Rabu, Juni 16, 2021

Hari Prabangsa Nasional, Bukan Hari Pers Nasional

Tanggapan untuk IAD Mengenai Pemotongan Salib di Yogyakarta

Tulisan Iqbal Aji Daryono (IAD) kemarin memberikan pemakluman terhadap peristiwa pemotongan salib di pemakaman di Kotagede, Yogyakarta, dan mencemooh mereka yang menyematkan kata intoleransi...

Rahman Tolleng yang Saya Kenal

Saya mengenalnya sejak tahun 1990. Saya sendiri baru sadar bahwa itu waktu yang lama sekali. Saat itu saya sedang mengerjakan skripsi S1 tentang jendral-jendral...

100 Dokter: Berlanjut atau Berhenti?

Sudah 100 Dokter gugur dalam menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia. Entah berapa lagi untuk membuat kita sadar dan sedikit berempati. Dengan rasio dokter dan...

Kalau Mardani Ali Sera Melambai, Memangnya Kenapa?

Kemarin, saya melihat beberapa akun di media sosial yang menyebarkan video Mardani Ali Sera yang sedang bicara. Deskripsi video itu menyiratkan sebuah gejala yang...
Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.
Tak hanya Ba’asyir dan Robert Tantular, rupanya 2019 adalah tahun penuh berkah untuk para kriminal, tapi penegakan hukum untuk kasus kekerasan pada wartawan banyak belum tuntas.
 
Satu-satunya yang terungkap hingga ke dalangnya seperti pembunuh Prabangsa, justru diberi remisi. Sementara hampir 1.000 petani dan warga dikriminalisasi, kasus pembunuhan wartawan Udin atau Munir, bahkan Novel Baswedan, tak ada titik terang.
 
Jurnalis tak perlu diistimewakan. Namun seperti Munir, Marsinah, Wiji Thukul, atau Novel Baswedan, mereka bekerja mewakili kegelisahan kita. Ada yang sedang meliput kasus korupsi, penyelundupan BBM, atau yang meliput perang dari sisi kemanusiaan dan menolak jurnalisme “NKRI harga mati”.
 
Publik tidak diam. Sebelumnya aksi kawan-kawan jurnalis di Malang, Yogyakarta, dan berbagai kota lain yang mengecam pemberian remisi oleh Presiden kepada dalang pembunuh jurnalis Radar Bali, Narendra Prabangsa.
 
Bersamaan dengan ramainya kabar pengurangan hukuman untuk terpidana kasus Bank Century, Robert Tantular dan gagasan pembebasan Abu Bakar Ba’asyir dengan alasan “kemanusiaan”, Presiden Jokowi meneken Keppres 29/2018 yang mengurangi hukuman Nyoman Susrama dari seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Terpidana adalah bekas caleg PDIP.
 
Presiden tak tahu siapa yang ia beri remisi. Setelah diprotes, ia minta dikaji ulang. Menterinya menyatakan tak perlu, karena sudah “sesuai prosedur”. Dirjennya membantah menteri dan menyatakan remisi adalah kelalaian.
 
Zaman SBY disebut negara “auto pilot”. Kini fasenya menjadi “no pilot”. Sementara oposisinya pura-pura bisa jadi pilot. Lalu apakah pembunuhan manusia, yang kebetulan seorang wartawan, adalah hal sepele? Mereka ini menganggap kewartawanan bukan semata soal pekerjaan atau sumber nafkah, namun jauh melampaui itu dan memilih jalan pedang.
 
Saya percaya kerja jurnalisme adalah kerja verifikasi. Jika si A mengatakan di luar hujan dan si B membantah, tugas jurnalis itu keluar ruangan dan membuktikan sendiri. Yang hanya mengutip atau mengadu pernyataan si A dan si B disebut “talkshow”. Ini yang paling mudah dan murah. Sementara yang membuktikan di luar hujan tapi hasil rekayasa cuaca, itulah jurnalisme investigasi.
 
Sementara kelompok wartawan lain memilih jalan bertabur bunga, menempel pada kekuasaan sebagai partisan, melayani kepentingan pemilik medianya, menandatangani MoU dengan industri sawit atau investor reklamasi dan properti.
 
Kombinasi uang rakyat dan korporasi itulah yang digunakan untuk mengongkosi sebuah pesta tahunan yang dengan gagah mereka sebut sebagai HARI PERS NASIONAL. Lalu sebenarnya apa sih tugas seorang wartawan?
*dihimpun dari berbagai status facebook Dandhy Dwi Laksono.
 
 
Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER