Sabtu, Juni 19, 2021

Membela Jokowi dengan Argumen dan Kewarasan

RKUHP: Dari Rasa Kolonial Kembali ke Zaman Batu

Presiden Jokowi akhirnya mendengarkan suara publik soal penolakan terhadap Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Presiden meminta penundaan pengesahan oleh DPR dan memerintahkan Menkumham...

#10YearsChallenge dan Kondisi Penegakan HAM Kita

Warganet sedang ramai merayakan #10YearsChallenge. Sebuah tantangan di mana kita menyajikan foto diri 10 tahun lalu dan hari ini. Tujuannya untuk melihat sejauh mana...

Hanung Bramantyo dan Politik Keaktoran dalam Film

Kemunculan cuplikan film Bumi Manusia baru-baru ini telah mendapatkan sambutan positif dan negatif dari para netizen. Bagaimana tidak, setelah menanti bertahun-tahun lamanya, akhirnya mahakarya...

Inong dalam Hedonisme “Spiritual” Wanita Metropolis

Di Indramayu ada dongeng rakyat yang sangat menarik. Konon, seorang gadis miskin, Saida Saini sejak kecil bercita-cita ingin jadi orang kaya dan terkenal. Untuk...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Iya benar, Jokowi Problematik, tapi membiarkan dia sendiri dikelilingi orang pragmatis dan yang punya masalah HAM hanya akan membuat dia makin jauh dari sosok ideal yang kita bayangkan. Apa yang jadi masalah hari ini bukan golput, tapi pendukung Jokowi sendiri.

Kita mungkin sering mendengar, belajar dari pilkada Jakarta, karena golput Anies menang, Jakarta jadi amburadul. Belajar dari Amerika, karena golput diem dan tak memilih Trump menang. Yang lupa disebutkan dalam dua narasi tadi adalah, bagaimana pendukung Hillary dan pendukung Ahok bersikap pada mereka yang memutuskan golput atau undecided voter.

Dalam kasus Amerika Serikat, golput terjadi bukan karena mereka tak suka Hillary tapi lebih kompleks daripada itu. Beberapa riset menyebut bahwa golput terjadi karena pendukung Hillary sibuk ngatain yang tak suka pada Hillary (pendukung Bernie dan Trump) daripada menjelaskan bahwa calon mereka lebih baik.

Atau lebih spesifik, golput di Amerika terjadi karena pendukung Hillary kebangetan ngatain yang belum memutuskan memilih. Lalu bagaimana di Indonesia? Ya kurang lebih sama, alih-alih ngajak dan meyakinkan golput, pendukung Jokowi sibuk konspirasi atau ngatain mereka yang belum memilih. Padahal ya gimana mau jualan kalau sibuk ngatain yang mau beli?

Kita perlu mengakui bahwa masih ada masalah. Benar, bahwa di bawah Jokowi masih ada pembubaran diskusi atau pemutaran terkait 65, masih banyak pejuang agraria atau petani yang ditahan karena konflik lahan, benar bahwa ia dekat dengan sosok seperti Wiranto atau Hendropriyono, juga memiliki bawahan seperti Luhut dan Jaksa Agung Prasetyo yang mengatakan kata buldozer bagi yang mengkritik sawit atau berniat melakukan razia besar-besaran terhadap buku kiri.

Mengakui ada masalah ngga bikin sosok yang kita bela atau anggap baik jadi buruk. Ini merupakan sikap yang biasa saja. Kita jadi tahu masalahnya di mana dan jadi tahu apa yang harus dilakukan.

Oke, Jokowi tidak baik dalam hal penanganan kasus agraria, apa yang bisa kita lakukan? Jokowi masih berteman dengan orang yang punya masalah HAM, apa yang bisa kita lakukan? Polisi dan militer di bawah Jokowi masih gemar membubarkan diskusi, apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa terus menyusun hal-hal yang tidak kita sukai dari pemerintahan Jokowi, sembari memberi rekomendasi penyelesaiannya.

Tentu ada banyak masalah, mulai dari Novel Baswedan, pemberian remisi pada pembunuh wartawan, kekerasan di Papua, melanggengkan kebencian terhadap korban politik 65, sampai masalah kebebasan berpendapat melalui razia buku. Hal-hal semacam ini bukan masalah bagi mereka yang despot dan bigot, tapi jadai sangat substansial bagi pemilih rasional.

Masalahnya seberapa banyak pemilih rasional ketimbang yang tidak rasional? Ya kalau saya jadi penasehat Jokowi kalau mau pragmatis dan itung-itungan matematika, mending cari dukungan orang goblok tapi banyak daripada mencari dukungan orang pinter tapi dikit. Tapi saya kira ini bukan soal jumlah, tapi soal komitmen pada publik.

Ini mengapa addressing the problem adalah hal penting. Iya kita bermasalah, tapi kami berkomitmen untuk memperbaiki itu kok. Dengan menjawab pertanyaan ini, saya kira kita bisa memberikan gambaran sikap: bahwa membela Jokowi tidak berarti harus mengorbankan logika atau integritas. Kita bisa mengajak mereka yang ragu-ragu dan belum memilih untuk berpihak pada Jokowi, serta jika cukup beruntung, akan mengajak yang golput untuk mendukung Jokowi.

Tentu ada resiko, kita tidak bisa memuaskan semua orang, yang bisa kita jelaskan adalah “Mengapa memilih Jokowi padahal ia problematik?” Ini pertanyaan baik, artinya sebagai pendukung kita bisa memberikan tawaran solusi (saya benci istilah ini) atau meyakinkan yang golput bahwa ada jalan selain non voting untuk membuat pemerintah bekerja dengan baik.

Setelah ini dijawab, kita bisa memberikan hal lain untuk closing the deal, atau memantapkan kebimbangan pemilih tadi. Misalnya, “Kita sebagai relawan mungkin tak punya kemampuan menekan sekuat elit politik, tapi kalau mau, kita bisa menekan jokowi untuk bertanggung jawab pada publik,”

Kita bisa mengharapkan jawaban seperti.

“Ah Jokowi diam saja pada tuntutan publik untuk penyelesaian kasus Novel atau Kendeng atau Reklamasi Teluk Benoa. Kenapa kami harus percaya lima tahun lagi dia akan punya komitmen pada publik untuk menyelesaikan masalah tadi?”

Saya saat ini ya belum bisa jawab. Tapi jika kamu pendukung Jokowi, berharap ia dapat dukungan dari undecided voter atau golput, yang semacam ini perlu dijawab. Jawaban tadi, baik atau buruk tentu punya dampak pada pemilih. Bagi saya, hal yang harus dilakukan pendukung Jowo Widodo adalah memberikan rasionalisasi terhadap Golput. Karena mereka yang menolak Jokowi atas alasan HAM dan keadilan sosial jelas sudah pasti merasa haram memilih Prabowo.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kapitalisme dalam Perspektif Buruk, Generasi Z Harus Paham!

Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang menjadikan modal sebagai penggerak utama perekonomian yang akan menciptakan segala macam kebijakan dalam sebuah negara. Menurut Adam Smith,...

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.