Minggu, Mei 9, 2021

Berhenti Memaklumi Kesalahan Jokowi

Politik dan Manusia-Manusia Yang Bertingkah Seperti Setan

Setan itu puncak ketakutan. Namun, sebagaimana lazimnya, ketika puncak ketakutan sudah terlalui, hanya ada dua kemungkinan: kita menjadi setan atau menjadi malaikat. Keduanya sekilas...

Candu Pak Jokowi Pada Militerisme

Jika ada satu ketergantungan yang tidak bisa dilepaskan dalam lebih dari tujuh dekade Negara kita berdiri, maka militerisme adalah jenis narkobanya. Adiksi yang muncul...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Harga Menjadi Seorang Environmentalis

Kebakaran hutan dan lahan masih banyak terjadi di banyak titik di Indonesia, mencakup wilayah Sumatera, Riau, dan Kalimantan. Sepanjang tahun 2019 saja, seperti yang...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Presiden Jokowi memberikan grasi untuk I Nyoman Susrama. Dia adalah otak pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali, Anak Agung Gede Narendra Prabangsa.

Susrama adalah adik dari Bupati Bangli, Bali, I Nengah Arnawa, yang saat pembunuhan itu terjadi, tengah berkuasa. Susrama diberitakan marah karena Prabangsa kerap menulis ketidakberesan proyek di Dinas Pendidikan. Dia adalah kontraktor proyek itu.

Prabangsa dibunuh pada 11 Februari 2009 oleh sembilan orang. Cara pembunuhan Prabangsa juga sangat sadis. Tangannya diikat dan kepalanya dihajar dengan kayu beramai-ramai hingga remuk. Mayatnya dibuang ke laut dekat pelabuhan Padangbai.

Sebelum pembunuhan ini terungkap, sempat diedarkan isu bahwa Prabangsa dibunuh karena urusan perselingkuhan. Tuduhan yang keji, yang bertujuan untuk membunuhnya dua kali.

Prabangsa meninggal karena menjalankan profesinya, yakni memberikan informasi dan mengungkap ketidakberesan. Profesi sederhana, yakni sebagai reporter/wartawan.

Di persidangan terbukti bahwa Susrama adalah otak dibalik pembunuhan itu. Dia dijatuhi hukuman mati. Namun kemudian diubah menjadi hukuman seumur hidup.

Kini administrasi pemerintahan Jokowi mengubah hukuman itu menjadi hukuman 20 tahun. Mungkin sebentar lagi Susrama bisa bebas. Dia bisa mendapat remisi dan potongan-potongan hukuman.

Saya tidak ingin partisan. Tapi pemberian grasi ini mengusik nurani saya. Mengapa grasi ini harus diberikan? Apa yang istimewa dari orang seperti Susrama? Hanya karena dia separtai dengan Presiden?

Sungguh sulit saya menerima kalau alasannya adalah alasan kemanusiaan. Apakah manusiawi caranya membunuh Prabangsa?

Saya masih punya masalah dengan Keppres 51/2004 tentang Reklamasi Teluk Benoa. Administrasi pemerintahan Jokowi tidak juga mencabutnya. Gelombang protes sudah berlangsung lima tahun.

Salahkah kalau saya sangat kecewa? Saya pernah memilihnya menjadi presiden. Jika sekarang saya tidak memilihnya, bukan berarti saya harus memilih Prabowo. Untuk saya, dalam situasi sekarang ini, keduanya sama saja. Tidak ada beda antara Jokowi dan Prabowo.

Salah satu dari keduanya akan menang. Itu jelas.

Sebelum Pilpres ini selesai, saya mendeklarasikan diri untuk menjadi oposisi. Itu pilihan nurani yang menurut saya bisa saya pertanggungjawabkan baik secara moral maupun rasional.

Saya kira, sangat jelas ya. Kita akan memilih Presiden. Dari beberapa komentar, saya melihat ada desakan untuk menelusuri siapa pejabat yang membekingi pemberian grasi ini.

Untuk itu, BERHENTILAH memberikan permakluman dan permaafan kepada Jokowi.  BERHENTILAH mengatakan bahwa ini adalah kesalahan bawahannya. BERHENTILAH membikin alasan bahwa dia berada pada posisi sulit karena harus mengakomodasi banyak kepentingan dan membuat kompromi dengan para fundamentalis Orde Baru.

Jokowi adalah Presiden. Dia adalah eksekutif utama negeri ini. Dia yang bertanggungjawab atas seluruh jalannya pemerintahan. Mintalah tanggungjawab kepada siapa yang seharusnya memikul tanggungjawab. Jangan memberikan permakluman dan permaafan.

Demokrasi adalah soal akuntabilitas, yakni bahwa penguasa harus bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya. Prabowo sudah gagal dalam soal akuntabilitas ini bahkan sejak dia belum terpilih menjadi presiden. Jadi, untuk saya, tidak alasan rasional maupun moral apapun untuk memilihnya.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Albino: Mistik dan Ide Kuno

Pada tahun 2018, National Geographic mengeluarkan laporan yang menyuarakan adanya sikap diskriminasi terhadap Albinisme. Sejatinya, Albino merupakan sebutan kepada orang-orang yang memiliki perbedaan genetik...

Mudik: Tradisi Nasional Indonesia

Aktivitas masyarakat di Indonesia yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan selain menjalankan puasa adalah melakukan perjalanan mudik dan kemudian berlebaran di kampung halaman. Puasa...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.