OUR NETWORK
Sabtu, Mei 28, 2022

Sejarah Singkat Ilmuwan Dunia Ibnu Sina

Ahmad Adib Jiddan Al Qooni
ahmad adib jiddan al qooni lumajang mahasiswa

Syeikhur Rais, Abu Ali Al Hussein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang di kenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 Hijriyah di sebuah desa Bernama Khormeisan dekat Bukhara. Ibnu Sina ini adalah seorang dokter Persia terkemuka, yang menjadi filsuf muslim serta sang perintis Ilmu kedokteran dunia.

Beliau (Ibnu Sina) ini juga Ahli di bidang diagnosis, dan beliau mengasah keterampilannya yang luar biasa ini, di bidang-bidang yang di abaikan oleh orang lain.

Dia menggabungkan pengetahuan ilmiahnya dengan pertanyaan filosofis, yang dirinci dalam studinya, “Al Qanun fil-Tibb” (The Canon of Medicine) dan “Kitab Al Shifa ”(Kitab Penyembuhan).

Penyelidikan filosofisnya juga sangat-sangat kompleks, dia juga menggabungkan antara perspektif Aristotelian dan Platonis, dengan metode teologi Muslim.

Ibnu Sina ini juga seorang penulis yang produktif, di mana kebanyakan karya-karyanya berhubungan dengan filsafat dan dunia kedokteran. Ibnu Sina ini merupakan seorang filsuf muslim yang di mana beliau berhasil membuat suatu sistem filsafat yang sangat lengkap sekaligus terperinci, sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat Islam selama beberapa abad terakhir ini.

Oleh karena itu karya pemikirannya pun, di kagumi oleh seluruh dunia, yang paling mencolok salah satunya ialah penghormatan untuknya terlihat di aula utama Fakultas Kedokteran Universitas Paris. Salah satu karyanya yang paling di kenal di dunia adalah Karya The Canon of Medicine, The Book of Healing, yang di gunakan untuk referensi di bidang Kesehatan atau pun di bidang kodekteran.

Pemikiran dan karya Ibnu Sina ini akan selalu di kenang sepanjang sejarah. Apalagi di bidang kedokteran modern seperti sekarang ini. Nama Ibnu Sina atau Avicenna samapai-sampai diabadikan di institusi pendidikan, dan di dunia kedokteran tersebut.

Ibnu Sina ini, juga menguasai berbagai hal yang di antaranya logika, fisika, musik, sastra, psikologi, politik dan filsafat. Sejumlah karya sastranya berupa puisi al-Qasidah al-Muzdawiyyah, puisi al-Qasidah al-‘Ainiyyah, puisi Hayy ibn Yaqzhan, Risalah ath-Thair, Risalah fi Sirr al-Qadar, Risalah fi al-‘Isyq, dan Tahshil as-Sa’ ada Bahkan dalam dunia filsafat tersebut, Ibnu Sina mendapat gelar ash-Syekh ar-Rais yang artinya Guru Para Raja.

Sementara itu  Ibnu Sina yang masih berusia 13 tahun, beliau memulai mempelajari ilmu medis, dan dengan cepat beliau mendapatkan reputasi yang sangat baik dalam tiga tahun, kemudian beliau mendedikasikan semua usahanya untuk belajar ilmu kedokteran. Status sebagai seorang dokter terkenal, kemudian beliau sudah di raihnya di saat sudah berusia 18 tahun. Dalam periode tersebut beliau berhasil menyembuhkan Nuh Ibnu Mansour, Penguasa Samanids. Padahal semua tabib terkemuka saat itu sudah putus asa menangani penyakit yang di derita oleh Sultan Nuh II.

Atas usahanya yang begitu besar, Ibnu Sina ini di perbolehkan mengakses perpustakaan sultan yang luas berisi manuskrip langka. Perpustakaan itulah yang memfasilitasi beliau dalam hal kegiatan penelitiannya dalam bidang kedokteran.

Di saat menginjak usia 22 tahun ayahnya Ibnu Sina wafat. Dan semenjak itu Beliau memutuskan pindah ke Jurjan dekat Laut Kaspia dan mengajar di sana tentang logika serta astronomi. Tak lama kemudian beliau pergi ke Rey dam Hamadan (keduanya di Iran sekarang).

Beliau juga sempat menulis dan mengajar karya-karyanya jadi kegiatan utama dalam perjalanan ini. Dari Hamadan, beliau pindah ke Isfahan (sekarang di Iran tengah), dan menyelesaikan tulisan-tulisan epiknya.

Terlepas dari itu semua, kecerdasan dan karya-karyanya beliau sebagai dokter muslim pertama memberikan pengaruh mendalam terhadap sekolah-sekolah medis Eropa hingga abad ke-17.

Akhir hidup filsuf eksentrik ini berakhir di bulan Ramadan 1037 Masehi, saat dalam perjalanan menemani Ala al-Dawla menuju Hamadan. Ia meninggal karena sakit perut, mengalami luka parah, dan tidak bisa bertahan hingga menghembuskan napas terakhir.

Pada tahun 1913, dokter dan profesor kedokteran Kanada, Sir William Osler menyebut Ibnu Sina ini sebagai “penulis buku teks medis paling terkenal yang pernah ditulis sepanjang sejarah.” Osler, seperti terpacak pada laman Britanicca, menilai sosoknya sebagai seorang praktisi kedokteran yang sukses sekaligus berperan sebagai negarawan, guru, filsuf dan tokoh sastra.

Makam Ibnu Sina di kota Hamadan, sebelah tenggara Teheran, Iran, pada 1950 diperbarui dan diubah menjadi museum yang dilengkapi dengan perpustakaan dengan ribuan koleksi buku. Tokoh muslim ini disebut mampu mengembalikan kejayaan ilmuwan Islam abad pertengahan dan karyanya masih diakui hingga sekarang.

Karya

Kontribusi Ibnu Sina yang paling penting bagi ilmu kedokteran adalah tentang bukunya yang terkenal Al Qanun Fi Al-Tibb (The Canon of Medicine), yang dikenal sebagai “Kanon” di daerah Barat.

Buku ini adalah ensiklopedia kedokteran lima jilid besar. Isinya yang mencakup lebih dari satu juta kata. Di dalam buku tersebut juga terdiri dari beberapa pengetahuan medis yang tersedia dari sumber kuno dan Muslim.

Karya besarnya yang lain adalah “The Book of Healing”, ensiklopedia ilmiah dan filosofis. Buku ini di maksudkan untuk menyembuhkan jiwa. Itu dibagi menjadi empat bagian: logika, ilmu alam, matematika dan metafisika.

Ahmad Adib Jiddan Al Qooni
ahmad adib jiddan al qooni lumajang mahasiswa
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.