Senin, Mei 17, 2021

Negeri ini Terbebani Dua Semangka

Masyarakat Adat Sebagai Penyandang Hak

Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) menggunakan istilah kesatuan masyarakat hukum adat dan masyarakat tradisional untuk menunjuk entitas masyarakat adat. UUD 1945 tak menjelaskan dua...

Bedanya Radikalisme dan Fanatisme Agama, Jangan Ngawur!

Akhir-akhir ini, seringkali terjadi kekeliruan—yang dalam fase tertentu—sangat fatal. Salah satunya ialah pemahaman tentang istilah radikal yang selalu diidentikan dengan fanatisme agama. Tentu, penyematan...

Arah Kabinet Jilid II Joko Widodo?

Di era perjuangan kemerdekaan hingga berakhirnya orde baru kita nyaris tak pernah mendengar adanya nama-nama bakal calon menteri yang beredar di koran, radio dan...

Menakar Disertasi Seks di Luar Nikah

Belakangan ini, publik diributkan oleh fenomena yang cukup unik dan berani yaitu seorang doktor yang berhasil mempertahankan disertasinya yang terbilang kontroversial. Selain pembahasan tentang seks...
Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka

Ilmu pemasaran, produk atau jasa yang ditawarkan harus keunggulan. Keunggulan ini ditekankan pada subjek produk atau jasa yang eye catching dan punya kelebihan. Kebetulan kalau di tempat kita bertempat tinggal ini, para penjaja produk dan jasa banyak yang menggunakann identitas fisik sebagai daya tariknya. Sebut saja warung nasi goreng Pak Kumis, bakso Pak Jenggot, mie ayam Pak Jangkung, jamu gendong Bu Gendut, dan masih banyak ciri fisik lain yang ikut dijajakan.

Ternyata bukan hanya dagangan berupa produk saja yang menyertakan identitas fisik, namun bidang jasa pun ikut mengungkapkan ekspresi fisiknya. Kita bisa saksikan jasa boga seperti katering Mak Gembul, servis komputer Mas Ompong, grup musik Tiga Dara Genit, Trio Gemulai, dan yang baru adalah Duo Semangka.

Meskipun mereka menganalogikan wujud fisiknya bagai buah semangka, hal ini tetap saja menjajakan fisik sebagai daya tarik dagangan jasa musiknya.

Terlepas dari kualitas suara yang prima, kekompakan ritme nada dengan lirik, atau hal lain yang menyebabkan musik menjadi indah, namun menurut mereka yang lebih penting adalah menjajakan bentuk fisik untuk segmen khalayak yang memang menyukai itu.

Andai saja sekarang KPAI mulai memberikan himbauan agar mereka berpentas secara patut agar segmen anak-anak lebih merasakan kesegaran alami sesuai dengan usianya, namun kesalahan sepenuhnya juga bukan terletak pada artis-artis ini.

Tidak dipungkiri bahwa upaya mereka adalah untuk meraih sesendok nasi dengan cara yang beragam. Ada regulasi moral yang membatasi, tetapi mereka juga menyuguhkan seni yang sudah ada segmennya. Segmen khalayak penyuka musik dengan tarian erotis dan tontonan fisik yang tak jelas bentuknya. Agaknya yang perlu dibenahi adalah kultur segmen di masyarakat kita.

Artinya begini, jika masyarakat kita yang haus hiburan, tontonan, atau lawakan dengan bumbu erotis mulai ditata dan dibenahi, maka besar kemungkinan bahwa penyedia hiburan semacam ini tadi akan mulai luntur dan kemudian hilang.

Khalayak tidak lagi membutuhkan hiburan semacam itu sebab secara moral sudah terbentuk, tertata, dan terkondisi pada situasi yang moralis.

Caranya misalnya dengan melibatkan tokoh masyarakat yang jadi panutan agar memberikan wejangan dan teladan yang seharusnya dilakukan. Dan bukan lagi menempatkan para tokoh masyarakat pada barisan terdepan penonton pertunjukan ini dengan dalih menghormati tokoh dan pejabat setempat.

Biasanya, para penari atau penyanyi dengan kultur seperti tadi akan turun mendekat ke arah tokoh masyarakat dan pimpinan wilayah setempat untuk mengajak menari, menyawer, atau bahkan melakukan hal-hal lain yang juga tidak sepatutnya dilakukan.

Pilihan lainnya adalah tidak diizinkannya hiburan dengan tontonan semacam itu oleh pemangku kepentingan di wilayah setempat.

Form isian untuk izin penyelenggaraan hiburan seharusnya lebih detail lagi dengan menunjukkan contoh foto atau tayangan video calon artis yang akan mengisi hiburan pada event tertentu.

Jika tidak etis dan patut ditonton, sebaiknya ditolak saja permohonan izin mereka. Dengan begitu, pemangku kepentingan tidak juga disalahkan oleh masyarakat karena terlanjur memberikan izin hiburan. Sepertinya, satu per satu permasalahan semacam ini mulai diurai dan dipikirkan jalan keluarnya.

Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

Taklid: Terpelesetnya Keulamaan Kita

Kegagalan kita dalam beragama adalah tidak teliti dalam membaca nash--baik itu perintah maupun larangan. Budaya taqlid kiranya memang mengelayuti konteks beragama di Indonesia. Beragama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.