Jumat, Juni 18, 2021

Awas Gagal Paham Tujuan Kelompok Teror

Politik Eksklusif atau Politik Inklusif?

Demokrasi adalah bagaimana mengelola relasi kekuasaan yang dapat memberikan peluang, akses dan kesempatan bagi semua elemen masyarakat terhadap kekuasaan dan sumber daya. Demokrasi seyogianya...

Papua dan Hantu Rasial

"Bhineka Tunggal Ika", saat ini sedang berkabung, melihat peristiwa represif yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, menandakan masih kentalnya kebencian berbasis rasial....

Crosshijaber, Antara Teror dan Perilaku Menyimpang

Indonesia mampu menampilkan hal-hal baru, baru namun bernilai positif, masih bisa ditolerir. Tetapi jika yang baru ini adalah sesuatu yang aneh, tak lazim, dan...

Thor Odinson, Mitos Penciptaan

Mitos adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah panjang umat manusia. Setiap bangsa memiliki kisah dan mitos yang unik. Mitos ini sering menjadi sumber...
Lutfi Awaludin Basori
Freelance Journalist

Ketika terjadi aksi terorisme seperti bom bunuh diri, maka kita sering kali memaknai hal itu sebagai aksi menebar ketakutan. Nah, ketika tak terjadi aksi teror dalam rentan waktu yang lama, maka kita sering berkesimpulan jika kelompok teror sudah musnah.

Tak selamanya pendapat seperti itu salah, tapi juga tak benar seratus persen. Sebab tujuan kelompok teror bukanlah untuk menebar ketakutan semata. Atau membunuh orang sebanyak-banyaknya. Tapi tujuan kelompok teror adalah merebut kekuasaan. Kita kerap kali gagal memahami tujuan kelompok teror ini.

Salah satu pembicara pada diskusi tertutup terkait terorisme awal tahun ini mengatakan hal itu. Jika tujuan kelompok teror sesungguhnya adalah merebut kekuasaan. Pembicara lain, masih di acara yang sama menyebut jika kelompok teror memiliki tiga jalan untuk mencapai tujuan mereka. Pertama adalah dakwah, kedua politik, dan ketiga teror.

Poin ketiga sudah dilakukan oleh Jamaah Islamiyah (JI) dulu, ISIS dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) kini. Poin pertama JI, ISIS, dan JAD terus lakukan sampai saat ini. Sementara untuk poin kedua, ISIS dan JAD ogah ambil jalan itu, sebab bagi mereka itu sama artinya mengakui demokrasi yang mereka anggap bertentangan dengan akidah. Tapi berbeda pandang dengan ISIS dan JAD, JI mulai melunak soal demokrasi.

The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) lembaga tanki pemikiran yang digawangi pengamat terorisme Sidney Jones dalam laporannya berjudul The Re-Emergence of Jemaah Islamiyah pada 2017, mencatat bagaimana JI berkompromi dengan demokrasi.

Jika JI terdahulu mengharamkan demokrasi, JI pimpinan Para Wijayanto yang diangkat amir pada 2007 menyelinap dalam demokrasi. Bahkan JI menyusun risalah terkait hal ini. Risalah itu berjudul “Mungkinkah Demonstrasi Damai dan Gerakan Jihad Bersanding?” Jawaban JI adalah ya. Hal ini setara dengan “jihad pena atau jihad pidato”.

Sebab JI yang sekarang dinamai aparat “Neo JI” tak lagi berfokus kepada aksi teror. Mereka meninggalkan aksi teror dan menjalankan kegiatan dakwah untuk menyebarkan ideologi.

IPAC juga menyebut sasaran dakwah mereka meliputi berbagai kalangan masyarakat termasuk kalangan berkeahlian khusus. Seperti dokter, teknisi nuklir, insinyur, jurnalis, pengacara, ahli komunikasi hingga ahli pertanian.

Langkah JI ini menurut Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andre membuatnya mampu bertahan lebih lama daripada kelompok lain. Sebab JI berpikir strategis. Mereka mengkaji untung dan ruginya dari setiap langkah yang ditempuh. Terkiat akibat untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Dari situ kelompok JI mengenali titik lemah dan memperbaiki diri.

Temuan terbaru polisi pun mengarah kepada hal yang sama. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, Senin 15 Juli 2019 mengatakan JI pimpinan Para Wijayanto yang baru ditangkap Densus, masuk ke lini strategis di masyarakat. Mereka juga menggunakan pendekatan kepada partai politik dan tokoh Agama.

Jauh sebelum itu, tepatnya pada 2015 penulis pernah menemukan seorang anggota JI yang masuk daftar cekal PBB berpose dan berfoto bersama Anggota Dewan. Tak tanggung-tanggung mereka berfoto di Rumah Wakil Rakyat. Bisa jadi karena kelihaian anggota JI ini masuk ke berbagai lini hingga tak tercium saat masuk ke Rumah Rakyat. Bahkan juga tak terdeteksi oleh Anggota Dewan itu sendiri.

Pengamat terorisme, sekaligus mantan anggota JI, Nasir Abbas pada sebuah diskusi di Jakarta tahun lalu menyebut JI menggunakan konsep ipoleksosbudmil (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan militer). Setelah menganggap jalan teror tak menguntungkan JI, maka mereka mengambil jalan lunak, tapi dengan tujuan yang sama. Menguasai sebuah wilayah kemudian mendirikan Negara Islam.

JI bahkan membangun sekolah, pesantren, masjid, majelis taklim, segala hal mereka lakukan untuk mencapai tujuannya. Nasir bilang sulit bagi kita untuk mendeteksi mereka, sebab saat ini mereka menjalankan gerakan bawah tanah.

Pernyataan Nasir sesuai dengan temuan polisi. Dedi mengatakan jika JI menyebarkan paham mereka melaui dakwah dan media. Mereka memiliki media tersendiri untuk menyebarkan narasi-narasi propagandanya.

Jadi terang sudah jika tujuan kelompok ini sebenarnya bukanlah teror seperti yang tampak selama ini. Tapi aksi teror itu hanya sebagian kecil dari strategi mereka untuk meraih kekuasaan.

Salah satu cermin jika tujuan mereka sebenarnya kekuasaan adalah apa yang menimpa Suriah beberapa tahun terakhir. Alqaeda yang JI merupakan bagian darinya menjadi salah satu anasir di Suriah yang angkat senjata melawan pasukan Presiden Suriah Bashar Al Assad.

Contoh lain di Marawi, Filipina. Bagaimana kelompok Isnilon Hapilon dan Omar Maute yang berafiliasi dengan ISIS mencoba menguasai Marawi. Tapi berhasil digagalkan tentara Filipina.

Di Indonesia sendiri kelompok Ali Kalora hingga saat ini masih diburu aparat di Poso, Sulawesi Tengah. Ali Kalora yang kini menjadi pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pasca tewasnya Santoso terus bergerilnya dan melakukan perlawanan.

Seperti kelompok terorisme lainnya, MIT juga ingin berkuasa dan mendukung kelompok ISIS yang bercita-cita mendirikan Negara Islam. Hanya saja mereka melakukannya dengan cara mengakat senjata. Sebab mereka memiliki modal untuk melakukan perlawanan bersenjata, serta wilayah untuk berperang.

Lalu bagaimana jika JI saat ini tak memiliki “microfon” dan “pena”? Tapi mereka memiliki wilayah, senjata dan tentara, masihkan mereka mengambil jalur dakwah?

Lutfi Awaludin Basori
Freelance Journalist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.