Rabu, April 21, 2021

10 Alasan Kenapa Harus Memilih Prabowo dan Menolak Jokowi

Diskriminasi Berkedok White Beauty

Definisi ‘cantik’ hingga saat belum menemui titik terang, karena ketergantungannya pada hegemoni penguasa, selaras dengan pendapatnya Saltzberg and Chrisler (1997,135) yang menyatakan kecantikan sebagai...

Puritanisme Islam: Memurnikan Ajaran atau Arabisasi?

Dalam sejarah Islam, gerakan puritan paling tidak muncul ketika Khawarij muncul. Prinsipnya, setelah Nabi Muhammad wafat umat Islam kembali tergantung pada kesukuan, bukan kepada...

Pengelolaan Kebijakan Fiskal yang Inklusif

Kebijakan fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian dengan instrumen berupa pajak sebagai instrumen penerimaan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara...

Desa Masih Gagap Lindungi Warga Pekerja Migran

Begitu banyak desa yang memiliki warganya sebagai pekerja migran, namun masih lemah dalam melindungi warganya. Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau yang biasa disebut...
Fauzi Ahmad Syawaluddin
"Belajar adalah cara memahami kebodohan". Tinggal di Rantauprapat Sumatera Utara.

Tulisan ini dibuat sebagai respon terhadap tulisan Abdillah Toha yang terbit pada hari Rabu, 6 Februari 2019 dan menjadi salah satu trending topik sampai tulisan ini dibuat di Geotimes. Agaknya Abdillah Toha lebih memperlihatkan tendensiusme terhadap Jokowi.

Alasan-alasan beliau, lebih cocok disebut seperti alasan orang-orang yang nongkrong dikedai kopi sambil cerita politik yang dibumbui dengan intrik-intrik canda-tawa untuk mencairkan suasana. Pandangannya tidak berdasar dan lebih memperlihatkan pandangan yang subjektif. Kalau dikampung kami di Labuhanbatu Sumatera Utara, kami biasa menyebut dengan orang yang suka berbicara tanpa dasar dengan “Bakombur”.

Oke, tidak berpanjang kalam dan berbasa-basi lagi, saya akan kemukakan 10 alasan mengapa harus memilih Prabowo.

1. Pengalaman Politik

Toha menyebut bahwa prabowo minim pengalaman prestasi dalam pemerintahan. Presiden, Gubernur, Bupati/Wali Kota adalah jabatan politik. Sedangkan administrasi dalam pemerintahan tentunya ada pembantu-pembantu yang akan memberikan pandangan. Pengalaman dalam politik adalah modal yang harus ada dalam Pemimpin, dan itu dapat kita temukan dalam diri Prabowo.

Jokowi yang katanya adalah orang yang berpengalaman dalam bidang administrasi pemerintahan, tapi sering blunder dalam mengambil kebijakan dalam politik dan  administrasi pemerintahan. Contoh kecil, beberapa waktu lalu Jokowi menyatakan akan membebaskan Abu Bakar Ba’asyir, nyatanya Jokowi keliru dan tidak memahami mekanisme grasi, sehingga Wiranto sebagai menteri menegur presiden.

2. Karir yang baik

Toha menyebut bahwa Prabowo tidak pernah menunjukkan prestasi dalam keamanan. Mungkin Toha kurang membaca, sebagai Danjen Kopasus beliau adalah orang yang kaya akan prestasi. Militer bukan jabatan politik, yang ujug-ujug menjadi Danjen. Jabatan di militer adalah jabatan karir, yang siapapun dia harus meniti jenjang karir.

Karir gemilang dalam militer yang mungkin tidak diketahui Toha, bahwa beliau adalah komandan termuda dalam sejarah militer Indonesia yang memimpin pasukan dalam operasi tim Naggala di Timur-timur selepas lulus dari Akademi militer di Magelang pada Tahun 1974. Paradoks dengan apa yang dinyatakan oleh Toha, bahwa beliau tidak menunjukkan prestasi.

3. Dekat dengan siapa saja

Kedekatan Prabowo dapat kita lihat dari rekam jejak politiknya. Tahun 2009 Prabowo berpasangan dengan Megawati yang notabene mereka berdua adalah orang-orang orde-ordean. Megawati anak Sukarno pemimpin rezim orde lama, sedangkan Prabowo menantu Suharto sebagai rezim orde baru. Hal ini menunjukkan bahwa prabowo orang yang dekat dengan siapa saja, belakangan Prabowo dengan golongan Islamis.

4. Menyingkap pelanggaran HAM

Lagi-lagi si Toha menyampaikan pendapat yang tak berdasar. Pendapat-pendapatnya lebih kepada tuduhan yang tak jelas. Sebaliknya dalam pelanggaran HAM, Prabowo telah menyampaikan dalam kampanye politiknya, beliau akan mengusut tuntas pelanggaran HAM bila terpilih.

Sebaliknya Jokowi dalam kampanye politik dan visi dan misinya, menyatakan akan mengusut pelanggaran HAM. Sebagai petahana, Jokowi seharusnya mengungkapkan prestasinya dalam mengusut tuntas pelanggaran HAM yang ada, bukan lagi berbicara “Akan”. Nyatanya tidak ada kasus HAM yang tuntas dalam pemerintahan Jokowi, sebagai contoh kasus Novel Baswedan yang beberapa waktu lalu terjadi, padahal kejadian itu baru terjadi, apalagi Jokowi mau menuntaskan kasus HAM masa lalu.

5. Peretas sekat Agama dan Politik.

Agama dan politik dalam islam tidak ada kata dikotomisasi. Agama dan politik dalam islam saling bertalian. Prabowo adalah tokoh yang dapat meretas sekat agama dan politik. Kedekatan Prabowo dengan islamis dan manuver politik Prabowo menyadarkan orang-orang yang anti-demokrasi untuk sadar politik.

Sebagai contoh, saya punya teman yang beristrikan pengikut HTI. Istri beliau tidak pernah tertarik dengan politik dan sistem demokrasi. Hingga akhirnya Prabowo maju dan mampu merangkul golongan agamis dalam kontestsi politik.

Menurut saya pernyataan Toha tentang Prabowo yang megeksploitasi agama dalam politik adalah bentuk rasa frustasi tim Jokowi dalam meyakinkan golongan islam kanan untuk mendukung kembali Jokowi dalam kontestasi politik, walaupun Jokowi telah merangkul ketua MUI untuk menjadi wakil presiden mendampingi beliau.

6. Janji Kampanye yang  Realistis.

Prabowo disetiap kesempatan dalam kampanyenya menjanjikan perubahan yang lebih baik. Janji kampanyenya juga realistis dan tidak muluk-muluk. Kalau dahulu Jokowi menyatakan tidak mengimpor dari luar negeri, nyatanya Indonesia saat ini menjadi salah satu Negara importir terbesar, termasuk impor karet. Food and Agriculture Organization (FAO), pada tahun 2016 merilis data Indonesia menempati peringkat 7 dunia pengimpor karet di dunia.

7. Ultra Nasionalis

Dalam debat Presiden kedua pada tanggal 17 Februari 2019 yang lalu. Jokowi menyerang aset kepemilikan tanah Prabowo di Kalimantan dan Aceh yang mencapai 300 ribu hektar. Serangan Jokowi pada hakekatnya memperkuat posisi Prabowo, bahwa beliau orang yang tidak lagi diragukan Nasionalismenya.

Closing statemennya sangat memukul Jokowi kembali, beliau menyatakan “siap menyerahkan kembali aset tanah yang dikuasainya demi Negara dan Bangsa Indonesia, bila diperlukan oleh Negara dan dari pada jatuh ketangan asing”. Hal ini menjadi bukti betapa ultra-nasionalisnya beliau. Pernyataan yang hampir tidak kita dengar dari Jokowi.

8. Kampanye Damai.

Disetiap kampanyenya beliau tak pernah menyerang membabi-buta, sebagai contoh serangan personal Jokowi terhadap Prabowo dalam debat kedua Capres beberapa waktu lalu. Beliau sangat sabar, dan ketika diminta untuk menyerang balik, beliau tidak mau “biar rakyat yang menilainya, pungkasnya”.

Adapun alasan-alasan orang tentang Prabowo tentang kepesimisannya, tidak lain adalah kekhawatiran beliau terhadap Negara yang salah diurus, hutang semakin bengkak, infrastruktur yang tidak menguntungkan daya beli yang rendah dari masyarakat.  Dan lemahnya kepemimpinan Jokowi yang terkesan langkah dan kebijakannya diatur dan didiktu orang-orang disekililingnya.

9. Dikelilingi Tim yang Ahli.

Orang-orang yang disekitar beliau adalah orang yang berpengalaman. SBY 10 tahun sebagai presiden yang berwibawa berada disampingya. Dikelilingi tim ahli, tokoh reformasi dan segudang tim lainnya siap mengawal dan memberikan masukan-masukan kepada Prabowo.

10. Personal yang Humanis

Dibalik tutur bahasanya yang keras, terkesan arogan, beliau adalah manusia yang berhati lembut. Beberapa waktu lalu ketika beliau berkunjung ke Medan Sumatera Utara, seorang anak memberikan celengannya kepada Prabowo dan menuliskan sepotong surat harapan kepada beliau untuk membangun negeri ini menjadi lebih bermartabat.

Saat membaca tulisan anak tersebut, beliau meneteskan air mata keharuan, atas apa yang telah dituliskan oleh anak  itu. Seorang prajurit komando, tegas, kuat dan tangguh tersingkap sisi kelemah-lembutannya.

Semoga kita mendapatkan hidayah dengan memilih pemimpin yang tegas dan tidak didikte oleh bawahan sendiri. Pemimpin yang berwibawa dan tidak jumawa. Pemimpin yang tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah semata, dan itu hanya terdapat dalam diri “Prabowo”.

Fauzi Ahmad Syawaluddin
"Belajar adalah cara memahami kebodohan". Tinggal di Rantauprapat Sumatera Utara.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.