam meraup komoditas suara oleh politikus kita. Dulu yang ada dalam benak kita tentang meme emak-emak yang sering dijadikan banyolan seperti lampu sen menyala ke kanan, beloknya ke kiri.  

Meme lain yang juga cukup menarik dan jenaka ditampilkan ada tiga emak membawa perkakas dapur seperti gelas, sendok dan wajan. Wajah seperti berteriak dilakukan oleh seorang emak berkacamata hitam. Meme itu menampilkan : Gak dibikinin kopi, tidur sendiri, makan sendiri, cuci kaos kaki sendiri bila 2019 masih mendukung Jokowi, Surat cinta Partai Emak-emak Pada Suami Tercinta. 

Diksi emak-emak cukup menarik ketika dipakai dalam hal yang berbabau komoditas seperti politik, gambaran emak-emak di negara kita ialah kalangan ibu-ibu kelas bawah yang sejatinya merasakan berbagai keluh kesah yang terjadi dalam ranah stabilitas urusan rumah tangga. Dalam pernyataanya sendiri, Sandiaga uno menjadikan “The Power Emak-Emak” dalam simbol strategi politik untuk menggambarkan dinamika perekonomian kelas bawah kita selama ini.

Sedangkan dalam penyebaran informasi sendiri emak-emak cukup menarik, simbol yang selama ini terbangun bahwa emak-emak cukup senang dalam kebiasaan gosip yang ini dapat dijadikan bahan dalam proses persuasi ke emak-emak lain, dan bisa menjadikan cepatnya suatu isu apabila diterima oleh emak-emak itu sendiri. Seperti dalam sejarah bahwa reformasi lahir dari suatu gerakan politik emak Indonesia tanpa perlu motivasi idealisme luhur (Julia Suryakusuma, 2014). Karena itu emak-emak bergerak atas kemauan mereka tanpa melibatkan suatu kondisi yang itu yang bisa dikatakan lahir dari hati nurani.

Ketika era reformasi bergulir, peran perempuan menjadi terbuka dalam segala ranah publik. Kesetaraan yang ada antara laki-laki dan perempuan tidak terbedakan lagi dalam proses perpolitikan. Banyak sekarang perempuan memasuki dunia perpolitikan dan mempunyai banyak peran dalam segala proses ranah publik yang selama ini ada. Makanya sekarang jangan sepelekan “The Power of Emak-Emak” ketika emak sudah turun ke jalan kelar sudah semua urusan, bukan hanya politik kekuasaan, kebijakanpun ketika emak-emak sudah mendominasi semua akan cepat pada waktunya.

Nur Azis Hidayatulloh
Nur Azis Hidayatulloh
Mahasiswa dan Tinggal di Yogyakarta
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.