Selasa, Mei 18, 2021

Bersama Harmoni tanpa FPI

Merayakan Hijrah Buya Syafii

Setelah belajar Muhammad Iqbal dengan Fazlur Rahman melalui teks Persia dibantu dengan terjemahan Inggris, Ahmad Syafii Maarif (ASM) 'gila' dengan Iqbal dan menjadikan filsuf-penyair...

Mengapa Sebagian PNS Membenci Jokowi?

Selama mudik lebaran kemarin saya bertemu dengan sahabat SMA yang sudah lima tahun tak berjumpa. Kami mengobrol sejak isya sampai subuh. Hal yang kami...

Rindu GBHN, Kebiri Nasional

Reformasi ternyata menyisakan banyak masalah. Dalam percaturan agama, reformasi memang identik dengan tuntutan perubahan yang digulirkan oleh kalangan Protestan. Tentu senantiasa ada paradoks dalam...

Jakob Oetama, Sang Wartapreneur yang Rendah Hati

Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaik bangsa. Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia, berpulang pada hari Rabu, 9 September 2020 di Jakarta dalam usia 88...
anwar kur
Alumnus STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI) bukan kali ini saja ramai. Ia berjalan beriringan bersama kekerasan demi kekerasan  terhadap siapa saja yang dianggap musuh oleh FPI.

Meski begitu, di level ini saya masih meyakini kalau Imam Besar Habib Rizieq Syihab (HRS) tidak selamanya sepakat dengan laku-laku kekerasan tersebut. Terbukti, ia cukup terbuka kepada publik soal penentangannya atas laku kriminal yang acapkali diperagakan oleh oknum-oknum anggotanya.

Apalagi penuturan Haikal Hassan dalam Indonesia Lawyers Club (ILC) bertajuk “kelompok 212 mau ke mana” tampaknya semakin meneguhkan pandangan tersebut. Dikatakan olehnya, sewaktu demonstrasi 212 pecah, HRS sempat mencegah simpatisannya berlaku anarki, kendati pihak aparat yang bertugas menembaki mereka dengan gas air mata.

Akan tetapi, Mark Woodward (2016) punya pendapat lain. Indonesianis ini menyebut bilamana peristiwa tersebut seolah memberikan peluang bagi HRS secara khusus, dan FPI pada umumnya, untuk menghapus memori kolektif mengenai kekerasan yang telah dilakukan mereka melalui arus politik.

Lebih jauh, untuk menamakan demonstrasi “superdamai” pada gelaran yang berkulminasi pada arus 212 itu sama saja telah memutarbalikkan setrategi historisnya. Bahkan, untuk mendaku “superdamai” pada aksi tersebut, FPI pada saat bersamaan telah melakukan sesuatu yang non-sequitur, alias tidak sesuai.

Dengan kata lain, FPI terlampau banyak memiliki sejarah kekerasan dan intimidasi sejak masa berdirinya di tahun 1998. Sentilan Denny Siregar berjudul Kalau FPI Dibubarkan…  setidaknya cukup gamblang menunjukkan hal itu.

Intinya, sekelompok Muslim paramiliter dengan tagline “amar ma’ruf nahi munkar” sebagai garis besar haluannya ini menargetkan “dosa dan kebiasaan buruk” pada kelompok yang dianggap berbeda, apalagi menyimpang secara syariat untuk kemudian diserang dan/atau diintimidasi.

Di lain pihak, FPI kerap mencitrakan dirinya dalam sebuah ibarat sebagai “anaknya” Nahdlatul Ulama (NU). Karenanya, kalau sesekali FPI masih terlihat “bandel”, itu mohon maklum.

Pertanyaannya, jika FPI mengklaim dirinya sebagai “anak” dari NU, apakah NU mengakui FPI sebagai anaknya? Atau paling tidak, melalui hubungan yang seperti apa sehingga NU bisa punya “anak” seperti FPI? Wallahu a’lam.

Akan tetapi, secara sederhana, ditinjau secara ritual peribadatan FPI memang cenderung akrab dengan tradisi amaliyah NU. Soal takdzim kepada cucunda Kanjeng Nabi Muhammad yang masyhur kita sebut Habaib, FPI juga masih satu pandangan dengan NU. Demikian halnya dengan teologi kalam, NU dan FPI sama-sama pengikut Abu Hasan al-Asy’ari.

Namun, buru-buru perlu disadari pula, bahwa keduanya memiliki perbedaan yang cukup fundamental, yakni soal prinsip bernegara. NU sejauh ini masih memegang teguh prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk final, sejak ditetapkan oleh para pendiri bangsa sampai setidaknya dalam bentuk seperti sekarang.

Sementara itu, HRS berikut pendukungnya menginginkan NKRI bersyariah, dengan agenda “Piagam Jakarta” reborn. Di titik kesadaran inilah, seperti dicatat Kholid Syeirazi (2017), kendati di satu pihak FPI memiliki kemiripan dengan NU, senyatanya ia juga punya titik temu dengan sejumlah ormas Islam yang mendukung agenda formalisasi syariat Islam seperti HTI,  MMI, atau PKS pada pihak yang lain.

Karena itu, tidak heran jika pada gelaran aksi bela Islam—berikut jilid-jilidnya—FPI bisa begitu mesra beraliansi dengan para pengusung wacana penegakan syariat Islam di Indonesia. Maka, wajar apabila panggilan untuk bersikap resisten kepada Basuki Tjahaja Purnama mendapat sambutan yang cukup gempita dari publik.

Persoalannya, apakah dengan modal spekulasi politis yang menduga adanya agenda FPI hendak mengubah bentuk atau sekurang-kurangnya sistem bernegara kita, lantas ia perlu dibeku atau bubarkan?

Tentu tidak semudah itu. Sebab, hal ini justru akan dipandang sebagai upaya untuk semakin menciderai prinsip-prinsip demokrasi, di mana setiap lontaran ide dan gagasan itu dilindungi betul oleh undang-undang. Dilemakah? Pasti.

Lagi pula, keinginan untuk mengelola sebuah negara dengan asas, katakanlah syariat Islam, sudah ada sejak dulu. Dan, tampaknya ide untuk mendirikan negara Islam itu akan terus terpelihara.

Kang Hasanuddin Abdurrahman (2019) dalam sebuah artikelnya berjudul Menangkal Radikalisme dengan Pemberantasan Korupsi di detik.com mencatat sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi pasang-surutnya ide tersebut.

Disebut olehnya, bahwa salah satu faktor yang cukup berpengaruh adalah tingkat kepuasan setiap orang atas keadaan negara sekarang, atau terhadap kinerja pemerintah. Kalau pemerintah memuaskan dan dianggap baik, kontan keinginan untuk mengubah negara dalam format lain itu akan pupus dengan sendirinya.

Sebaliknya, kalau orang menganggap kinerja pemerintah atau pengelolaan negara ini buruk, maka gagasan itu akan semakin bergelora. Dan, salah satu parameternya adalah korupsi. Tentu, salah banyaknya tidak terhitung jumlahnya, atau seperti sering dikutip oleh Sandiaga Uno sebagai ketidakadilan hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Lalu, dari bejibun persoalan itu para pengusung wacana formalisasi syariat Islam ini melakukan propagandanya dengan menawarkan pikiran alternatif. Jika HTI secara terang-terangan mengkampanyekan sistem “khilafah” ala tafsir mereka, berbeda dengan FPI yang menawarkan “NKRI bersyariah”.

Islam Yes, Khilafah No! jilid 2

Sekilas, ide itu memang terasa mashook dalam rangka melipur penderitaan “umat”. Namun, harus segera disadari pula kalau ia juga penuh kerapuhan. Gus Nadirsyah Hosen, misalnya, sampai menerbitkan dua jilid buku untuk membincang diskursus itu.

Pendek kata, tidak ada jaminan keadilan sosial dalam formalisasi syariat Islam, menurut tafsir baik HTI, FPI, dan ormas atau parpol lainnya, selama penyelenggaranya juga korup bahkan tidak adil sejak dalam pikiran.

Korup sejak dalam pikiran ini pun bentuknya bisa bermacam-macam. Sialnya, kekorupan ini juga tak luput melawat dan bahkan cukup sering diperagakan oleh para pengusung ide formalisasi syariat Islam.

Kepongah-beringasan dan laku menang-menangan FPI yang seolah-olah paling islami sehingga merasa layak menjadi wakil Tuhan dalam membumihanguskan patologi sosial dan “iman” dari muka bumi, adalah salah satu variannya. Dan, jika penggulungan-tikarnya didasarkan pada fakta tersebut, kiranya hal itu memang perlu dipertimbangkan.

Jangan lewatkan

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir!

“Masturbasi Antiklimaks” FPI

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Membedah Islam Politik, Politik Islam, dan Khilâfah

Sekali Lagi Soal Dalil Khilâfah HTI

anwar kur
Alumnus STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.