Sabtu, April 17, 2021

Politisi Muda di Senayan, Tumpuan Harapan atau Numpang Eksis?

Menunggu Jawaban Sang Maestro Hukum

Selamat dilantik kembali Presiden Jokowi. Banyak sekali harapan kita selaku rakyat kecil terhadap kemajuan bangsa ini. Akan tetapi banyak pula kekecewaan dan keresahaan pada...

Hutan Beton dan Awan Pekat Ibu Kota Jakarta

Saat kita menyusuri jalanan Ibu Kota Jakarta, tampak jelas pandangan tertuju pada bangunan-bangunan tinggi ibarat hutan beton yang dihiasi dengan papan nama dipermukaan gedung...

Organisme Virtual dan Penumpang Gelap Teknologi

Meminjam istilah Heidegger, teknologi adalah enframing, yaitu rangkaian teknis yang dibuat manusia untuk mengungkap kebaruan/tujuan. Teknologi tak lagi sebatas identitas peradaban kultural, ia merasuk...

Reformasi Dikorupsi, Bergerak dan Melawan

Putaran demi putaran diskusi telah dijalankan, aneka protes baik di media sosial maupun nyata telah digalakkan. Mulai dari tolak revisi UU Ketenagakerjaan, revisi UU...
Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca tulisan di sebuah media besar tentang kaum muda di Senayan. Dalam tulisan itu diceritakan bahwa ada sekitar 72 kaum muda yang terpilih menjadi anggota DPR RI dari berbagai dapil, dari berbagai partai. Rentang usianya dari 23-40 tahun.

Ada semacam optimisme di tulisan tersebut. Di akhir tulisan terpapar sebuah harapan kepada kaum muda yang terpilih di Senayan itu untuk memberikan perubahan.

Saya kira, itu adalah optimisme yang terburu-buru. Berharap boleh-boleh saja. Tapi lihat situasi dan kondisi.

Kita tengok atmosfir politik di Indonesia. Dengan atmosfir politik pragmatis yang mengahalalkan segala cara dan arusnya begitu tak terbendung semacam ini, siapa pun yang masuk di dalamnya, apakah itu kaum muda, setengah tua atau tua tidak mungkin tidak terseret arus permainan politik pragmatis yang menghalalkan segala cara itu.

Sebagaimana yang kita tahu, politik pragmatis yang menghalalkan segala cara lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, alih-alih kepentingan rakyat. Seberapa besar harga yang harus dibayar oleh rakyat dari pemilu termutakhir, waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa?

Kita ambil contoh dari salah satu partai yang pada pemilu termutakhir ikut kontestasi. Partai baru tersebut memproklamirkan diri sebagai partainya anak muda. Anak muda adalah simbol semangat, progressive, gandrung akan perubahan. Dan memang seperti itulah citra yang coba ditampilkan kepada rakyat oleh partai tersebut.

Kader kadernya yang cukup percaya diri nampang di media. Tetapi, ternyata hanya kadernya saja yang muda-muda. Cara main politiknya tidak, tetap tidak jauh berbeda sama yang tua-tua. Terutama perihal konsistensi. Misalnya, bilang anti korupsi, tapi balihonya mengganggu trotoar. Pemimpin partai bilang ini. Kader lain, yang memiliki posisi penting bilang itu.

Di dalam tulisan yang saya baca di media besar itu penulisnya juga menggambarkan pemuda dengan mengutip Tan Malaka. Bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda. Idealisme berkaitan dengan pemegangan teguh sebuah prinsip yang artinya identik dengan konsistensi. Sedangkan kenyataannya alih-alih konsisten, malah mencla-mencle.

Oleh karenanya, jika kita mengambil contoh dari partai tersebut, yang mau mencitrakan diri sebagai partai pemuda secara substantif bisa dikatakan gagal.

Di sisi lain, apa yang dilakukan partai tersebut tidak sepenuhnya salah. Permainan – permainan politik yang mencla – mencle seperti itu memang sudah biasa di negeri kita ini. Sebagaimana kata Ronggowarsito, di zaman edan harus ikut – ikutan edan, kalau tidak edan tidak kebagian.

Para politisi yang percaya diri tampil di televisi mengatakan bahwa politik itu dinamis. Sejauh mana batas dinamisnya? Jangan-jangan dinamis yang dimaksud bukan dinamis dalam artian positif. Tetapi menghalalkan segala cara, yang penting kepentingan terlaksana, tujuan tercapai.

Para politisi muda itu apakah tidak mengalami inkonsistensi sebagaimana yang dialami partai tersebut? Apakah pada masa-masa kontestasi politik termutakhir menunjukkan kredibilitasnya sebagai politisi? Benar-benar dipilih rakyat karena kualitasnya. Bukan karena untung-untungan atau menghalalkan segala cara. Termasuk dengan kekuatan modal yang besar.

Di sisi lain, apa orientasi para politisi muda yang mungkin secara mental belum begitu stabil masuk ke dunia politik? Ingin membangun karier? Ingin memunculkan kebanggaan diri, “Ini lho aku pejabat”? Ingin mencari kekayaan? Atau ingin mengabdi kepada rakyat?

Kalau ditanya, sudah pasti akan menjawab, ingin mengabdi kepada rakyat. Kalau benar seperti itu. Seberapa banyak jam terbang perjuangannya untuk rakyat. Seberapa besar harapan rakyat atas calon-calon muda itu.

Kembali ke atmosfir politik yang sedang berlangsung. Apakah atmosfir politik di Indonesia sekarang bisa mengondisikan seseorang kondusif berjuang untuk rakyat? Kalau ada yang menjawab iya, mungkin ia sedang tutup mata dan tutup telinga.

Buktikan dulu perjuangan di luar Senayan. Jangan tiba-tiba tampil di Senayan. Nanti kaget.

Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.