Sabtu, April 24, 2021

Gus Mus, Virus Corona, dan Talbiyah Cinta

Kalau FPI Dibubarkan, Mau ke Mana Mereka?

Wacana publik untuk membubarkan Front Pembela Islam (FPI) terus bergema. Meski kader-kader FPI terus-menerus mengunggah foto lama berupa FPI turun ke Aceh untuk membantu korban tsunami,...

Megawati dan Keteledorannya yang Hakiki

Setelah MUI menyinyalir bahwa Golput haram, kini muncul pendapat dari Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri. Megawati menyebut Golput adalah seorang pengecut yang tidak berani...

Tebang Pilih Toleransi Terhadap Penghina Agama

Setiap saat selalu agamawan penyebar kebencian terhadap agama minoritas dan aliran kecil di hadapan publik mayoritas yang terus menerus diasupi dengan teks-teks perintah agresi...

Mosi Tidak Percaya R-KUHP Untuk Jokowi

Mohon perhatian sedikit. R-KUHP itu diajukan oleh pemerintah, artinya Pak Jokowi dan kabinetnya tahu isi rancangan itu, karena mereka yang menyusun. Tunda anggapan bahwa...
Muhammad Nur Faizi
Penulis merupakan reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Metamorfosa UIN Sunan Kalijaga dan aktif menulis artikel di berbagai media.

Ada sedikit perbedaan dengan pulangnya anak perantauan. Terlihat kecemasan dan ketakutan dibalik ungkapan kerinduan yang hendak disampaikan pada kampung halaman. Mereka takut menebar petaka panjang, dan mereka cemas akan adanya virus yang ikut terbawa pulang.

Maka mereka menyendiri dan menyepi di balik jeruji kamar. Seraya menatap langit dengan tangan menengadah meminta Tuhan agar semua orang dilimpahkan kesehatan.

Kurang lebih tiga bulan sejak penyerangan virus Corona, warga terlihat panik dan menjaga jarak antar sesama. Silaturahmi diganti sapaan melalui jejaring sosial, begitu pula seluruh kegiatan dilakukan melalui dunia maya. Masayarakat mulai menjaga kebersihan, kesehatan menjadi barang dambaan, dan dari situ muncul rasa persatuan untuk saling menguatkan.

Setiap negara mulai mengambil kebijakan untuk menangani virus mematikan. China adalah negara pertama yang menerapkan sistem lockdown, kemudian diikuti oleh sejumlah negara karena dianggap paling relevan. Namun bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah lebih memilih tes kesehatan masal yang pertama kali diterapkan di korea selatan. Kebijakan ini ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya kelangkaan bahan pangan hingga perekonomian yang diprediksi mengalami kelumpuhan.

Selain itu pemerintah mengusung konsep tambahan yang disebut social distance. Konsep ini memperkirakan jarak penularan dari satu orang ke orang lainnya. Dengan jarak tersebut, masyarakat bisa tau berapa jarak aman untuk berdekatan dengan seseorang, yang menyebabkan sistem penularan tidak bisa berjalan.

Dalam perspektif agama, Allah tidak mungkin menciptakan suatu makhluk tanpa adanya kemanfaatan. Tidak ada satu pun makhluk yang diciptakan Allah dalam keadaan sia-sia (Surat Shad ayat 27).

Namun seringkali manusia tidak menemukan makna diantara kejadian yang menimpa. Mereka terus menerus larut dalam permasalahan hingga melupakan Pencipta. Padahal, dibalik permasalahan yang ada, terdapat pesan cinta dari Tuhan untuk kita.

Tuhan, engkau sepikan tempat-tempat kesibukan kami. Engkau sunyikan tempat kami membanggakan kelompok kami. Bahkan engkau senyapkan rumah-rumahMu yang selama ini kami ramaikan hanya untuk memuja diri-diri kami. MengingatMu pun demi kepentingan kami sendiri. Penggalan puisi “Talbiyah Dalam Kesendirian” karangan Gus Mus bisa membantu kita menemukan pesan cinta dalam permasalahan virus corona.

Lihatlah, kita berlomba-lomba terlihat hebat dihadapan sesama. Menceritakan laku soleh agar mendapat pujian dari semua manusia. Dalam beribadah, tak jarang muncul rasa sombong, menganggap yang maksiat lebih rendah daripada kita. Menganggap yang bekerja siang malam melupakan kehadiran Tuhannya. Hati kita dilingkupi rasa bangga, dan terus menerus menganggap rendah terhadap makhluk lainnya.

Maka inilah wujud cinta Tuhan, menyepikan segala tempat yang bisa digunakan sebagai ajang kesombongan. Menyadarkan manusia dalam kesendirian, agar mereka bisa berkaca dan bermuhasabah untuk kembali ke jalan yang benar. Dalam keadaan sepi, mereka akan sibuk beribadah tanpa adanya unsur kesombongan. Menikmati segala laku ibadah tanpa mengharap pujian dari orang.

Khalwat adalah praktek spiritual secara sendirian yang digunakan untuk memperoleh petunjuk dari Tuhan. Nabi Muhammad saw sendiri pernah melakukan khalwat di Gua Hira. Sampai umur 40 tahun akhirnya beliau memperoleh petunjuk berupa turunnya wahyu pertama surat Al Alaq ayat 1-5. Sejak saat itu, beliau mengalami kejadian luar biasa yang semakin memunculkan sifat kenabiannya.

Teman saya pernah berkata “dirimu adalah di saat kamu sendiri.” Dalam sendiri, tidak bisa kita membohongi hati. Dalam sendiri, kita tidak bisa berpura-pura menjadi pribadi yang serba mengerti. Dan dalam sendiri pula, kita hanya mempunyai satu tempat berserah diri. Maka nikmatilah kesendirian itu, perbaikilah dirimu, agar terasa nyaman saat menerima ketetapan Tuhanmu.

Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbuhu (Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya). Nafs adalah pokok diri manusia yang sudah diciptakan sejak dahulu. Tidak hanya di alam dunia, ia akan terus hidup di alam barzah dan alam-alam lainnya.

Semua harta, hafalan, serta gagasan di masa hidupnya akan lenyap menyisakan dirinya sendiri. Oleh karenanya, menggambarkan kesejatian. Agama tidak bisa direkayasa oleh akal, perlu adanya ketulusan pemahaman dari hati dan pikiran untuk menuju keagungan Tuhan.

Secara berani, nafs maju mempertanggung jawabkan seluruh umur yang telah dihabiskan di bumi. Inilah pentingnya nafs yang harus kita rawat sebaik-baiknya. Karena disinilah Allah swt menanamkan berbagai macam kesejatian, termasuk laku spiritual. Mungkin jika kita masih suka pamer dalam beribadah, berarti nafs kita masih bermasalah.

Oleh karenanya, nafs harus dibersihkan, agar manusia bisa menyadari tujuan dari penciptaan. Mendalami tujuan penciptaan, yaitu ya’bud bukan lagi sebatas laku ibadah ritual. Melainkan menjadi seorang hamba yang dimabuk cinta oleh ketaatan dan keikhlasannya kepada Sang Pencipta. Khalwat membuat kita merenung, berpikir sejenak atas segala laku ibadah dan dosa yang telah kita perbuat.

Dengan cara seperti ini, pola beragama kita akan berubah, tanpa mementingkan ruang dan simbol. Tidak mengagungkan kelompok, dan kembali memperkuat persatuan karena semua terlihat sama di hadapan Tuhan.

Virus ini membuat kita percaya bahwa yang tak kasat mata bisa mengalahkan makhluk yang sedemikian besarnya. Hanya Tuhanlah yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Maka istighfar dan doa meminta perlindungan yang bisa kita lakukan, agar ketetapan Tuhan berubah menjadi apa yang kita harapkan.

Muhammad Nur Faizi
Penulis merupakan reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Metamorfosa UIN Sunan Kalijaga dan aktif menulis artikel di berbagai media.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.