Minggu, April 18, 2021

Mengenal Tarrant, Si Penjagal Christchurch

Kasus Miftahul Jannah dan Narasi Islam Terzalimi

Masalahnya sederhana, sebenarnya. Atlet Indonesia Miftahul Jannah dilarang bertanding di Asian Para Games karena ia memakai jilbab. Disuruh melepas ia enggan. Apa boleh buat,...

Si Jenggot Kapitalis yang Berkedok Agama

Kasus Injil berbahasa Minang akhirnya berbuntut panjang. Irfianda Abidin Ketua Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) bahkan mencoret identitas keminangan dari Ade Armando....

Amien Rais dan Tragedi Gerakan Antikorupsi

Amien Rais berkunjung ke KPK. "Minggir, saya mau bertemu Ketua KPK,” katanya saat tiba di gedung KPK. Yang hendak ia temui hari itu tidak...

Apa Yang Terjadi Selama 7 Hari Internet Papua Digelapkan?

Sejak setahun ini, SAFEnet memiliki Sub Divisi Papua di bawah Divisi Akses Informasi. Tugasnya merintis Papua Damai lewat gerakan nir-kekerasan (non-violence movement) memanfaatkan teknologi...

Brenton Tarrant, 28 tahun, mengemudi mini van silver di jalanan Christchurch. Pria muda berkulit putih kelahiran Australia itu berkendara di atas batas maksimum kecepatan dalam kota.

Dari audio mobilnya, nyaring terdengar lagu metal berirama cepat dan menghentak, juga lagu Remove Kebab. Lagu ini dikenal sebagai lagu wajib mereka yang bergabung dalam kelompok sayap kanan kulit putih. Liriknya berisi upaya untuk menyingkirkan kaum imigran beretnis turk dari Eropa. Semacam lagu mars supremasi kulit putih.

Tarrant menyiarkan aksinya itu secara live via facebook, yang memungkinkan publik merekam dan menangkap peristiwa itu dengan detail, dari awal hingga selesai.

Ia kemudian mengarahkan mobilnya ke Deans Ave, lalu masuk dan berhenti di sebuah gang kecil. Di situ, Tarrant turun dari mobil, ia memakai helm dan baju perang militer, di tangannya ada senjata semi otomat dengan banyak tulisan nama-nama orang. Ia membuka bagasi belakang, mengambil sepucuk senjata semi otomat lain, lalu bergerak menuju gedung di sebelahnya, Masjid Al Noor Christchruch.

Hari itu hari Jum’at, pukul 13.00 waktu New Zeland. Waktu ketika umat Islam di situ mendirikan sholat berjamah di masjid. Tapi Brenton Tarrant datang bukan untuk beribadah, ia datang untuk memuntahkan kebencian rasial lewat ratusan peluru yang ia tembakkan.

Apa yang terjadi setelahnya? Saya tak kuat untuk menggambarkan detailnya. Dari video-video kejadian yang beredar, peristiwa itu adalah kekejian yang sama sekali tidak bisa dibayangkan nalar dan diterima oleh naluri kemanusiaan.

Saya tidak mau membahasnya. Bagi saya, tidak ada manusia waras yang bisa melakukan tidakan keji seperti itu, sekaligus mempertontonkannya secara live kepada khalayak ramai.

Tapi mari kita urai motif yang melatarinya.

Pagi hari sebelum insiden biadab itu terjadi, Brenton Tarrant mengunggah manifesto setebal 73 halaman melalui akun twitternya. Manifesto berjudul The Great Replacement itu mengungkapkan secara detail apa yang membuatnya merasa wajib melakukan tindak pembantaian keji tersebut.

Dari penjelasan dalam manifesto itu, sangat terang tergambar bahwa Tarrant adalah seorang fasis kanan radikal yang otaknya telah dipenuhi kebencian rasial pada imigran dan pendatang, serta penganut agama tertentu.

“…Untuk menunjukkan pada para penjajah bahwa tanah kita tidak akan pernah menjadi tanah mereka, tanah air kita adalah milik kita dan selama orang kulit putih masih hidup, mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kita dan mereka tidak akan pernah juga menggantikan orang-orang kita..”

Tarrant menyebut para pendatang sebagai penjajah. Ia seperti hendak menjelaskan motif tindakannya sebagai upaya penegakkan supremasi pribumi. Ada kekhawatiran problematis bahwa pribumi akan kehilangan dominasi terhadap akses sumber daya. Dan karena itu, Tarrant merasa perlu melakukan tindakan yang dia sebut “untuk membela kaumnya”.

Tarrant mengaku tindakannya itu terinspirasi oleh beberapa tokoh ekstrimis kanan, salah satunya adalah Anders Breivik. Brievik merupakan pelaku tunggal pembantaian pada 22 Juli 2011. Ia meledakkan bom mobil di luar gedung pemerintah di Oslo hingga menewaskan delapan orang. Aksinya berlanjut dengan melakukan penembakan massal yang menewaskan 69 orang, mayoritas korbannya adalah remaja di perkemahan musim panas Liga Pemuda Buruh di Pulau Utoya.

Seperti Tarrant dan Breivik, juga aksi teror sadis lain semacam ini, selalu didorong motif yang sama: phobia dan kebencian akut terhadap imigran, pendatang, atau etnis dan agama lain yang minoritas.

Fenomena seperti ini bisa tumbuh di mana saja. Bahkan memuncak menjadi tindak biadab seperti yang dilakukan Tarrant tersebut.

Karenanya, kita memang perlu berbelasungkawa serta mengutuk keras insiden keji di Masjid Al Nur itu, tapi doa dan serapah tidak cukup untuk melawan teror, jika ternyata dalam diri kita pun masih bersemayam kebencian terhadap identitas lain yang berbeda.

Hidup yang damai hanya bisa terwujud, jika dan hanya jika, kita sanggup berdampingan, berbagi tempat, dan menerima perbedaan sebagai fitrah kemanusiaan yang melekat dan tak mungkin ditolak.

Agar besok, tak ada lagi Tarrant Tarrant yang lain.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.