Rabu, April 21, 2021

Sapi yang Tidak Peduli Keluhan Tikus

Manusia dan Agama Baru Berbasis Sains

Mungkinkah agama, spiritualitas, dan sains bergandengan tangan? Jawabnya ada di buku berjudul Spirituality of Happiness, Spiritualitas Baru Abad 21 Narasi Ilmu Pengetahuan, karya Denny...

Diplomasi Jokowi dan Peluang Perdamaian Israel-Palestina 

Presiden Joko Widodo – Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah mengumumkan formasi Kabinet Indonesia Maju pada 23 Oktober 2019 lalu. Beberapa wajah baru muncul dengan...

Daripada Legalisasi Poligami, Lebih Baik Legalisasi Ganja

Saya menghormati syariat islam secara umum dan tentu penerapannya yang diberlakukan di Provinsi Aceh. Keistimewaan membikin Aceh berhak menerapkan syariat islam di wilayah yang...

Nasib Bonus Demografi, Corona Tambah Ngeri

Dampak penyebaran virus corona terhadap manusia sungguh tidak main-main. Virus yang didapati berawal dari Wuhan, China ini dilaporkan telah menelan lebih ribuan korban. Di...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Pada suatu hari, seekor tikus sedang mencari makan. Seperti biasa, dia menyelinap masuk ke dalam gudang. Saat sibuk meraba-raba gudang yang gelap, tikus menemukan sebongkah keju yang sangat besar. Tapi sayang, keju tersebut melekat pada alat perangkap tikus yang terbuat dari besi. Sebuah perangkap yang mampu menghancurkan tubuh tikus hanya dalam beberapa detik saja.

Tikus pun tak berani mendekati perangkap itu. Lalu, ia menemui ayam.

“Hei ayam, di gudang ada perangkap tikus! Berhati-hatilah saat memasuki gudang!” kata tikus.

“Perangkap tikus itu harus disingkirkan supaya tidak membahayakan makhluk lain-lain,” ujar sang tikus.

Tapi apa kata ayam? “Saya tahu kalau ini adalah masalah besar bagi kamu, tikus.” “Maaf ya tikus, itu bukan urusanku. Aku tidak terganggu dengan perangkap itu,” tambah ayam.

Tidak puas dengan jawaban ayam, tikus kemudian menemui kambing. Setelah menceritakan adanya bahaya perangkap tikus di gudang itu, kambing pun bersuara.

“Maaf, ya!,” kata kambing, “Saya tidak bisa berbuat banyak. Sebaiknya kau berdoa saja agar keju itu lepas dari perangkapnya.”

Jawaban kambing yang asal-asalan itu membuat tikus kesal. Ia kemudian menemui sapi untuk memberi tahu adanya perangkap tikus di gudang tadi dengan harapan sapi dapat menyingkirkannya.

Lagi-lagi, tikus mendapat jawaban yang sama dari sapi.

“Maaf, ya,” kata sapi sambil tertawa, “Perangkap sekecil itu tidak berarti apa-apa bagi tubuhku yang besar ini. Saya tidak merasa terganggu dengan adanya perangkap itu.”

Karena bosan tidak mendapat perhatian teman-temannya, kemudian tikus meninggalkan gudang dan mencari makan di tempat lain. Saat tengah malam, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. “Bruug…” Perangkap tikus itu sepertinya telah menemukan mangsanya.

Mendengar suara ini, istri sang petani langsung terbangun dan berlari ke gudang. Tetapi karena gelap, istri petani tersebut tidak menyadari bahwa yang tertangkap di perangkap tersebut adalah seekor ular berbisa. Ular itu lalu menggigitnya. Istri petani pun menjerit-jerit kesakitan.

Melihat keributan itu, sang petani segera berlari menuju dapur. Ia menemukan istrinya pingsan karena tergigit ular. Kemudian ia membawa istrinya untuk berobat. Esok paginya, tubuh si istri masih demam. Maka petani itu memutuskan menyembelih si ayam untuk dibuat sup kesukaan istrinya.

Selama istrinya sakit, banyak sekali tetangga yang menungguinya. Lalu petani itu menyembelih kambingnya. Daging kambing tersebut kemudian dibuat sate untuk hidangan tamu.

Setelah lebih dari seminggu sakit, sang istri akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang yang hadir di pemakamannya. Akhirnya sang petani memutuskan untuk menyembelih satu-satunya sapi miliknya. Daging sapi itu dimasak untuk tamu yang telah hadir di pemakaman istrinya.

Kisah di atas menggambarkan dampak ketidakpedulian sesama makhluk dalam menghadapi bahaya. Tadinya hanya masalah perangkap tikus. Tapi kemudian berkembang menjadi masalah bagi semuanya. Ini terjadi karena yang lain tidak peduli pada perangkap tikus tersebut. “Biarlah tikus yang mati,” sindir sapi.

Hidup adalah sebuah perputaran atau yang biasa disebut siklus quantum. Masalah dan ancaman yang diderita orang lain dapat menjadi rantai yang akhirnya menimpa diri kita.

Karena itu, untuk menghindari bahaya lebih besar — sekecil apa pun benda berbahaya yang anda temui seperti jarum atau paku di jalan —
lekas singkirkan. Bayangkan, paku di jalan, akan melukai orang berpenyakit jantung. Ia kaget. Jantungnya kaget. Dan ia tewas.

Maka, keep the arms wide open and show your love; Buka lebar tanganmu dan tunjukkan cintamu pada sesama.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Berita sebelumnyaJurnalisme Ala Bangku Kosong
Berita berikutnyaSaham Apple Dibeli
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

“Alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan”, Zeno dari Elea yang juga diamini Parmenides (Dowden,...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

ARTIKEL TERPOPULER

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Menyambut Bulan Ramadhan dengan Penerapan Nilai-Nilai Pancasila

Bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari. Pemerintah akan segera menetapkan awal puasa 1 Ramadhan 1440 H. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia...

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.