Sabtu, Mei 15, 2021

Ujian Nasional, Diselenggarakan untuk Siapa?

Melihat Kembali Sistem Pendidikan Kita

Pendidikan merupakan hak dasar setiap individu untuk membebaskan dirinya dari belenggu ketertindasan. Di tengah moda ekonomi hari ini, pendidikan biasanya ditempuh melalui sekolah-sekolah formal....

Bahaya Laten Hizbut Tahrir Indonesia

Saya mengenal Hizbut Tahrir sekitar 28 tahun yang lalu, ketika publik belum mengenalnya. Di masa itu Hizbut Tahrir memang belum memperkenalkan diri secara formal....

Tanggapan untuk IAD Mengenai Pemotongan Salib di Yogyakarta

Tulisan Iqbal Aji Daryono (IAD) kemarin memberikan pemakluman terhadap peristiwa pemotongan salib di pemakaman di Kotagede, Yogyakarta, dan mencemooh mereka yang menyematkan kata intoleransi...

Hijab Nasrin Sotoudeh, Kerudung Jacinda Ardern

Dunia tampaknya melihat dengan takjub nan takdim kepada kerudung Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern. Tapi, negara dengan mayoritas umat Islam seperti di Indonesia,...
Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.

Kemendikbud baru saja menyelenggarakan ujian serentak yang biasa di sebut Ujian Nasional (UN), untuk para siswa sekolah dasar dan menengah. Banyak berita yang menginformasikan bahwa UN semakin tahun semakin dipersulit, kemudian Kemendikbud menjawab sebabnya adalah agar siswa Indonesia dapat lebih menggunakan nalarnya, dan lebih kompeten sesuai dengan standar internasional.

Pertanyaan saya: mengapa UN dipersulit?

Sebelum jauh-jauh sampai sana, yang paling subtansial adalah Kemendikbud ingin siswa di Indonesia memenuhi standar internasional. Tapi, apakah Kemendikbud sudah bisa memastikan seluruh anak di Indonesia bisa mengikuti Ujian Nasional? Melihat data di tahun 2016, menurut Badan Pusat Statistik terdapat 73 persen anak putus sekolah dikarenakan faktor ekonomi.

Lalu Kemendikbud melakukan hal tersebut untuk siapa? Seluruh anak di Indonesia ataukah hanya anak-anak yang beruntung secara ekonomi sehingga dapat mengenyam pendidikan? Dengan data di atas, menurut saya sudah cukup jelas membuktikan bahwa biang keladinya adalah praktik pendidikan mahal di Indonesia.

Program pemerintah wajib belajar dua belas tahun pada prakteknya masih sangat jauh dari harapan, banyak ketimpangan yang terjadi antara siswa yang bersekolah di kota dan pelosok. Sebagian besar anak pelosok mengaku minder untuk bersekolah karena harus bersaing dengan siswa kota. Maka disini masalah krusial pendidikan selanjutnya adalah masalah kesadaran pendidikan.

Praktek wajib belajar dua belas tahun hanyalah ilusi, di kala sekolah memang gratis untuk anak tetapi kondisi orang tuanya terjebak di dalam sistem negara yang di mana memenuhi kebutuhan untuk makan sehari-hari saja tidak cukup, maka dari itu banyak orang tua memilih tidak menyekolahkan anaknya, tetapi untuk membantu membantu pekerjaan sehari-hari agar tetap bisa makan. Sudah bisa dipastikan banyak yang meragukan pendidikan dapat merubah nasib orang-orang tersebut, karena pendidikan di Indonesia tidak objektif; tidak mampu menjawab problematika masyarakat pada hari ini.

Permasalahan krusial di atas menandakan yang tersiksa adalah siswa menengah ke bawah, lalu bagaimana dengan siswa menengah ke atas dalam mengenyam pendidikan? Dengan sistem pendidikan yang salah pada hari ini, yang menjadikan standar satu-satunya adalah nilai akhir ujian dalam tiga hari atau maksimal satu minggu (ujian nasional) yang mewakilkan selama bertahun-tahun sekolah. Siswa menengah ke atas bisa melakukan strategi yang tidak bisa dilakukan oleh siswa menengah ke bawah yaitu dengan mengikuti sejumlah privat atau bimbingan belajar (bimbel), karena hanya siswa menengah ke atas lah yang mampu membayar bimbel.

Bagaimana anak pelosok tidak semakin merasakan ketimpangan atau minder pada siswa kota kalau begini keadaannya? Sudah jelas bukan tujuan Kemendikbud mempersulit soal UN hanya untuk siswa mampu secara ekonomi saja?

Lalu kemana dana APBN 20 persen yang harus direalisasikan hanya untuk pendidikan?

Sungguh malang nasibmu, anak miskin…

Paulo Freire pernah berkata bahwa pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Manusia adalah penguasa atas dirinya sendiri, dan karena itu, fitrah manusia adalah menjadi merdeka dan bebas.

Maka dari itu pendidikan haruslah gratis, dan harus menjawab kondisi persoalan pada hari ini. Untukku, dibandingkan Kemendikbud harus sibuk mempersulit UN setiap tahunnya, lebih baik Kemendikbud mempertanggungjawabkan angka putus sekolah yang mencapai 73 persen agar ditekan menjadi 0 persen. Agar pendidikan di Indonesia dapat dirasakan oleh seluruh anak Indonesia, dan dapat mewujudkan pendidikan yang objektif; yaitu terbebas dari ketertindasan, sesuai kata Freire.

Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.