Sabtu, Mei 15, 2021

Menemukan Indonesia dalam Klepon

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Surat untuk Mereka yang Melaporkan Saya ke Polisi

Akhirnya saya dilaporkan lagi... Dulu pernah digugat 700 pengacara karena katanya saya menghina Rizieq Shihab. Saya minta beliau yang terhormat itu tolong datang sendiri ke...

Prabowo Subianto Membawa Kembali Orde Baru, Mungkinkah?

Calon presiden penantang petahana Prabowo Subianto kerap dicitrakan mewakili sisa-sisa Orde Baru. Ia dituding akan mengembalikan gaya pemerintahan Orde Baru. Pertanyaannya, benarkah itu yang...

Corona, Camus, dan Situasi Kita

Di sela waktu berkumpul dengan keluarga akhir pekan kemarin, situasi pandemi corona yang semakin menggurita ini memancing saya melirik salah satu buku lama saya...
Alja Yusnadihttp://aljayusnadi.com
Kolumnis, tinggal di Aceh.

Beberapa hari terakhir, jagat maya disibukkan oleh postingan seorang netizen. Perkaranya sangat remeh-temeh. Klepon dituduh tidak islami gara-gara tidak menutup aurat, dan mengajak untuk beralih ke Kurma.

Bisa saja pencetus ide gila itu hanya bercanda. Bisa juga serius. Apa yang bisa kita tangkap dari fenomena peng-agamaan kudapan tersebut?

Respon warganet beragam. Kebanyakan, warga yang tidak dipisahkan oleh suku, bangsa, agama dan teritorial itu ikut memberi komentar miring, sejak kapan kue punya agama? Benar, saya sepemandangan. Kue tidak ada agama dan tidak pernah beragama dan tidak penting juga.

Klepon salah satu kue favorit saya, terutama di saat bulan puasa. Kue ini unik, terbuat dari tepung, di dalamnya ditaruh gula merah, luarnya dibalut kelapa kukur dan daun pandan yang dipotong kecil-kecil sebagai pengharum.

Saya bukan ahli kuliner, jadi tulisan ini tidak membahas bagaimana cara membuat Klepon yang enak atau apa pengaruhnya terhadap kesehatan. Saya juga tidak tertarik membahas siapa “penemu” istilah itu.

Jauh dari situ, beredarnya meme dan berita yang mengulas tentang religiusitas Klepon, memaksa saya untuk merenung, lantas bertanya kepada diri sendiri, apakah serendah ini sudah selera kita untuk becanda? Atau jangan-jangan ini justru menjadi potensi disintegrasi bangsa?

Setidaknya, saya melihat tiga hal dari fenomena tersebut. Pertama, selera humor. Penulisnya memilih humor untuk menyampaikan pendapat. Tidak sedikit penulis yang memakai humor sebagai instrument.

Salah satunya Mahbub Djunaidi. Melalui humor, Mahbub dengan bebas menulis gagasannya di masa orde baru. Dengan humor pula, Gus Dur menjadi salah satu penceramah dan penulis yang paling disukai dan disegani. Padahal kedua penulis hebat ini hidup di zaman otoriter.

Atau, bagaimana Komika menelanjangi sesuatu dengan gaya humor yang membuat penontonnya terpingkal.

Sekilas, humor-humor itu bagi sebagian orang adalah nista. Misalnya, ketika penulis atau komika membahas kebiasaan suku tertentu, justru sebagain dari yang merasa tersinggung justru melapor ke pihak berwajib dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.

Bisa saja, si pencetus ide tujuannya menghibur kita, pembaca. Apalagi di tengah suntuknya karena Korona.

Bisa saja penulisnya dengan satir ingin menyentil kebiasaan sebagian orang yang terlalu sibuk mengurusi cara orang berpakaian. Kalau benar demikian, sungguh selera humor saya sudah menurun, karena salah menangkap pesan yang ingin disampaikan.

Kedua, potensi disintegrasi bangsa. Sebagaimana Anda ketahui, Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku, Bahasa, agama.

Akhir-akhir ini, apalagi menjelang hajatan pemilu, masyarakat kita terbelah. Kekuatan politik memisahkan dengan isu agama, menyampingkan gagasan.

Pemisahan berdasarkan perbedaan memang sangat riskan untuk keberlangsungan bangsa yang multi ini.

Bisa jadi juga, kasus Klepon itu menjadi cerminan dari segresi sosial pada lapisan masyarakat tertentu.

Mendefenisikan sesuatu berdasarkan keyakinan, sama dengan merefleksikan sikap individu terhadap individu yang lain.

Klepon adalah miniatur. Jauh lebih besar dan lebih banyak dari itu kasus-kasus serupa dapat kita jumpai di tengah-tengah kita.

Ketiga, residu pilpres. Sebagaimana kita tahu, sejak pemilihan presiden 2014 dan 2019, masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua: pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo.

Pertarungan yang penuh emosi bagi masyarakat paling bawah itu benar-benar berada di ujung jurang yang curam. Kalau tidak ditangani dengan tepat bisa membuat Indonesia berkeping.

Rivalitas di akar rumput menyisakan cerita-cerita sedih dan tak masuk akal. Satu ketika pengurus Mesjid A menolak menshalatkan jenazan si X hanya gara-gara beda dukungan politik.

Sampai-sampai, persaingan itu menyeret nama binatang: Kampret dan Cebong. Kampret indentik dengan pendukung Prabowo, Cebong untuk pendukung Jokowi.

Syukur yang mendalam, pertarungan itu berakhir manis untuk Indonesia. Setelah menang, Jokowi meminta Prabowo untuk menjadi Menteri Pertahanan, posisi yang sangat strategis. Dan syukurnya lagi, Prabowo mengaminkannya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana akibatnya jika kedua tokoh bangsa itu tidak bersatu kembali. Bukan apa-apa, di bagian bawah, kompor penyulut sudah menunggu, siap membakar.

Bagi sebagian kompor itu, pilpres bukan hanya mencari pemimpin yang paling baik dari yang baik, atau mencegah yang paling buruk untuk berkuasa. Tapi lebih dari itu, pilpres digunakan untuk menghimpun pahala.

Jadilan pertarungan yang berdarah-darah itu sebagai akibatnya. Para kompor itu masih ada dan terus ada di Indonesia. Setelah pilpres usai, mereka mencari instrument berikutnya yang dapat diboncengi.

Apakah Klepon Syariat itu merupakan residu dari pilpres? Bisa jadi.

Sebenarnya, Klepon ini menggambarkan sebagian besar masyarakat kita. Klepon bisa kita temukan hampir di semua pulau di nusantara dengan berbagai nama. Di Aceh dinamakan dengan Boh Rom-rom, Boh cikik teungku, di Sumatera Barat Onde-onde, Melaka dan nama lain.

Klepon menjadi kudapan semua kalangan. Kita bisa menemukannya di pasar kaki lima hingga di restoran mewah.

Penyuka Klepon dari berbagai status sosial, mulai masyarakat pekerja, pejabat, hingga konglomerat.

Klepon adalah pemersatu lidah-lidah nusantara. Sebagai orang Aceh, lidah saya menyukai pedas, kawan saya yang besar di Jawa menyukai manis.

Tapi kita semua dapat menerima Klepon dengan senang dan gembira. Di tengah banyaknya perbedaan, Klepon adalah pemersatu kita, pemersatu bangsa, selain tante Erni yang cantik jelita itu.

Alja Yusnadihttp://aljayusnadi.com
Kolumnis, tinggal di Aceh.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.