OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Jangan Jadi Politisi, Jadilah Manusia Politik.

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Rahmad Arif Rivaldi
Adil sejak dalam pikiran, sejalan antara ucapan dan perbuatan.

Bagi sebagian orang politik adalah jalan terjal tak berujung yang abu-abu, diawali dengan perjuangan dari akar rumput, bersimbah keringat bahkan mungkin darah bersama rakyat, kadang berujung bui, bahkan dibeberapa kejadian hilang sama sekali.

Bagi sebagian orang yang lain, politik bagi mereka adalah jalan tol, atau mungkin bisa diibaratkan sebagai ajang untuk berolahraga atau berekreasi sambil melambaikan tangan untuk menyapa lalu senyum dan pada akhirnya berkata “pilihlah saya, maka saya akan.. blablabla’. Yang kebanyakan dari kita sudah tau bahwa semua janjinya itu hanyalah bualan belaka.

Secara teoritis, politisi dapat didefinisikan sebagai orang yang ahli dalam bidang kenegaraan atau orang yang berkecimpung dibidang politik yang tujuannya adalah merumuskan kebijakan lalu menjalankannya. Dalam praktiknya tentu tidak sesederhana itu bukan?

Salah satu politisi favoritku, aktivis pro-reformasi pada masanya, Budiman Sudjatmiko, pada beberapa kesempatan menyampaikan kriterianya tentang manusia politik yang ideal (bukan politisi, tapi manusia politik. Istilah yang diretorikakan). Beliau mengatakan bahwa “jangan jadi  politisi, jadilah manusia politik”, karena politisi hanya identik dengan orang yang hanya memiliki keinginan untuk berkuasa. Tapi untuk menjadi manusia politik, ada empat kriteria yang harus dipenuhi. Berikut empat kriteria itu yang penjabarannya kukembangkan sendiri.

Pertama, mencintai ide. Ide dan juga gagasan adalah asa beserta cita yang ingin diwujudkan, dapat diperoleh dari hasil membaca, mendengar, berdiskusi, ataupun juga ide yang murni muncul dari pemikirannya sendiri.

Kedua, dekat dengan rakyat. Berpolitik berarti berjuang untuk rakyat, mendengar keluh-kesahnya beserta persoalan yang dihadapinya. Maka kedekatan dengan rakyat adalah modal utama agar benar-benar tau apa yang dirasakan oleh rakyat dan apa yang dibutuhkan oleh rakyat.

Ketiga, berorganisasi. Berorganisasi berarti bergerak secara komunal, menjalankan kegiatan bahkan peran yang melibatkan banyak orang kemudian akan menghasilkan output kemampuan mengkordinir masa.

Keempat, tujuan akhir setelah memiliki tiga kriteria sebelumnya yaitu, punya kehendak untuk berkuasa.

Mengapa empat kriteria tadi penting untuk menjadi manusia politik? Karena ketika terjun ke politik, maka orang tersebut akan memperjuangkan ide dan gagasan yang dimilikinya agar dapat terwujud, demi rakyat yang dicintainya, diperjuangkan dan diusahakan atas kemampuan dan kecakapannya berorganisasi dan mengkordinir banyak orang. Ketiga hal tadi baru akan ideal ketika ia punya kehendak untuk berkuasa, legislatif ataupun eksekutif.

Empat poin yang harus komplit, tak boleh kurang agar tidak menjadi manusia politik yang prematur. Tapi bagi politisi, mereka cenderung hanya punya syarat yang keempat saja yaitu kehendak untuk berkuasa, tanpa punya tiga syarat sebelumnya.

Setelah tiga kriteria tadi dipenuhi, lalu dilengkapi dengan kriteria keempat yaitu kehendak untuk berkuasa. Menurutku ada satu kriteria lain agar dapat menyempurnakan kriteria yang keempat. Apa itu? Dukungan materil. Keinginan berkuasa tanpa modal hanya akan menjadi angan, ide dan gagasan yang sudah dimiliki hanya akan mengawang-awang tanpa bisa teraktualisasikan. Mustahil berpolitik hanya bermodalkan dukungan moril, tapi juga harus memiliki dukungan materil yang memadai.

Tentu ini bukan kajian akademis, tapi menurutku pribadi relevan dengan apa yang ada dilapangan sekarang. Hari ini politik hanya dijadikan sebagai medium untuk memperjuangkan kepentingan segelintir elit saja. Padahal sejatinya, politik adalah jalan untuk memanusiakan semua manusia.

Tulisan amatir ini kututup dengan sebuah kutipan seorang Bapak Republik “Barangsiapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaannya sendiri. Siapa yang ingin merdeka, harus bersedia dipenjara (Tan Malaka, Dari Penjara Ke Penjara)”.

Rahmad Arif Rivaldi
Adil sejak dalam pikiran, sejalan antara ucapan dan perbuatan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.