OUR NETWORK
Rabu, Oktober 5, 2022

Ali Mochtar Ngabalin Cawapres Jokowi, Kenapa Tidak?

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Siapa Cawapres Jokowi yang ideal? Beberapa saat saya punya pertanyaan itu. Saya akhirnya mencari siapa kira-kira figur ideal. Saya tidak bicara ideal secara politik. Artinya, orang yang bisa diterima oleh para elite partai dan para oligarkh yang menguasai negeri ini. Saya bicara soal kemampuan. Soal naluri politik (gut feeling). Soal kemampuan membangkitkan kegairahan. Soal kemampuan berbicara dan kemampuan menarik perhatian orang.

Menurut saya, wakil presiden Jokowi harus orang yang muda. Tidak ada gunanya memiliki wakil presiden yang umurnya lebih dari 70 tahun, misalnya. Presiden ini sudah berpengalaman memerintah selama 5 tahun. Dia sudah tahu persis peta politik Jakarta.

Selama ini presiden terlihat terampil mengayuh di antara karang dan onak duri politik. Menurut saya, keterampilannya ini jauh lebih hebat dari Soeharto. Karena apa? Karena presiden yang sekarang ini tidak punya senjata yang dia pakai untuk menodong lawan-lawannya.

Presiden ini juga tampaknya menguasai dan memegang kendali penuh atas kabinetnya. Selama ini, kecuali sebentar di masa-masa awal, tidak ada saling potong dan saling tabrakan antara anggota kabinet. Artinya, mereka terkoordinasi dengan baik. Program-program presiden jalan. Dan para anggota kabinet tampaknya menyampaikan hasil (delivered) yang juga lumayan bagus.

Jika semua hal itu sudah berjalan dengan baik, wakil presiden macam apa yang dibutuhkan Jokowi? Menurut saya, presiden ini sebenarnya membutuhkan seorang wakil yang bisa menjelaskan kepada publik segala macam kebijakannya. Dia adalah jurkam dan sekaligus humas tertinggi bagi presiden. Dia sekaligus juga adalah penjaga dan pembela presiden yang paling tangguh. Dia juga bisa menjadi penyerang yang lihai untuk oposisi. Dia bisa menyampaikan hal-hal rumit dalam kebijakan dengan bahasa yang jelas dan dipahami publik.

Tidak banyak orang yang berada dalam kualitas itu. Salah satunya adalah Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si.

Kaget? Boleh. Asal jangan kejang-kejang.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton wawancara singkat BBC Indonesia dengan Ali Mochtar Ngabalin. Terus terang, ini pertama kali saya mengikuti gaya politisi ini dari dekat.

Kalau Anda sempat memperhatikan, lihatlah gayanya. Cara dia menceritakan bagaimana presiden memintanya untuk bergabung dengan KSP. “Beliau menelepon bulan puasa tahun lalu, Kawan!” katanya. Perhatikan sebutan egaliter ‘kawan’ itu. “Brader, bukan ujuk-ujuk seperti orang tidak punya apa-apa kemudian langsung datang!” sahutnya berapi-api.

Lihatlah kerlingan matanya. Juga gerakan tangannya yang seperti menari ketika mengucapkan “Quote and quote.” (Menit 1:02)

Dia kontroversial, iya. Dia bisa menjengkelkan, itu benar. Lihatlah jawaban dia atas tuduhan sebagai ‘kutu loncat.’ Dia menyergah, “Ini politik, kawan!” Politisi selalu berbohong. Yang membedakan seringkali adalah apakah kebohongan itu disampaikan dengan elegan atau tidak.

Ngabalin mengatakan, “Nyawa saya pertaruhkan kepada Bapak (presiden, maksudnya), sepanjang kebenaran dan kejujuran yang Bapak laksanakan.” Siapakah yang percaya bahwa ada orang yang beberapa tahun lalu menjadi pengkritik Jokowi paling keras dan kemudian sekarang berani mempertaruhkan nyawa untuk dia? Ngabalin mampu menyampaikannya dengan elegan.

Ditambah lagi dengan kondisionalitas, “Sepanjang kebenaran dan kejujuran.” Tentu kondisionalitasnya ini sangat sumir. Apakah yang benar dan jujur itu? Persoalan pendefinisian ini sangat sulit untuk dicari batasannya. Di kemudian hari, ketika kepentingannya berubah, dia bisa mencari celah bahwa kebenaran dan kejujuran sudah dicederai.

Dr. Ali Mochtar Ngabalin jadi cawapres Jokowi? Mengapa tidak? Dia Muslim. Dia mengaku bahwa dia ingin menjadi jembatan untuk umat Islam, atau paling tidak antara para mubaligh dengan pemerintah. Dia berpendidikan baik. Dia juga punya naluri politik yang bagus. Setidaknya terlihat dari pembacaannya terhadap situasi politik masa kini yang dilihatnya tidak punya masa depan untuk dirinya kalau terus berada di oposisi.

Mungkin yang lebih penting lagi adalah bahwa dia berasal dari Fakfak, Papua. Dr. Ngabalin mungkin akan membuat politik Indonesia semakin berwarna-warni. Walaupun kita tahu bahwa Dr. Ngabalin tidak banyak bicara soal bangsa Papua dan penderitaannya. Namun, hal seperti itu tentu bisa dipelajari.

Apakah Dr. Ngabalin punya kans? Mungkin tidak. Namun setidaknya, dengan memikirkan kemungkinnya, kita merangsang otak kita berpikir tentang wakil presiden yang pantas untuk Jokowi. Saya melihat banyak pembantu dekat presiden justru tidak membela presiden ketika terdesak. Ali Mochtar Ngabalin terbukti mampu melakukan itu.

Bukan begitu?

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.