Senin, Mei 17, 2021

Semua Gara-gara Pemilu

Mulai dari Pemilu, Menghilangkan Stigma Negatif bagi ODGJ

“Untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia (mungkin juga dunia) orang gila, eh, orang nonwaras ikut nyoblos. Prestasi luar biasa.” Begitulah salah satu cuitan warganet...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Jangan Lengah, Legislasi Masih Kritis!

Kalau yang apatis sudah responsif tandanya bahaya! Bukti karena ada yang salah dan mengganggu. Catatannya ya salah dan ganggu. Demo penolakan pasal-pasal bermasalah RKHUP...

Sejak Kapan Tuhan Ada?

Dari sudut usia sejujurnya saya masih terbilang muda untuk memasuki jenjang pernikahan. Usia saya belum genap 25 tahun. Pekerjaan tetap belum punya. Masa pembelajaran...
Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.

Pemilu memang sudah selesai, namun tidak dengan huru-haranya. Sejak dini hari tadi, seputaran kawasan kantor Bawaslu, dipenuhi oleh gabungan TNI dan Polri, serta barisan massa aksi yang menolak hasil rekapitulasi yang telah ditetapkan oleh KPU pada Selasa (21/5) kemarin.

Aksi yang bertajuk damai, yang dilakukan sejak kemarin ini memang awalnya berlangsung damai, namun setelah massa dari luar Jakarta datang, mulailah timbul provokasi dan membuat kericuhan.

Saya takjub, berkat Pemilu, Indonesia terpecah menjadi dua bagian, pendukung 01 dan 02. Lebih dari itu, berkat Pemilu, saya akhirnya melihat aksi yang lebih masif ketimbang aksi May Day. Dengan adanya aksi yang sampai membakar kendaraan hingga pelemparan bom molotov tersebut, bagi saya justru menunjukkan bahwa warga Indonesia memang terlalu naif soal Pemilu.

Amien Rais memang man behind the game. Propaganda dengan sentimen agama dan People Power yang ia gadang-gadangkan memang berhasil menyulut api ‘perjuangan’ di kalangan pembela kubu 02, buktinya aksi ‘damai’ tersebut berjalan dengan masif. Masif massa aksinya, masif pula ricuhnya. Sungguh saya muak melihatnya.

Saya memang kesal dengan aksi ‘damai’ yang katanya membela rakyat dari kezaliman. Apakah zalim bagi mereka hanya sebatas dicurangi di Pemilu? Ke mana massa aksi tersebut ketika terjadi begitu banyak penggusuran tempat tinggal? Ke mana barisan yang teriak zalim ini ketika para petani dirampas lahannya?

Namun saya tidak bisa marah pada massa aksi tersebut. Karena sesungguhnya mereka adalah korban dari busuknya para elite politik yang dengan seenaknya mempermainkan emosional warga yang dengan polos mendukungnya. Padahal menang atau kalah, keadaan rakyat kecil pun tetap saja tak dihiraukan. Petani akan tetap merasakan perampasan, buruh akan tetap diperas tenaganya, sedangkan mereka, para elite politik, ungkang kaki dengan santai, lalu terima uang.

Saya rasa, pendukung kubu 01 dan 02 tidak perlu capek-capek adu otot untuk membela junjungan yang tidak pernah peduli terhadap rakyat miskin itu, tak ada gunanya. Hal tersebut hanya akan memperpanjang perpecahan di Indonesia.

Sudahlah, baik 01 ataupun 02, mereka sama saja. Tak akan pernah berpihak pada rakyat miskin. Mereka hanya akan mementingkan pengusaha-pengusaha kaya yang ingin melakukan investasi, agar perusahaannya berjalan dengan lancar, baik secara aturan maupun di lapangan.

Kalau memang sudah terjadi perpecahan tersebut, artinya negara gagal menghadirkan sistem yang mampu menyatukan setiap warganya. Jika sudah seperti itu, baiknya lima tahun yang akan datang, Pemilu dihapuskan saja. Agar tidak menimbulkan perpecahan, terlebih siapa pun Presiden yang terpilih nyatanya memang tak pernah berpihak pada kelas proletar.

Indonesia memang sudah cacat sejak dari sistemnya, maka yang harus dilakukan warganya adalah membuat persatuan untuk menggantikan sistem yang timpang tersebut. Persatuan yang bukan didasari oleh sentimen agama atau pun politik praktis, tetapi persatuan yang membela hak-hak kelas tertindas.

Sudahi segala kegilaan atas nama politik praktis yang berbalut agama.

Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.