Rabu, April 21, 2021

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

Nawal El Sadaawi, Melawan Titik Nol

Perempuan yang duduk di lantai di depanku ini adalah wanita sejati. Suaranya memenuhi telingaku dengan kata-kata, dengan gema di sel penjara yang pintu dan...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

In Memoriam Dadang Hawari

Dunia psikiatri Islam menangis. Salah seorang "pendekar dan suhu"-nya Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater terkemuka di Indonesia meniggal, Kamis (4/12/2020) di Jakarta. Dadang Hawari, tak...

Rahmat Jalaluddin Rakhmat

Jalaluddin Rakhmat yakin bahwa Gus Dur adalah seorang yang menguasai ilmu laduni -- pengetahuan yang didapat seseorang tanpa melalui proses belajar. Bagaimana ia bisa...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

In Memoriam Artijo Alkostar

Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA.

Dua tokoh MA ini, perbedaannya bak langit dan bumi. Jika Artijo sering keluyuran di Jakarta pakai bajaj dan soliter, tak mau menemui orang karena posisinya sebagai hakim agung sesuai pesan Imam Maliki (takut dimanfaatkan), sebaliknya Nurhadi. Ia rajin bertemu dengan orang-orang punya masalah hukum untuk memanfaatkan posisinya sebagai sekjen MA, memakai mobil sipermahal. Konon, sopirnya Nurhadi pun kecipratan. Kaya raya, rumahnya besar dan punya beberapa mobil.

Yang menarik, konon, di MA ada irisan pekerjaan antara Artijo dan Nurhadi. Jika ada kasus pidana jumbo, Nurhadi langsung mendekati terpidana. Apa masalahnya di teruskan ke meja Artijo atau ke yang lain. Jika ke yang lain, harus bayar.

Terpidana tentu memilih berkasnya tidak di meja Artijo. Sebab, bisa kena putusan MA yang lebih besar hukumannya ketimbang putusan Pengadilan Negeri (PN). Putusan kasasi di MA yang ditangani Artijo, kadang masa hukuman dan dendanya dua kali lipat dari putusan PN. Artijo memang antikorupsi. Sebab baginya, korupsi inilah yang menghancurkan bangsa. Karenanya koruptor harus dihukum maksimal.

Itulah sebabnya terpidana kasus korupsi atau suap mau membayar berapapun kepada Nurhadi asal berkasnya tidak ditangani Artijo. Terbayang — berapa kekayaan Nurhadi ketika menjadi Sekjen MA (2011-2016). Luar biasa.

Di MA Nurhadi terkenal sebagai pejabat tajir melintir. Bahkan ruangan kantornya ia bangun sendiri dengan perabotan super mewah pakai uang pribadi. Waktu menikahkan anaknya di Hotel Mulia, Nurhadi mengundang ribuan orang, dengan hadiah iPad yang mahal untuk setiap undangan yang hadir.

Waktu KPK menggeladah rumahnya di kawasan elit Kebayoran Baru, petugas menemukan uang milyaran rupiah yang disimpan di ember bak mandi. Mungkin sudah gak ada lagi tempat menyimpan uangnya. Saking banyaknya.

Nurhadi telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap-gratifikasi Rp 46 miliar. Setelah dua kali mangkir diperiksa sebagai tersangka, Nurhadi masuk menjadi daftar pencarian orang (DPO) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KPK menetapkan Nurhadi sebagai buron. Akhirnya eks Sekjen MA ini berhasil dibekuk aparat bersama menantunya, Rezky yang juga terlibat persekongkolan dengan mertuanya, Senin (1/6/2020) malam di kawasan Simprug, Jakarta Selatan. Andai saja Artijo masih hidup dan menangani kasus Nurhadi, mungkin pendekar MA ini akan memberi hukuman mati kepada koruptor kakap yang memanfaatkan jabatannya tersebut.

Nurhadi telah meringkuk di tahanan. Artijo telah meninggalkan MA untuk selamanya. Apa yang terjadi? Kini, para koruptor ramai-ramai mengajukan kasasi atas vonisnya di PN. Hasilnya, bikin senyum. Mayoritas mendapat keringanan hukuman. Ya, jika saja Artijo masih di MA, mereka tak akan berani mengajukan kasasi. Takut hukuman dan dendanya makin berat.

Selamat Jalan Pak Artijo Alkostar, Sang Pendekar Hukum. Namamu telah menjadi legenda yang indah di tengah anak bangsa. Insya Allah Tuhan akan menempatkanmu di sorga. Indah selamanya.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.