Senin, Mei 17, 2021

Tebang Pilih Toleransi Terhadap Penghina Agama

Benarkah Presiden Jokowi Pro-Lingkungan Danau Toba?

Saya masih ingat betul. Waktu itu saya masih SD. Hampir semua warga kampung kami pergi. Mereka meninggalkan sawah dan ladang hanya untuk sebuah alasan...

Kekerasan Seksual Anak dan “Homoseksualitas” Islam

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2019 ini terasa paradoks. Jeritan puluhan anak korban kekerasan seksual tenggelam di tengah gegap gempitanya perayaan dan seremonial. Setidaknya...

Mengembalikan Kehormatan Presiden

Jangan menyiram bensin pada api yang berkobar. Padamkanlah api itu dengan hati, bukan pakai polisi. Bagaimana seorang pemimpin seharusnya? Bagaimana kekuasaan itu digunakan? Jika pertanyaan...

Guru, Sang Pahlawan yang Toleran

Ada dua momen penting di bulan November ini, yaitu Hari Pahlawan (10 November) dan Hari Guru (25 November). Kedua hari ini mempunyai kaitan satu...
Avatar
Muhsin Labib
Pengajar filsafat Islam dan pemerhati isu-isu toleransi dan kemanusiaan.

Setiap saat selalu agamawan penyebar kebencian terhadap agama minoritas dan aliran kecil di hadapan publik mayoritas yang terus menerus diasupi dengan teks-teks perintah agresi dan diiming-imingi pahala melakukan persekusi berlabel jihad dan amar makruf – nahi munkar.

Celoteh sotoy tentang salib dari liang mulut seorang agamawan pujaan banyak umat bukanlah kasus baru. Ia hanya satu dari banyak penganut doktrin intoleransi yang secara temurun telah disemai dan diajarkan dari masa ke masa.

Permohonan maaf hanya relevan dalam pelanggaran etik yang personal. Kebencian terhadap agama lain dan mazhab lain bukanlah masalah personal yang bisa hilang selamanya dengan sebuah pernyataan permohonan maaf.

Pelontar ucapan penghinaan terhadap keyakinan lain hanyalah satu dari sekian banyak produk doktrin irrasional agama yang telah diberi perisai justifikasi teks-teks dan kutipan para pendahulu hingga dianggap final dan mutlak.

Pernyataan agamawan terkemuka”Khilafah adalah islami tapi mengancam NKRI” dapat dijadikan tolok ukur dan indikator mengakarnya doktrin yang berensensi penafian hak dan eksistensi penganut keyakinan lain.

Mayoritas senyap yang menjunjung tinggi logika beragama dan logika bernegara hanya mengecam agamawan penyebar kebencian di sosmed. Penyelenggara negara hanya mengulang-ulang himbauan. Agamawan yang toleran hanya bereaksi dengan memberikan pernyataan bantahan.

Penentangnya mungkin banyak tapi bisa dipastikan pemujanya lebih banyak, karena pernyataannya selaras dengan doktrin intoleransi yang telah merasuki publik dan umat melalui indoktrinasi masif sejak umat ini terbentuk.

Anehnya, kehebohan sebagai akibat dari pernyataan negatif terhadap agama yang dianut minoritas tak sama dengan dampak dari ujaran kebencian, intimidasi, persekusi, pengusiran dan agresi terhadap aliran minoritas dalam intra agama. Di negara berasas Pancasila ini sebuah sindikat berkedok organisasi yang secara resmi didirikan dengan tujuan menghujat, memfitnah dan mengganggu sekeompok warga minoritas aliran dibiarkan bahkan diperlakukan sebagaimana lazimnya ornas dan perkumpulan. Padahal tebang pilih dalam toleransi adalah intoleransi.

Kebencian yang bersumber dari doktrin teologi yang disisipkan dalam literatur pendidikan agama tak bisa dihilangkan hanya dengan pernyataan tokoh agama toleran tentang pentingnya saling menghormati atau himbauan bertoleransi dari pejabat negara untuk menerima kebhinnekaam. Ia hanya bisa dirontokkan dengan konsep tandingan yang kuat.

Tanpa konsep logis dalam beragama dan bernegara yang dirumuskan sebagai pembasmi teologi kebencian dan intoleransi, bisa dipastikan setiap saat kita akan sibuk menghebohkan ujaran kebencian yang meluncur dari mulut agamawan.

Pertanyaan pentingnya, siapkah umat ini membuang sebagian doktrin intoleransi dan ajaran agresi dari khazanah pemahaman keagamaannya yang terlanjur dianggap paling benar? Ini tak perlu dijawab oleh komedian berbaju koko yang memang dicetak sebagai agamawan intoleran tapi kita semua yang mulai khawatir tak tertarik kepada agama karena jumlah penganut intolerannya terlihat lebih banyak.

Avatar
Muhsin Labib
Pengajar filsafat Islam dan pemerhati isu-isu toleransi dan kemanusiaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.