Senin, Mei 17, 2021

Kekuasaan (Bukan) Hak Istimewa

Nasib Buku di Kandang Intelektual

Kita bisa membayangkan pada medio 1980-1990an di Indonesia, sekumpulan mahasiswa berada di tempat fotokopian memperbanyak sejumlah buku dan menggandakan tiap babnya jadi beberapa jilid....

Surya Paloh dan Pembelotan Partisan

Dukungan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh untuk mencapreskan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan tahun 2024 seperti petir di siang bolong. Tindakan politik...

Politisi Muda di Senayan, Tumpuan Harapan atau Numpang Eksis?

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca tulisan di sebuah media besar tentang kaum muda di Senayan. Dalam tulisan itu diceritakan bahwa ada sekitar 72...

Papua dan Hantu Rasial

"Bhineka Tunggal Ika", saat ini sedang berkabung, melihat peristiwa represif yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, menandakan masih kentalnya kebencian berbasis rasial....
Agustinus Felix
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya

Budaya feodal adalah budaya yang tertanam lama dibumi Nusantara. Sistem kerajaan yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, membentuk sikap feodal. Sejarah panjang itu yang melahirkan sikap penghormatan yang tinggi kepada pemegang kekuasaan.

Kehadiran pemerintah Hindia Belanda semakin memperkuat sikap feodal itu. Mereka menggunakan budaya itu untuk memperlemah kekuatan bangsa. Struktur masyarakat secara sengaja dipecah menjadi priyai dan masyarakat biasa.

Mereka yang dimaksudkan ke dalam kelompok priyai mendapatkan banyak hak istimewa. Itulah yang kemudian melahirkan pandangan power is privilege. Karena kekuasaan adalah hak istimewa, mereka mencoba mempertahankan status itu dengan berbagai cara. Termasuk dengan menghamba kepada pemberi kekuasaan dan menekan kepada mereka yang berada dibawah.

Kemerdekaan 17 Agustus 1945 membawa semangat perubahan, termasuk dalam melihat kekusaaan. Para pendiri bangsa banyak dipengaruhi pemikiran bangsa Prancis dengan semboyannya: Fraternite, egalite, liberte.

Bung Hatta merupakan simbol kuat dari perubahaan itu. Ia menolak pemberian dari Sultan Hamengkubuwono IX Untuk kebutuhan dirinya sebagai wakil presiden pertama Republik Indonesia. Bung hatta berpandangan, kesahajaan merupakan bagian dari resiko jabatan yang ia terima.

Sultan Hamengkubuwono IX pun rela melepaskan hak istimewa sebagai Raja Yogyakarta demi bergabung dengan Republik. Bahkan Sultan Hamengkubuwono IX Secara terbuka menyerahkan “takhtanya untuk rakyat”. ia dicintai rakyat Yogyakarta karena selalu berbaur dengan kehidupan rakyatnya.

Indonesia sangat membutuhkan simbol kesederhanaan dari para pemimpinnya. Itulah yang akan bisa menghapuskan pandangan bahwa kekuasaan adalah hak istimewa.

Para pemimpin besar dunia menanamkan sikap yang sama kepada rakyatnya. Bapak Bangsa India, Mahatma Gandhi melepas simbol kebaratan yang melekat pada dirinya ketika memperjuangkan kemerdekaan India. Ia rela untuk hidup dengan segala keterbatasan, padahal sebagai seorang sarjana Hukum lulusan Inggris, Gandhi dapat hidup lebih nyaman.

Asketisme Gandhi tertanam kuat pada rakyat India. Para pemimpin India tidak berani untuk hidup bermewah-mewahan. Mereka tahu menjadi pejabat adalah pengabddian, bukan untuk mendapatkan keistimewaan. Ketika ada pejabat India yang keluar dari nilai-nilai itu, maka sikap hidup Gandhi akan mengigatkan mereka.

Sikap asketis yang dijalankan Bung Hatta sayangnya tidak tertanam kuat pada bangsa Indonesia. Kita tidak mencoba untuk menggaungkan teladan Bung Hatta sebagai sikap hidup yang harus dijalankan. Padahal sepanjang hidupnya, Bung Hatta memisahkan secara jelas mana yang merupakan dinas negara dan mana yang kepentingan pribadi. Bung Hatta memilih menabung sen demi sen untuk bisa membeli sepatu kesukaanya daripada dibelikan oleh orang lain.

Di era gaya hidup seperti sekarang, godaan untuk hidup bermewah-mewahan harus kita akui begitu kuatnya. Ketika kita sekedar mengejar gaya hidup dan lupa untuk bekerja keras terlebih dahulu, maka kita mudah untuk menjadi gelap mata.

Nilai-nilai yang baik pun perlahan-lahan tersisihkan. Buya Syafii Maarif dan Romo Franz Magnis Suseno melihat bangsa ini terlalu menjadikan materi sebagai dewa. Yang lebih ironis banyak pejabat negara yang terjebak dalam pandangan yang hedonis.

Itulah yang akhirnya melahirkan maraknya praktik korupsi. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kita sepakat untuk diperangi pada awal reformasi, justru semakin menjadi-jadi. Semua itu terjadi karena semakin kuatnya pemahaman bahwa kekuasaan itu adalah hak istimewa.

Agustinus Felix
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.